Labels

Hendi Rusli's Blog Founded on October, 2008
Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Friday, January 7, 2011

BACKGROUND OF HEGEL

Tulisan berikut ini adalah tulisan kedua saya mengenai Hegel. Dalam bagian ini saya mencoba meninjau latar belakang dari Hegel.

Latar belakang pemikiran Hegel sangat terkait erat dengan Revolusi Perancis. Menurut Herbert Marcuse,[1] Hegel menulis filsafat secara umum sebagai respon atas tantangan Revolusi Perancis yang ingin menata kembali negara dan masyarakat di atas dasar rasional, dengan harapan bahwa institusi sosial dan politik dapat berjalan dengan kebebasan dan kepentingan individu. Revolusi Perancis tidak hanya menghapuskan absolutisme feodal, tetapi juga membebaskan individu untuk menjadi mandiri dan tidak tergantung lagi pada orang lain atau faktor luar yang mempengaruhinya. Kebebasan itu menyebabkan eksistensi manusia dengan segala pergumulannya, baik kesenangannya, cara kerja, dan semua yang dilakukannya tidak lagi bergantung pada otoritas-otoritas dari luar yang selama ini membatasi kebebasannya, tetapi kini digantikan oleh aktifitas rasionalnya sendiri yang merdeka.

Hegel memandang bahwa Revolusi Perancis memainkan peranan penting dalam manusia menggunakan nalarnya, serta berani menundukkan realitas menurut standar yang rasional.[2] Hegel menghubungkan konsep rasionya (intelek/nalar) dengan Revolusi Perancis, bahwa “tidak ada yang bisa dianggap sah dalam konstitusi kecuali ia dinilai benar oleh rasio”.[3] Rasio bagi Hegel adalah sebagai tolok ukur yang menentukan suatu peraturan dapat dipakai atau tidak, atau dengan perkataan lain suatu peraturan akan sah bila masuk akal atau rasional.
Hegel kemudian berbicara mengenai “kesadaran universal” dan “Roh Absolut”. Thomas Hidya Tjaya[4] memaparkan dua alasan mengapa Hegel berbicara hal ini. Pertama, di Eropa pada abad ke-19 sedang berkembang orientasi budaya yang baru, yaitu aliran romantik (romanticism) yang menekankan pembebasan emosi manusia dan ungkapan bebas kepribadian dalam karya-karya artistik. Gerakan ini (lihat footnote 61) merupakan kritik atas zaman rasionalisme pencerahan yang mengagung-agungkan peranan akal budi. Alasan kedua, pada periode yang hampir bersamaan, Eropa mengalami perang dan pergolakan. Di antaranya adalah Revolusi Inggris (1688) yang mengikis habis hak-hak ilahi para raja. Kemudian Revolusi Perancis (1789-1799) yang menghancurkan kekuasaan monarki yang selama ini didukung dan dilanggengkan oleh pihak gereja. Hegel mengalami pergolakan ini, namun ia memandangnya sebagai kelahiran dunia baru, yaitu realisasi dari apa yang ia sebut sebagai “Roh”,[5] yang bertujuan menyempurnakan umat manusia melalui kebebasan yang diperoleh dari perang yang terjadi di mana-mana. Perjuangan demi kebebasan bagi Hegel adalah bentuk kesadaran manusia yang baru, yang akan terjadi pada semua orang (bersifat universal) sebagai manifestasi diri dari “Roh”. Dan gerak “Roh” inilah yang kemudian akan menjadi tema utama dalam sistem filsafat Hegel.

Meskipun Hegel hidup di era romantisisme sebagaimana disinggung di atas, filsafat Hegel tidak bercorak romantik. Filsafat Hegel lebih kental dengan warna idealisme,[6] di mana pemikirannya dipengaruhi oleh filsuf-filsuf Jerman yang lebih dulu bergulat di dunia filsafat. Salah satu tokoh yang sangat mempengaruhi idealisme Jerman adalah Immanuel Kant. Dalam uraian Hamersma[7] Kant mencoba mendamaikan antara empirisme (yang bertolak dari pengalaman indera) dengan rasionalisme (yang bertolak dari akal budi). Ia menekankan bahwa pengetahuan selalu merupakan “kerja sama” antara kedua unsur ini – indera dan akal budi, dan pengetahuan selalu merupakan sebuah sintesis. Hamersma mengutarakan bahwa Kant yang mempersatukan rasionalisme dan empirisme dalam suatu sintesis merupakan titik pangkal suatu periode baru, yaitu zaman idealisme (khususnya di Jerman). Menurut Kant,[8] pengalaman kita mengenai dunia ditentukan oleh struktur akal-budi. Kant membedakan antara “dunia-penampakan” (fenomena) dengan “dunia-pada-dirinya-sendiri” (noumena). Misalnya, jika kita memakai kaca mata merah, maka semua yang nampak (fenomena) akan berwarna merah, meskipun apa yang kita lihat belum tentu berwarna merah (noumena). Menurut Kant, “dunia-pada-dirinya-sendiri” tidak dapat diketahui oleh manusia. Dalam idealisme setelah Kant (poskantian), yang dibangun oleh Fichte, Schelling dan kemudian Hegel, konsep tentang adanya “dunia-pada-dirinya-sendiri” ditolak. Mereka, khususnya Hegel telah mengembangkan filsafat yang berpusat pada dunia kesadaran, yaitu kesadaran universal yang bekerja di alam dan dalam kesadaran manusia.[9] Dalam pandangan idealisme Hegel, apa pun yang nyata pasti dapat diketahui.[10]

Tokoh berikutnya yang cukup mempengaruhi Hegel adalah Fichte dan Schelling. Menurut pandangan Fichte,[11] dalam filsafat ada dua “jalan raya”, yaitu jalan idealisme dan jalan materialisme. Idealisme beranggapan bahwa objek-objek diberi “bentuk” oleh “subjek” (akal - manusia). Sedangkan materialisme sebaliknya, benda atau objek-objek yang memberi “bentuk” kepada akal melalui pengamatan. Dari antara kedua jalan tersebut, Fichte memilih jalan idealisme, yaitu Idealisme Subjektif. Ia juga mengkritik Kant, yang mengatakan bahwa benda-benda pada dirinya sendiri (das Ding an sich) berdiri lepas dari subjek. Fichte menekankan, sebagaimana dikemukakan Hamersma,[12] benda-benda (alam) atau objek tidak dapat berdiri sendiri lepas dari subjek, karena subjeklah yang benar-benar “menciptakan” objek atau benda-benda tersebut (das Ding fuer mich).

Schelling adalah orang ketiga yang cukup memberi pengaruh kepada pemikiran Hegel. Schelling mengajarkan Idealisme Objektif. Menurut Magee,[13] Schelling dalam karyanya Philosophy of Nature, mengambil pandangan yang bertentangan dengan Fichte: bukan alam atau benda-benda yang merupakan ciptaan aku (subjek-pikiran), tetapi sebaliknya, aku (pikiran) adalah ciptaan alam. Baginya, segala sesuatu adalah sebuah proses tunggal, proses alam sebagai suatu keseluruhan. Alam yang dimaksud Schelling di sini adalah tidak hanya terdiri dari materi yang berada dalam ruang dan waktu; namun dunia alam itu seperti sebuah organisme raksasa yang kaya dengan kehidupan dan potensi, yang berubah secara terus-menerus, tumbuh dan berkembang, dan manusia (subjek-aku) adalah bagian darinya. Gaarder berpandangan, bahwa alam yang dimaksud Schelling adalah apa yang disebut sebagai “Roh dunia”[14] yang nanti akan dibahas dalam filsafat Hegel. Hegel telah menggabungkan garis pemikiran Fichte dan Schelling di dalam kerangka dialektis menjadi Idealisme Absolut. Bagi Hegel, baik subjek maupun objek, keduanya aktif saling berinteraksi membentuk apa yang ia sebut sebagai “Roh Absolut”. Hal ini menurut Hegel, terjadi dalam kerangka intelek / Vernunft melalui dialektika, dari tesis, antitesis dan sintesis. Idealisme Subjektif Fichte dapat dipandang sebagai tesis, dan antitesisnya adalah Idealisme Objektif Schelling, keduanya menjadi sintesis di dalam Idealisme Absolut Hegel.


[1] Herbert Marcuse, Rasio dan Revolusi, terj. Imam Baehaqie (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 3.
[2] Marcuse, Rasio dan Revolusi, 3. Dalam bahasa Latin ratio berarti hubungan, pikiran. Dalam bahasa Yunani terdapat tiga istilah yang secara garis besar sama artinya: phronesis, nous, dan logos. Beberapa pengertian umum antara lain: 1) Kemampuan untuk melakukan abstraksi, memahami, menghubungkan, merefleksikan, memperhatikan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan, dsb. 2) Kemampuan untuk menyimpulkan. Rasio berbeda dengan kemampuan kehendak, kemampuan perasaan, kemampuan intuisi, dsb. Marcuse menggunakan kata “ratio” untuk menjelaskan kata Vernunft, sedangkan Tjahjadi menerjemahkan kata Vernunft dengan “intelek”. Sebenarnya kedua istilah ini terkait erat dan pada intinya sama, yaitu mengacu kepada kemampuan berpikir manusia (pikiran).
[3] Karl Marx, “Zur Kritik der Hegelschen Rechtsphilosophie” – Menuju Kritik terhadap Falsafah Hukum dari Hegel (Moskou: Franfurt M, 1927), 619 dikutip dalam Herbert Marcuse, Rasio dan Revolusi, terj. Imam Baehaqie (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 5.
[4] Thomas Hidya Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri (Jakarta: KPG, 2004), 6-9.
[5] Dalam bahasa aslinya (Jerman) adalah Geist; dalam bahasa Inggris diterjemahkan spirit, yang berakar dari bahasa Latin spiritus (roh, nafas). Istilah Yunaninya adalah psyche atau lebih tepatnya pneuma, istilah ini menunjuk pada prinsip kehidupan. Para ahli berpendapat bahwa sulit untuk mencari padanan kata ini dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Kata ini memiliki berbagai macam arti atau makna, misalnya: 1) prinsip hidup yang menggerakan setiap makhluk; 2) tekad batin atau kehendak; 3) pikiran atau kesadaran. Menurut Lorens Bagus, para filsuf kuno menganggap roh sebagai kegiatan pemikiran abstrak. Bagi Aristoteles misalnya, kegiatan roh tertinggi adalah pemikiran tentang pemikiran. Bagi mereka roh juga dianggap sebagai prinsip adirasional yang ditangkap secara langsung dan intuitif. Pandangan ini menurut Bagus berhubungan erat dengan agama. Menurut agama, roh tertinggi adalah Tuhan Ada Adikodrati, yang hanya bisa dikenal melalui iman. Filsuf lain seperti Telesio melihat bahwa roh adalah suatu distingsi awal – yang bukan merupakan ciri khas perkembangan-perkembangan kemudian. Telesio mengintrodusir ide roh sebagai materi halus dan prinsip seluruh gerakan alam semesta. Ide roh dengan pengertian ini sebenarnya telah dipahami dan terjadi dalam gerakan idelisme abad ke-19. Dan Fichte menyumbang pengertian semacam ini, dengan menyatakan bahwa tujuan kehidupan merupakan perkembangan tata rohani. Menurut Bagus, Hegel juga mempunyai tujuan yang sama. Hegel melihat roh sebagai kesatuan kesadaran-diri dan kesadaran yang dicapai dengan rasio. Ia juga menganggapnya sebagai kesatuan kegiatan praktis dan teoretis. Menurut Hegel, Roh mengatasi yang alamiah, yang inderawi. Roh memperoleh kediriannya dalam proses pengenalan-diri, dan sejarah adalah dialektika Roh.
[6] Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa dunia tergantung pada gagasan yang kita bangun, atau merupakan hasil dari kegiatan kesadaran kita. Idealisme merupakan sebuah istilah yang pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada awal abad ke-18. Ia menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, yang diperlawankan dengan materialisme Epikuros. Istilah ini juga menunjukkan filsafat-filsafat yang yang memandang yang mental atau ideasional sebagai kunci masuk ke hakikat realitas. Dari abad ke-17 sampai permulaan abad ke-20, istilah ini telah banyak dipakai dalam pengklasifikasian filsafat. Adapun beberapa pengertian idealisme antara lain: 1) teori bahwa alam semesta adalah penjelmaan pikiran, 2) realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala psikis seperti pikiran-pikiran, diri, roh, ide-ide, pikiran mutlak, dan seterusnya, yang jelas tidak berkenaan dengan materi, 3) realitas yang bereksistensi bergantung pada suatu pikiran dan aktivitas-aktivitas pikiran. Untuk lebih jelas, lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), 300-302.
[7] Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern (Jakarta: Gramedia, 1990), 27.
[8] Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, 6.
[9] Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, 6.
[10] Richard Osborne, Filsafat untuk Pemula, terj. P. Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanusius, 2001), 108.
[11] Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, 36.
[12] Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, 36.
[13] Bryan Magee, Memoar Seorang Filosof, terj. Eko Prasetyo (Bandung: Mizan, 2005), 617.
[14] Gaarder, Dunia Sophie, 392.

Tuesday, November 30, 2010

BIOGRAPHY OF HEGEL

Hegel dengan nama lengkap George Wilhelm Friedrich Hegel lahir di Stuttgart, Jerman pada tanggal 27 Agustus 1770.[1] Hegel hidup di era romantisisme[2] Jerman. Ia sempat belajar teologi sebelum mendalami filsafat. Ketika muda Hegel lebih tertarik pada mistisisme dan ia memandangnya secara luas, seperti sebuah intelek yang menampakan diri sebagai pengetahuan mistik.[3] Para pakar berpendapat bahwa sistem filsafat Hegel dipengaruhi juga oleh teologinya. Roger Scruton, dalam A Short History of Modern Philosophy mengatakan bahwa Hegel adalah seorang filosof idealis berlatar belakang teolog, dan pada dirinya terpadu dua struktur bangunan intelektual, yaitu teologi dan idealisme postkantian. [4]


Karier akademik Hegel mulai kelihatan ketika ia menjadi tenaga pengajar di Universitas Jena. Menurut Gaarder,[5] sebelum ia memulai kariernya di Jena, Hegel pada usia delapan belas tahun telah belajar teologi di Tubingen. Di Tubingen Hegel Mulai menaruh perhatian pada hubungan antara teologi dan filsafat.[6] Kemudian pada tahun 1799, ia mulai bekerja dengan Schelling di Jena ketika Gerakan Romantik mengalami pertumbuhan yang pesat. Dan setelah menjalani satu periode sebagai asisten profesor di Jena, ia diangkat menjadi profesor di Heidelberg tahun 1816,[7] tempat di mana pusat Romantisisme Nasional Jerman berada. Pada tahun 1818 ia diangkat menjadi profesor di universitas Berlin. Di Berlin ia menjadi sangat terkenal dan kariernya terus memuncak, bahkan ia disebut sebagai “professor professorum”. Hegel meninggal pada tanggal 14 November 1831, karena penyakit kolera yaitu “kolera jenis paling intensif”.[8]

[1] Roger Scruton, “A Short History of Modern Philosophy”, (London: Search Press, 1963), 159. Dikutip dalam Zubaedi, Filsafat Barat: Dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 85.
[2] Romantisisme merupakan suatu gerakan merentang dari akhir abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19. Romantisisme meliputi dan mempengaruhi kehidupan spiritual dalam segala dimensinya. Gerakan ini secara historis sebenarnya adalah reaksi dari Zaman Pencerahan yang menekankaan dan bertitik tolak dari akal sebagai pangkal dari segala sesuatu. Antara romantisisme dan idealisme Jerman terdapat pengaruh timbal balik yang besar dan sejumlah pertentangan. Untuk lebih jelas, lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), 959-964.
[3] Bertrand Russel, History of Western Philosophy (London: George Allen and Unwin LTD, 1946), 757.
[4] Dr. Zubaedi, Filsafat Barat, 85. Idealisme poskantian adalah idealisme setelah Kant, yang dibangun oleh Fichte, Schelling dan Hegel. Mereka menolak konsep adanya “dunia-pada-dirinya-sendiri”.
[5] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1996), 392.
[6] G.W.F Hegel, Hegel: Nalar Dalam Sejarah, peny. Robert S. Hartman (Jakarta: Teraju Mizan, 2005), xii.
[7] Russel, History of Western Philosophy, 757.
[8] Simon-Petrus L. Tjahjadi, tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan: Dari Descartes Sampai Whitehead (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 73.

Saturday, January 2, 2010

FILSAFAT ITU GELISAH


Oleh: Sindhunata
(diambil dari majalah BASIS, Nomor 09-10, Tahun ke-58, September-Oktober 2009, hal. 3)

Tak ada kata berhenti bagi filsafat. Filsafat selalu mencari. Karena itu siapa berfilsafat, ia selalu resah. Tak mungkin ia menepiskan keresahan itu dari hidupnya. Tak jarang keresahan itu menuntunnya berdiri di jurang tanda tanya: benarkah yang saya pegang selama ini? Jika tidak, ia pun akan nekad terjun ke jurang tersebut, dan bergulat lagi dengan pertanyaan yang makin giris dan menggugat pegangan hidupnya selama ini.

Hal itulah yang dialami Nietzsche. Ia berpendapat, manusia ini ditandai dengan “tanda tanya”. Dan menurut dia, tanda tanya itu adalah keingingintahuan yang amat berbahaya. Didorong oleh keingintahuan itu, setelah sembuh dari sakit yang berat, Pada tahun 1886, Nietzsche bertanya, dapatkah orang menjungkirkan dan memutar semua nilai yang selama ini jadi pegangannya? Kalau ya, tidakkah yang baik itu adalah yang jahat? Dan Tuhan, hanyalah penemuan dan akal licik dari setan belaka? Adakah semua hal pada dasarnya adalah salah? Jika kita adalah pihak yang tertipu, tidakkah justru karena itu kita juga adalah pihak yang menipu? Tidakkah kita semua adalah penipu?
Selalu bertanya, dan karenanya juga siap senantiasa untuk berubah, itulah yang dilakukan oleh filsuf Polandia, Leszek Kolakowski (81), yang baru saja meninggal dunia, bulan Juli 2009 lalu. Kolakowski dilahirkan pada 1927 di kota industry, Radom. Semasa invasi Jerman di Polandia tahun 1945, Kolakowski yang waktu itu belum genap delapan belas tahun, hanya punya satu keinginan, yakni menjadi komunis. Maklum, ia anti Gestapo, yang telah membunuh ayahnya. Dan ia anti-kapitalisme, yang pada hematnya telah menyediakan tanah yang subur bagi tumbuhnya rezim otoriter Hitler. Hanya komunismelah yang bisa menentukan masa depan. Kolakowski lalu masuk dalam organisasi kepemudaan Partai Komunis. Semboyan “Perdamaian, kesamarataan, dan kebebasan” dipegangnya untuk melawan khayalan filasafat katolik dan kaum borjuis yang sedang melapuk.

Kolakowski yang muda dan cerdas itu menjadi bintang harapan para kamerad dan fungsionaris partai. Ternyata dengan tajam ia mulai mengkritisi ajaran partai dan berpendapat, marxisme harus direformasi. Lebih daripada anggota partai, Kolakowski adalah seorang filsuf. Maka wajar bila ia lebih mengutamakan akal dan pemikiran daripada doktrin partai. Ia berpendapat, adalah penghinaan terhadap akal manusia, bahwa komunisme mengidentikkan kebenaran dengan penyangga kebenaran, yakni kaum proletariat. Kolakowski menjadi makin provokatif, ketika ia mengkritik dan bersikap negatif terhadap apa saja yang dimutlakkan, termasuk absolutisme proletariat. Ia bilang, lebih baik ia mengambil posisi yang dianggap sinting daripada melalaikan kehati-hatian dan kecurigaan terhadap klaim-klaim absolutis (Thomas asssheuer, die Zeit, 23 Juli 2009).

Tahun 1966, Kolakowski memihak mahasiswa dan menentang cara-cara teror yang dilakukan komunis untuk membentuk pendapat masyarakat. Ia pun dicap revisionis dan intelektual yang nihilistis. Ia meracuni pikiran anak-anak muda, seperti yang dilakukan Sokrates. Ia terus melakukan perlawanan dengan pemikirannya yang kritis. Dan lahirlah masterpiece-nya yang mendapat reputasi internasional, yakni tiga seri tebal tentang aliran-aliran pokok dalam marxisme. Dalam karyanya ini, Kolakowski melucuti penipuan-penipuan yang dilakukan oleh ajaran marxisme yang ortodoks. Tudingnya, mereka telah mengubah dan memanipulasikan harapan-harapan manusia yang penuh dengan tanda tanya menjadi kebenaran-kebenaran yang absolut. Mereka seakan menjemput kebenaran-kebenaran itu dari tabernakel masa depan, padahal sebelumnya mereka sendiri sudah meletakkan kebenaran-kebenaran tersebut. Marxisme bermula dengan upaya peluhuran manusia, tapi berakhir dengan tragedi yang berdarah. Itulah yang terjadi dengan stalinisme, di mana manusia dinistakan dalam perbudakan dan penghambaan yang feodal, di mana kehidupan manusia dibenamkan dalam samudra pembohongan. Ramalan-ramalan marxisme ternyata berakhir dengan kebohongan. “Marx pasti tidak mengasosiasikan komunisme dengan Gulag. Tapi komuisme terlaksana sebagai Gulag, itu semuanya pasti bukan kebetulan,” kata Kolakowski.
Di mata Kolakowski, marxisme tak ubahnya seperti teologi dan pendirian pseudo-religius, yang suka bermain-main dengan imajinasi dan spekulasi masa depan. Kolakowski mengatakan, bukan keadilan tapi kebebasanlah nilai tertingggi bagi manusia. Ia menjauhi kebenaran-kebenaran marxisme yang pseudo-religius itu. Yang harus dilakukan manusia adalah menyegarkan kembali pencerahan budi, demokrasi kekuasaan, dan pembagian yang adil dari sumber daya alam yang terbatas.

Tahun 1989, komunisme benar-benar gulung tikar. Dan Francis-Fukuyama merayakan kejatuhan itu sebagai akhir sejarah, di mana satu-satunya yang bakal berjaya meraja adalah kapitalisme dan demokrasi. Kolakowski tidak ikut di dalam perayaan tersebut. Baginya, kapitalisme Barat tetaplah dihidupi oleh kepalsuan, di mana berkuasa setan-setan lama, yang menggoda manusia untuk mendewakan dirinya sendiri tanpa batas. Dalam kapitalisme, manusia tidak hidup dalam kebebasannya. Sementara derajat dan kemampuan akal manusia sudah diturunkan menjadi alat untuk mengejar kepentingan dirinya. Kata Kolakowski, sekarang kita tidak takut lagi akan komunisme tapi akan serba ketidakpastian, karena kita telah menggerogoti dasar-dasar terdalam hidup kita, di mana seharusnya dibangun kepercayaan akan kehidupan. Kepercayaan itu hilang. Gantinya adalah ketakutan yang serba tidak jelas dan menentu.

Kolakowski juga mengkritik pemikiran liberal yang merebak dalam kapitalisme. Pemikiran liberal yakin, bahwa yang jahat bisa ditiadakan begitu saja. Menurut Kolakowski, itu mustahil sebab yang jahat itu masuk lewat celah dunia, yang tidak kita ketahui tapi harus kita waspadai. Pendeknya, kita harus bisa hidup dalam konflik di antara yang baik dan yang jahat. Konflik itu membuat kita berani menerima perbedaan dan ketidakcocokan. Itulah dasar toleransi, yang akan membuat kita memeluk kebaikan tanpa kecurigaan, menjadi berani tanpa fanatisme, hidup dengan kecerdasan tanpa keraguan, serta memupuk harapan tanpa selimut khayalan.
Begitulah Kolakowski, filsuf yang terus gelisah sampai akhir hayatnya. Memang, kegelisahan yang terus bertanya adalah ciri khas filsafat.

Tuesday, December 23, 2008

MENGAPA ADA PERSOALAN?

Mengapa ada persoalan? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, karena setiap manusia memiliki masalah yang berbeda-beda soal dan sebabnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan lagi, dari mana soal dan sebab yang berbeda-beda itu? Bagi orang tertentu, adanya persoalan mungkin karena uang, jabatan, atau pun harta, atau dengan kata lain karena adanya keinginan terhadap sesuatu (materi), tetapi bagi yang lain mungkin hal itu bukan persoalan. Apakah persoalan itu memang bersifat relatif atau subyektif?

Pembahasan berikut ini akan meninjau bagaimana persoalan itu ada. Ada tiga hal yang akan dibahas, yang sekiranya mendekati jawaban “mengapa ada persoalan?” : 1) materi; 2) manusia; 3) hukum alam (tentunya masih banyak faktor lainnya di samping ketiga faktor ini).


1. Materi
Salah satu sebab persoalan manusia adalah materi. Dalam kajian-kajian ilmu filsafat, materi bukan hanya dipandang sebagai harta benda atau yang berhubungan dengan kekayaan, tetapi juga segala sesuatu yang tidak bersifat rohani/roh, bukan hal yang abstrak. Semua hal yang nampak, yang kelihatan, yang berbentuk atau yang disebut sebagai bendawi bisa dikatakan sebagai materi.

Dalam ajaran filsafat Yunani manusia adalah makhluk dualisme yang terdiri dari roh/jiwa (dalam ilmu teologi ada teori yang mengatakan bahwa jiwa dan roh berbeda/terpisah) dan daging/materi. Materi dipandang rendah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan materi dapat membawa penderitan atau persoalan bagi manusia. Manusia dituntut untuk hidup asketis, hal ini kita kenal juga dalam surat-surat Paulus dalam menjawab pergumulan jemaat karena pengaruh dari filsafat Yunani tersebut (asketis). Tubuh manusia juga adalah materi (bagian terkecil dari tubuh kita adalah sel yang disusun oleh materi-materi yang lebih kecil kemudian membentuk jaringan – organ – system organ – organisme/individu), oleh karena itu segala keinginan-keinginan dari tubuh harus dimatikan dengan cara asketis yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan rohani.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa sebenarnya hidup manusia tidak bisa lepas dari materi, karena tubuh manusia sendiri disusun oleh materi. Setiap kegiatan yang manusia lakukan akan terjadi interaksi antar materi, dan interaksi yang menyimpang itulah yang disebut persoalan bagi manusia. Misalnya, seorang ibu sedang mengiris bawang di dapur (memasak). Ibu tersebut melakukan interaksi dengan materi, ia menggunakan pisau, talenan, mungkin juga meja, ia menginjak lantai didapur, semua yang ada di dapur mempengaruhi si ibu. Semua hal-hal yang ada di dapur (materi: pisau, telenan dsb.) dapat menimbulkan persoalan bagi si ibu, misalnya jari tangan si ibu terpotong ketika ia mengiris bawang. Demikian juga dengan tubuh kita, tubuh kita pun melakukan interaksi antar materi, misalnya dalam sistem organ : jantung; pembuluh darah; sel darah; paru-paru; O2 / udara; kulit; pori-pori kulit; ginjal; air dan semua yang menyusun tubuh kita rentan dengan interaksi dan berpotensi untuk menimbulkan persoalan, sebagai contoh jika interaksi jantung sebagai pemacu darah menjadi lemah/lambat (menyimpang) maka akan menimbulkan persoalan bagi bagian-bagian yang lainnya atau dengan kata lain dapat menimbulkan penyakit bagi kita.

2. Manusia

Jawaban yang kedua adalah manusia. Ulah manusia kerap kali mendatangkan persoalan baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri, hal ini tercermin dari bencana alam yang menimpa manusia itu sendiri, contoh sederhananya adalah bencana banjir atau longsor misalnya. Manusia memiliki potensi untuk tanpa perhitungan menebangi hutan sampai gundul, padahal hutan berfungsi untuk menyerap air hujan dan dapat menahan tanah agar tidak longsor. Kalau dilihat sepintas persoalan itu seolah-olah ditimbulkan oleh alam, tetapi sebenarnya hal itu juga adalah hasil ulah manusia itu sendiri.

Manusia pun bergumul dengan dirinya sendiri, karena manusia adalah makhluk yang berakal budi, berpikir dan berperasaan sehingga ia selalu mempertanyakan apa yang ia lihat, rasakan dan juga apa yang terjadi pada dirinya. Semakin ia mempertanyakan banyak hal, sebenarnya semakin banyak persoalan yang harus ia pecahkan, contohnya adalah seorang filosof. Bagi kebanyakan orang melihat seekor semut bukanlah persoalan, tetapi bagi seorang filosof hal itu bisa menjadi persoalan. Kalau begitu apakah hidup manusia itu adalah persoalan?
Dalam refleksi imannya, penulis suci Alkitab Kristen dalam Kejadian 3:6 mengatakan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa, manusia berada di dalam persoalan. Dosa adalah persoalan/masalah dan bukanlah hal yang keterlaluan jika kita katakan bahwa segala persoalan yang menimpa manusia berasal dari dirinya sendiri.

Jadi jelaslah jika persoalan itu datang dari manusia itu sendiri, jawaban untuk persoalan manusia adalah manusia itu sendiri. Kebahagiaan manusia berasal dari dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan Tuhannya dan yang terutama berdamai dengan orang lain.

3. Hukum Alam

Jawaban yang ketiga atas persoalan manusia adalah hukum alam. Jika manusia berlaku baik kepada alam maka alam pun akan berlaku ramah, sebaliknya jika manusia berlaku tidak baik terhadap alam maka alam pun tidak bersahabat lagi dengan manusia. Hukum alam akan mempengaruhi kehidupan manusia, dan sebaliknya setiap tindakan manusia terhadapnya akan mempengaruhi dirinya. Sehingga interaksi tersebut memungkinkan terjadinya persoalan. Mungkin akan lebih jelas jika kita melihat contoh-contoh berikut ini: a.) tanah longsor atau banjir bisa disebabkan oleh karena manusia memperlakukan alam dengan seenak hatinya, misalnya membuang sampah pada selokan-selokan atau di sungai; manusia menebang pohon/hutan dengan membabi buta, yang selain menyebabkan banjir dapat juga menyebabkan longsor; b.) Bencana yang terjadi seperti tsunami adalah hukum alam yang diluar kuasa manusia, dsb. Jadi hukum alam dapat menjadi persoalan karena ulah manusia dan tanpa ulah manusia.

RefleksiSikap yang bijak untuk menyikapi persoalan adalah dengan hidup bersamanya dan menghadapinya. Kita tidak bisa lepas dari persoalan, karena kita adalah makhluk yang mengada. Kita akan selalu bersentuhan dengan apa yang ada di sekitar kita, dan interaksi tersebut tidak dapat dihindari. Kemanapun kita melarikan diri dari persoalan, persoalan itu akan selalu ada bersama kita. Jadi hadapilah persoalan dengan segala yang kita miliki...selamat berjuang!!