Labels

Hendi Rusli's Blog Founded on October, 2008

Tuesday, September 8, 2009

PERJANJIAN LAMA terhadap SEKITARNYA


I. Siapakah TUHAN, Allah Israel?

Perkembangan atau Perubahan? 

Dalam bahasan ini Perjanjian Lama (PL) akan ditinjau dari sudut pandang evolusi. Paham tentang PL sebagai suatu perkembangan atau dipahami sebagai suatu perkembangan (evolusi). Pemahaman ini dimulai di Eropa dan Amerika. Penganut paham ini memahami bahwa dalam setiap bidang kehidupan terjadi perkembangan secara berangsur-angsur, yakni dari taraf yang rendah ke taraf yang lebih tinggi. Seorang ahli yang menganut paham ini mengatakan demikian, “kini kita mengetahui bahwa setiap paham yang terdapat di Alkitab dimulai dengan cara yang primitif dan bersifat kekanak-kanakan, kemudian berkembang dengan teratur dan mencapai puncaknya dalam Injil Kristus...” Dari sudut pandang ini PL dipahami sebagai suatu proses pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan rohani manusia yang selalu meningkat, sehingga pengertian tentang Allah semakin baik dan dalam. Namun pemahaman ini dibantah, dengan alasan sebagai berikut: 1) PL bukanlah buku pegangan bagi perkembangan agama yang bertaraf rendah ke taraf yang lebih tinggi, melainkan buku yang memuat kisah tindakan Allah terhadap umat-Nya. 2) PL sama sekali tidak menaruh minat pada proses evolusi yang dipergunakan sebagai kunci pembuka rahasia agama, sebab paham ini tidak dapat menjelaskan fakta bagaimana lahirnya sebuah persekutuan orang-orang beragama. 3) Seorang penyelidik agama, Rudolf Otto mengatakan bahwa, “Dalam sejarah ada sesuatu yang memberi corak dan “sesuatu” inilah yang membuatnya sungguh-sungguh menjadi sejarah”. Jika “sesuatu” ini dikaitkan dengan sejarah Israel dalam PL maka yang dimaksud adalah penyataan Allah dan pengikraran perjanjian-Nya di Sinai. Inilah awal perubahan total yang dapat dibandingkan dengan revolusi dan perubahan secara keseluruhan sebagai isi dari kepercayaan Israel.

Politeisme Di Sekitar Israel

Dari keterangan arkeologi kita dapat memastikan bahwa pada tahun sebelum 4000 SM sudah terdapat kuil-kuil di Timur Dekat Kuno sebagai tempat di mana ilah-ilah disembah. Kemudian sumber-sumber tertulis juga memberi keterangan bahwa, di Mesopotamia maupun di Mesir, dan juga di Siria-Palestina (millenium ke-3) telah terdapat politeisme bertaraf tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa alam semesta telah dianggap sebagai sesuatu yang berpribadi. Mereka mengadakan hubungan dengan kuasa-kuasa itu melalui pengalaman mereka yang merasakan bukti-bukti kuasa tersebut. Mereka menyadari hidupnya bergantung kepada kuasa-kuasa itu. Mereka memahami bahwa kuasa-kuasa/dewa-dewa itu tak terkatakan banyaknya. Di Mesopotamia misalnya terdapat ribuan dewa. Dewa-dewa tersebut dipercaya sebagai yang mengatur kosmos. Manusia dituntut untuk menjaga keseimbangan antara kuasa-kuasa tersebut dengan dewa-dewa.


Teologi Israel
Dalam PL pemujaan tidak lagi didasarkan pada kuasa-kuasa alam yang dapat mengancam. Akan tetapi pemujaan difokuskan hanya kepada Yahwe yang kepadanya kuasa-kuasa alam tersebut takluk. Langit, gunung, matahari dsb tidak lagi disembah namun semua itu dipahami sebagai yang menceritakan kemuliaan Allah. Yahwe dikenal dan dipuja oleh bangsa Israel bukan karena sebagai pemberi hujan, kesuburan, terang dsb; tetapi karena ia telah memilih Israel menjadi umat-Nya.
Hal lainnya yang menjadi keistimewaan teologi Israel dapat kita lihat misalnya mengenai keilahian yang tidak dinyatakan dengan jalan bayangan jenis kelamin sebagaimana yang terdapat dalam agama Kanaan. Namun demikian, PL juga menggambarkan Allah seperti manusia, memiliki bibir dan lidah, nafas, tangan dsb.

Kepercayaan Israel Sebagai Monoteisme
Kepercayaan Israel yang monoteisme (menyembah satu Allah) sebenarnya saling bertentangan dengan kepercayaan yang ada di sekitar Israel yaitu politeisme (menyembah banyak allah). Namun sebenarnya istilah monoteisme berasal dari pengertian filsafat Yunani. Tetapi meskipun demikian kita dapat mengacu kepada beberapa hal mengenai kepercayaan Israel. Pertama, Israel tidak pernah tiba pada suatu filsafat yang mempersoalkan jumlah Allah atau ilah tetapi yang menjadi penekanan adalah Israel telah dikuasai oleh kehadiran dan kuasa Allah yang esa di tengah banyak allah yang disembah oleh lingkungan di sekitarnya. Kedua, bahwa pokok istilah “monoteisme” sebenarnya adalah praktik monolatri, yaitu kebaktian khusus kepada Yahwe. Kebaktian ini hanya boleh ditujukan kepada Yahwe saja.

II. Apakah Yang Diperbuat TUHAN, Allah Israel ?

Penyataan
Pengetahuan tentang Allah tidak mungkin dapat dipisahkan dari pengetahuan tentang keselamatan. kita mengetahui tentang Allah melalui penyataan-Nya, yaitu perbuatan-perbuatan Allah untuk menyelamatkan umat (Israel). Dan tindakan-tindakan Allah selalu bersifat soteriologis (menyelamatkan), yaitu menolong, melepaskan dan memerdekakan. Namun meskipun demikian, hubungan antara Allah dengan ciptaan seringkali terjadi ketegangan besar. Penyataan Allah melalui kehendak-Nya seringkali diabaikan oleh ciptaan. Oleh karena itu menurut Alkitab, Allah telah menciptakan kehidupan sosial agar kehendak dan hukum-Nya dinyatakan. Allah memberikan hukum-Nya untuk mengatur ketertiban kehidupan sosial. Jadi dapat disimpulkan bahwa penyataan Allah juga ada di dalam Hukum yang diberikan kepada umat. Di samping itu penyataan Allah yang nyata dalam perbuatan-Nya dapat dimengerti ketika Allah berfirman untuk menjelaskan penyataan-Nya tersebut. Bangsa Israel yang dapat keluar dari Mesir tidak menyadari bahwa semua itu karena perbuatan tangan Tuhan yang menolong mereka. Namun, Tuhan menyadarkan mereka melalui firman yang diberikan-Nya kepada Musa sehingga mereka menyadarinya.

Pemilihan
Pemilihan Allah atas umat-Nya yaitu Israel tidak bisa dipahami sebagai sesuatu yang tidak adil dan pilih kasih. Dan tidak juga sebagai pengutamaan atau pengistimewaan segolongan manusia tertentu dari pihak Allah. Namun jika kita bertolak dari Ulangan 9:5-6 nyata bahwa Allah tidak pernah bermaksud untuk meninggikan suatu bangsa di atas bangsa yang lain berdasarkan keadilan-Nya. Namun sebaliknya, pemilihan Allah dapat merupakan suatu beban, yakni beban berat atas kehidupan Israel. Allah memang telah memilih Israel sebagai umat pilihan, tetapi Israel harus membayar dengan harga yang sangat mahal dan Israel harus pula menderita untuk menjadi bangsa pilihan Allah. Konsekuensi sebagai umat pilihan Allah adalah kesetiaan. Israel yang memberontak membuat Allah menyerahkannya kepada kehinaan, musuh-musuh di sekitarnya, kekalahan yang terus-menerus sebagai suatu pembelajaran bagi umat. Bahkan Israel sendiri sebagai umat pilihan mempertanyakan “mengapa Allah telah memilih kami?” dan pertanyaan ini mau menyatakan kehinaan dan kerendahan Israel sebagai umat pilihan. Namun demikian, Allah pada akhirnya selalu menolong pergumulan mereka.

Perjanjian
Perjanjian merupakan wujud di mana pemilihan Allah dikonkritkan sehingga dapat dilihat. Dalam perjanjian itu juga serentak terdapat jawab manusia atas pemilihan Allah. Perjanjian yang menggunakan istilah “berith” dalam bahasa Ibrani mendapat arti yang unik dalam sejarah perjanjian Israel, yakni untuk menyifatkan yang sangat istimewa antara Yahwe dan Israel. Dalam memahami teologi perjanjian ini, kita perlu meperhatikan beberapa hal, yaitu:
- Allah adalah satu-satunya pemberi perjanjian. Ia tidak memaksakannya melainkan menawarkannya.
- Perjanjian merupakan ikatan persekutuan antara Allah dan bangsa Israel.
- Perjanjian bukanlah merupakan ikatan alami antara Allah dengan bangsa, seperti terdapat dalam agama-agama Timur Kuno. Namun Perjanjian ini didasarkan kepada sejarah yang berlangsung antara Yahwe dengan Israel dan atas dasar perbuatan-perbuatan Allah yang berkuasa dan melepaskan Israel sebagai umat-Nya.
- Yahwe adalah tetap menjadi Allah yang kudus yang berkehendak menyucikan umat-Nya. Israel tidak suci dengan sendirinya melainkan karena mereka ditarik ke dalam lingkungan perjanjian dan dibawa ke dalam persekutuan dengan Yahwe. Dalam Perjanjian, Yahwe memberi peraturan, yakni Hukum-Nya (Torah) dan Israel berjanji untuk menaatinya. Dengan melakukan itu Israel disucikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa isi Perjanjian itu juga adalah Hukum atau Torah yang telah dibagikan kepada israel.

Jabatan Raja
Perbuatan Allah juga secara implisit dapat terlihat dari jabatan raja yang ada di Israel. Jika kita perhatikan, jabatan raja di Israel berbeda dengan jabatan raja yang ada di sekitarnya. Raja tidak berfungsi sebagai dewa/allah sebagaimana di Mesir. Ataupun sebagai pengatur ketertiban politik yang diberikan oleh dewa-dewa. Jabatan raja yang ada di Israel sebenarnya atas inisiatif umat, yang akhirnya disetujui oleh Yahwe. Meskipun permintaan itu sebenarnya untuk menggantikan posisi Yahwe sebagai raja mereka. Namun tetap saja yang menjadi raja satu-satunya atas mereka adalah Yahwe sendiri. Atau menurut kepercayaan Israel, pemahaman mengenai raja adalah bahwa selain Allah sebagai Raja tidak ada tempat bagi raja sebagai Allah. Yahwe telah mengizinkan adanya raja, namun Ia menghendaki agar raja itu memerintah atas nama-Nya.

Makna Hidup dan Sejarah
Perbuatan Allah nyata dalam kehidupan pribadi lepas pribadi umat Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Makna hidup orang Israel dapat dilihat dari tanggung jawabnya secara perseorangan kepada Allah dan terikat kepada-Nya secara perseorangan pula. Dan dengan adanya pandangan tentang ikatan dan kewajiban ini, manusia dapat mengetahui juga cara menerangkan perkara-perkara yang terjadi dalam kehidupannya. Dalam hubungannya dengan janji Allah ini, manusia harus belajar melihat pergantian serta urutan antara kejayaan dan kegagalannya, kesukaan dan kedukaan, kasih dan benci, kebahagiaan dan kemalangan, perang dan damai atau singkatnya “hari-hari yang baik dan buruk” yang akan memberi makna bagi kehidupan manusia dalam sejarahnya.

III. Apakah Yang Dituntut TUHAN Allah Dari Umat-Nya?


Yang dituntut Allah dari umat adalah umat menjadi “bangsa yang kudus” dan menjadi “kerajaan imam” yaitu beribadat kepada Yahwe dan memiliki etika yang baik. Dan ini berarti mengenai hal melayani Allah, baik dalam kebaktian maupun dalam pergaulan dengan sesama.

Hari-Hari Raya Agama Sebagai Hari Peringatan
Israel sebagai imamat yang rajani dan bangsa pilihan Allah dituntut untuk memperingati hari-hari tertentu sebagai hari raya keagamaan. Hari-hari raya yang ada dalam Israel berbeda dengan hari-hari raya di sekitarnya, yang memiliki unsur-unsur magis. Bangsa-bangsa di sekitar Israel percaya bahwa dengan melakukan ritus-ritus keagamaan maka mereka dapat menyebabkan penjelmaan dewata di bumi ini. Mereka mendasarkan hari-hari raya agama dengan cerita-cerita mite. Dan hari-hari raya ini hanya memiliki satu maksud, yakni mengulangi perjuangan yang terjadi antara kuasa-kuasa alam yang berpribadi dengan chaos (kekacauan/kebinasaan).
Dalam kehidupan ibadat bangsa Israel, terdapat tiga hari raya tahunan yang harus dirayakan oleh setiap orang Israel di hadapan Yahwe. Hari-hari raya itu adalah sbb:

Perayaan Paskah
Dalam PL perayaan Paskah dilukiskan kepada kita sebagai perayaan peringatan pembebasan dari Mesir. Perayaan ini dirayakan pertama kali pada malam sebelum keluaran, di mana darah pada kedua tiang pintu dan ambang atas menjadi tanda bagi Allah untuk melewati rumah tersebut. Setelah perayaan Paskah selama tujuh hari berturut-turut mereka harus memakan roti tidak beragi. Sebagai lanjutan dari perayaan Paskah.

Hari Raya Pentakosta
Hari raya Pentakosta sebenarnya bernama “hari raya lepas tujuh minggu” atau “hari raya menuai”. Hari raya ini adalah perayaan pengucapan syukur atas panen, terutama atas panen gandum dan sebagai waktu kesukaan atas karunia Yahwe.

Hari Raya Pondok Daun
Hari raya ini sebelumnya dikenal sebagai hari raya pengumpulan hasil usaha dari ladang. Dalam hari raya Pondok Daun orang Israel selama tujuh hari tinggal di pondok-pondok supaya diketahui oleh keturunan-keturunan orang Israel bahwa Tuhan telah menyuruh orang Israel tinggal di pondok-pondok selama Yahwe membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Jadi isi dari hari raya Pondok Daun nyata berisi sejarah keselamatan.

Hari Raya Bulan Baru
Dirayakan sebagai hari raya yang kudus (Bil. 10:10), dengan korban-korban istimewa (Bil. 28:11-14). Dari Amos 8:5 dapat diketahui bahwa pada hari itu pekerjaan tidak boleh dilakukan.

Di samping hari-hari raya di atas ada hari-hari raya lainnya yang kemudian terjadi hanya sebagai hari peringatan atau mengandung arti peringatan. Misalnya seperti hari raya Purim, yakni peringatan akan pertolongan bagi orang Yahudi di Susan (Persia), berkat tindakan Ester dan Mordekhai (lihat kitab Ester). Pada hari raya ini di rumah sembahyang dibacakan kitab Ester.


Dari uraian-uraian di atas kita dapat simpulkan bahwa unsur yang terpenting dari hari-hari raya Israel adalah peringatan akan perbuatan-perbuatan Allah dalam sejarah keselamatan. Bukan sebagai drama pementasan yang menggambarkan persatuan yang serasi antara alam (dunia dewata) dan masyarakat (dunia manusia) sebagaimana yang terdapat pada hari-hari raya kafir di sekitar Israel.

Ibadat/Kebaktian Korban
Hal lainnya yang dituntut dari Allah Israel dari umat adalah persembahan korban. Dan salah satu aspek yang terpenting dari ibadat Israel adalah kebaktian korban. Namun untuk dapat memahami secara teologis mengenai kebaktian korban, maka ada beberapa kesukaran yang dihadapi, yaitu:
- Para pengarang dari kalangan para imam yang banyak menerangkan tentang ibadat korban, ternyata tidak pernah menyusun mengenai “teologi korban”. Mereka hanya menaruh perhatian pada bagaimana pelaksanaannya bukan pada tujuannya (untuk apa?).
- Ibadat korban adalah salah satu contoh terjelas dari pengaruh yang meresap ke Israel dari wilayah sekitarnya.
- Dalam berbagai tingkatan waktu dari sejarah Israel ternyata berlaku juga pelbagai praktek yang sama sekali berbeda.

Dalam dunia kuno, anggapan orang kafir tentang korban terkait dengan anggapan antropomorf (Allah/dewa digambarkan seperti manusia) tentang dewa. Antara manusia dengan dewa terdapat ikatan kekeluargaan, sehingga para dewa menyerupai manusia. Para dewa memerlukan manusia, teristimewa korban dari manusia. Manusia telah diciptakan untuk melayani dewa-dewa. Ibadat korban yang dilakukan terdiri dari hidangan makanan dan minuman kepada dewa-dewa. Dalam naskah kuno di sekitar Israel kita dapat menemukan bahwa “para dewa menyantap korban-korban serta meminum korban minuman”. Dalam naskah Babel ada keterangan bahwa seseorang dapat menghentikan persembahan korban, sehingga dewa mengalami kelaparan lalu mengikuti orang itu sambil merengek-rengek meminta korban. Hanya dengan demikian dewa dapat hidup tentram dan bersikap ramah kepada manusia.


Lain halnya dengan ibadat korban dalam PL di Israel, paham tersebut di atas sangat asing bagi PL. Dalam PL kita tidak mendengar bahwa Yahwe menyantap korban-korban persembahan. Meskipun korban makanan terdapat juga dalam PL, tetapi itu tidak dimaksudkan sebagai santapan untuk Tuhan. Ibadat korban yang dimaksud dalam PL adalah untuk memelihara persekutuan dengan Yahwe, untuk memberikan persembahan sebagaimana dilakukan orang terhadap raja, dan untuk mewujudkan rasa bakti. Kita juga tidak pernah menemukan di dalam PL bahwa Allah tergantung pada persembahan korban manusia. Perbedaan asasi ini diungkapkan dalam PB sebagai berikut, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa...” (Kis. 17:24-25).


Inti pokok dari ibadat korban dalam PL dapat dikatakan bahwa, manusia tidak memberikan sesuatu kepada Allah, tetapi segenap kebaktian dan ibadat korban adalah pemberian Allah. Kebaktian korban dilakukan sebagai cara untuk memuliakan nama-Nya, dan terutama sebagai jalan untuk menebus dosa. Kebaktian digunakan untuk memelihara persekutuan dengan Allah yaitu persekutuan yang terjadi oleh perjanjian. Jadi ibadat sudah terangkum dalam perjanjian sebagai dasarnya. Ibadat Israel juga tidak di arahkan kepada ketertiban dalam kosmos, tetapi sekali lagi pada perhubungan yaitu antara Allah dengan umat-Nya. Umat diberi kesempatan untuk memuliakan Yahwe, memelihara persekutuan, dan terutama untuk menerima penebusan dosa. Maka di sini kita mendapati corak kebaktian Israel yang khas, yaitu corak yang berhubungan dengan keinsafan dosa, penyesalan dan kesadaran batin yang dikenal Israel. Keinsafan dosa yang sungguh-sungguh ini tidak terdapat dalam politeisme bangsa-bangsa di sekitar Israel.

Refleksi
Buku yang berjudul PERJANJIAN LAMA terhadap SEKITARNYA, karangan Dr. G.E. Wright dan Dr. A.de Kuiper merupakan buku yang cukup langka, khususnya dalam bahasa Indonesia. Perjanjian Lama ditinjau secara menyeluruh beserta pengaruh-pengaruh yang ada di sekitarnya, seperti kebudayaan, kepercayaan, dsb. yang mempengaruhi apa yang terdapat dalam PL. Penulis berusaha menguraikan dengan padat pengaruh-pengaruh yang ada di sekitar PL, dan ia juga menjabarkan keistimewaan dan kemurnian dari apa yang terdapat di dalam PL.


Di sisi lain Penulis mengatakan bahwa teori evolusi tidak dapat dipakai untuk memahami PL dengan alasan, bahwa PL merupakan buku yang memuat kisah tindakan Allah terhadap umat-Nya; PL sama sekali tidak menaruh minat pada proses evolusi yang dipergunakan sebagai kunci pembuka rahasia agama; dan di dalam PL terdapat “sesuatu” yang memberi corak khusus yaitu penyataan Allah. Namun pernyataan itu memiliki kecenderungan untuk kita dapat mengatakan bahwa, si penulis kurang melihat fakta. Karena faktanya adalah pemahaman manusia akan penyataan yang diterima dari Allah juga terus bergerak progresif dan berevolusi. Puncak penyataan Allah yang diyakini terdapat di dalam diri Yesus Kristus tidak terjadi secara tiba-tiba saja, tetapi melalui proses yang bertahap, baik melalui penyataan ataupun perjanjian. Dan hal itu dimulai pada zaman Nuh, kemudian terus berkembang dan mencapai puncaknya pada zaman Perjanjian Baru, bahkan sampai saat ini pun pemahaman tersebut masih akan terus berkembang dan berevolusi.

(Disadur dari buku Perjanjian Lama Terhadap Sekitarnya, karangan G. Ernesh Whrigt & A.de Kuiper (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1976.)


Monday, June 22, 2009

Perumpamaan Tuan Tanah dan Penggarap


Eksegese Matius 21:33-46


Dalam sejarah penafsiran perumpamaan, metode penafsiran terus berkembang. Dari metode alegoris yang berakhir pada masa Julicher tahun 1888, kemudian ke metode historis yang memperhatikan konteks kehidupan Yesus, dan kemudian bergerak lagi ke metode estetis dan eksistensialis yang mengajarkan untuk lebih memperhatikan teks ketimbang memperhatikan konteks.[1] Namun sampai saat ini orang masih suka menafsir dengan metode alegoris.[2][3] Metode tersebut akan sangat relevan karena penafsir masa kini cenderung untuk membaca teks Alkitab dalam bentuk peredaksian terakhir ketimbang mencari bentuk semula teks Alkitab (ke belakang teks).

Mungkin kebanyakan orang berpandangan bahwa penafsiran alegoris masih sangat relevan, sehingga terus dipertahankan sampai saat ini. Di samping metode penafsiran yang telah di singgung, yang telah berkembang dari metode ahistoris ke historis dan kemudian kembali lagi ke ahistoris, perumpamaan-perumpamaan Yesus dapat dikaji dengan pendekatan literer, yang dapat digolongkan ke dalam metode sinkronis.

Dalam tulisan ini akan di bahas mengenai Perumpamaan Tentang Penggarap-Penggarap Kebun Anggur dalam Matius 21:33-46 dengan menggunakan pendekatan literer. Yaitu, dengan memperhatikan relasi intratekstual, desain literer dan latar (setting). Makna perumpamaan akan dicari melalui karakter yang ada dalam perumpamaan tersebut, yang kemudian dapat diambil pokok ajaran dan konsep teologis. Dalam pendekatan literer akan ditinjau juga mengenai efek perumpamaan itu, yaitu dengan memperhatikan efek pendengar pertama, ketika perumpamaan itu disampaikan Yesus secara lisan, kemudian efek pada pembaca pertama (dalam bentuk tulisan yang disampaikan kepada komunitas Kristen perdana), dan efek pada pembaca kontemporer.

Nama yang diberikan pada perumpamaan Matius 21:33-46 oleh para ahli adalah “Perumpamaan Tentang Penggarap-Penggarap Kebun Anggur” (Kistemaker, LAI), perumpamaan “The Wicked Tenants” (Wenham, Blomberg), “Parable of the Wicked Husbandmen” (Jeremias) dsb. yang pada intinya mengacu kepada karakter si penggarap/petani/penyewa sebagai karakter yang utama. Namun demikian, dalam pembahasan berikut untuk Matius 21:33-46 akan digunakan istilah “Perumpamaan Tuan Tanah dan Penggarap-Penggarap”. Hal ini didasarkan karena karakter si tuan tanah memiliki peran yang seimbang dengan penggarap-penggarap dalam cerita perumpamaan tersebut.

Konteks Literer

a. Relasi Intratekstual / Co-Teks
Perumpamaan tuan tanah dan penggarap-penggarap disampaikan Yesus di Bait Allah di Yerusalem. Hal ini dapat kita lihat dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya atau teks sebelumnya. Dalam Matius 21:12 dikatakan bahwa Yesus telah masuk ke Bait Allah, mengusir para pedagang dan meninggalkan kota itu. Namun keesokan harinya Ia kembali ke Yerusalem. Yesus kemudian kembali ke Bait Allah (21:23) dan di situ Ia ditanyai oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mengenai kuasa yang Yesus miliki. Yesus bersoal jawab dengan mereka, namun imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi tidak memperoleh jawab yang mereka harapkan dari apa yang mereka tanyakan. Lalu Yesus membuka pertanyaan baru ti de umin dokei; (tetapi apakah menurut pendapat kalian?) yang kemudian frase ini menjadi jembatan ke dalam cerita perumpamaan yang Yesus sampaikan mengenai perumpamaan tentang dua orang anak (Matius 21:28-32). Dan tidak berhenti sampai di situ Yesus kembali bercerita mengenai perumpamaan yang lain (Matius 2133-46), yang dimulai dengan frase allen parabolen akousate (dengarlah suatu perumpamaan lain). Kata kai (dan) yang berfungsi sebagai konjungsi pasal 22:1 mengindikasikan adanya keterkaitan literer dengan narasi sebelumnya (Matius 21:33-46). Jadi dapat dikatakan bahwa, setelah Yesus bertanya jawab dengan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mengenai kuasa-Nya di Bait Allah, Yesus kemudian menyampaikan tiga (3) perumpamaan berturut-turut (secara kronologis) kepada imam-imam kepala, tua-tua bangsa Yahudi, orang yang hadir dan juga murid-murid.
Berdasarkan analisa literer tersebut, terdapat relasi intratekstual/co-teks antara Matius 21:28-32, Matius 21:33-46 dan Matius 22:1-14. Jadi dapat disimpulkan bahwa perumpamaan tuan tanah dan penggarap-penggarap yang terdapat dalam Matius 21:33-46 memiliki relasi intratekstual dengan Matius 21:28-32 sebegai teks sebelumnya dan Matius 22:1-14 sebagai teks sesudahnya. Ketiga perikop perumpamaan tersebut (“Perumpamaan Tentang Dua Orang Anak”, “Perumpmaan Tuan Tanah Dan Penggarap-Penggarap” dan “Perumpamaan Perjamuan Kawin”) disampaikan Yesus di tempat dan waktu yang bersamaan.

b. Desain Literer
Perumpamaan tuan tanah dan penggarap dapat dikatakan memiliki kesejajaran sintesis. Yaitu, suatu perumpamaan dengan perbandingan dua gagasan yang tidak berlawanan. Perumpamaan ini dapat dibagi dalam dua bagian (ayat 33b-37 dan ayat 35-39) yang sejajar berdasarkan karakter yang memiliki peran dominan di dalam perumpamaan tersebut. Ayat 40-46 tidak dapat dimasukkan ke dalam bagian narasi perumpamaan, karena konteknya sudah berbeda (berada di luar konteks perumpamaan). Di samping itu pada bagian ini (ayat 40-46) telah terjadi perubahan suasana. Namun, jika dilihat secara keseluruhan dalam satu perikop, maka cerita ini membentuk tiga bagian besar, yaitu:

(i) 21:33a Pembukaan perumpamaan

(ii) 21:33b-39 Narasi perumpamaan
(a) Tuan tanah:
oikodespotes (33b-37)
A. Membuka kebun anggur dan menyewakan (33b-33c)
B. Mengutus hamba-hamba (34, 36)
C. Mengutus anaknya (37)

(b) Penggarap-penggarap:
georgois (35-39)
A. Menangkap & membunuh hamba-hamba utusan pertama (35)
B. Menangkap & membunuh hamba-hamba utusan kedua (36)
C. Menangkap & membunuh anak dari si tuan tanah (38-39)

(iii) 21:40-46 Yesus dan orang banyak

Dari kesejajaran di atas kita dapat melihat bahwa perumpamaan tuan tanah dan penggarap memiliki kesatuan literer. Berdasarkan struktur tersebut kita juga dapat melihat bahwa dalam perumpamaan tersebut terdapat empat karakter. Namun, yang memiliki peran dominan adalah tuan tanah dan penggarap-penggarap kebun anggur. Sedangkan hamba-hamba dan anak dari si tuan dapat dikatakan sebagai peran figuran saja atau merupakan subordinasi dari karakter si tuan tanah.

Dari komposisi di atas kita dapat katakan bahwa fokus perumpamaan terletak pada ayat 33b-37. Bagian ini memperlihatkan relasi antara hamba-hamba dengan tuannya, dan relasi tuan dengan anaknya. Hamba-hamba diutus untuk pergi ke ladang, kepada penggarap-penggarap untuk mengambil hasil yang menjadi bagian tuannya. Tetapi para penggarap malah menangkap, memukulinya dan membunuhnya. Tuan tanah kemudian mengutus anaknya sendiri yang ia kasihi, namun nasib yang sama dialami oleh si anak.

Perubahan suasana dalam cerita ini terjadi pada ayat 40-46. Suasana perumpamaan tiba-tiba berubah menjadi suasana dialog antara Yesus dan orang banyak. Dari konteks di dalam perumpamaan, yaitu di ladang ke konteks Yesus, di mana Yesus menyampaikan perumpamaan tersebut. Kata otan sebagai konjungsi subordinatif menjembatani perubahan suasana tersebut. Pertanyaan pengandaian yang diajukan Yesus kepada orang banyak membawa kepada suasana dialog. Yang kemudian masuk ke suasana eskatologis melalui kutipan dari Perjanjian Lama. Suasana berubah lagi dari eskatologis kepada para imam kepala dan orang-orang Farisi yang mendengarkan perumpamaan Yesus.

c. Latar (setting)
latar perumpamaan terdiri dari dua bagian, yaitu latar di luar perumpamaan dan latar di dalam perumpamaan. Latar di luar perumpamaan adalah latar literer, sedangkan latar di dalam perumpamaan adalah unsur-unsur kehidupan masyarakat palestina kuno yang digunakan dalam perumpamaan.[4] Latar dalam perumpamaan biasanya merupakan hal-hal yang telah dikenal oleh para pendengar perumpamaan tuan tanah dan penggarap. Latar ini meliputi: tuan tanah, hamba, anak, penggarap, kebun anggur, pagar, menara jaga, lobang tempat memeras anggur. Semua unsur dalam latar dalam dari perumpamaan ini hampir semuanya dapat dikenal oleh pembaca modern. Namun, beberapa unsur seperti menara jaga dan lobang tempat memeras anggur mungkin agak asing bagi pembaca kontemporer. Menurut Kistemaker,[5] menara jaga digunakan untuk mengintai pencuri selama musim panen, dan juga dapat digunakan sebagai tempat tinggal penggarap-penggarap kebun anggur.

Di samping latar dalam sebagaimana disinggung di atas, ada juga latar luar. Untuk dapat mengetahui latar luar dalam perumpamaan tuan tanah dan penggarap ini, minimal harus diperhatikan kronologis literer di mana Yesus mulai menyampaikan perumpamaan-perumpamaan-Nya. Pasal 21 ayat 1 memberi keterangan bahwa dalam rangka perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus telah tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun dekat Yerusalem. Kemudian pada ayat 12, Yesus sudah berada di Yerusalem, dengan keterangan bahwa Yesus memasuki Bait Suci dan mengusir semua pedagang yang berjualan di sekitar Bait Suci. Dari situ, kemudian Ia meninggalkan Bait Suci dan pergi ke luar kota Yerusalem, yaitu ke Betania (ayat 17). Pada ayat 18 dikatakan bahwa Yesus melakukan perjalanan kembali ke Yerusalem; dan ayat 23 memberi keterangan bahwa Yesus kembali memasuki Bait Allah untuk mengajar, di mana di tempat tersebut datanglah imam-imam kepala serta tua-tua Yahudi dan orang banyak kepada-Nya. Dari analisa tersebut kita dapat katakan bahwa latar luar perumpamaan tuan tanah dan penggarap meliputi: kota Yerusalem, Bait Suci, Imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak (mungkin juga ada anak-anak), dan tentunya juga murid-murid yang selalu menyertai-Nya. Perumpamaan Yesus jelas ditujukan kepada semua orang-orang yang hadir di tempat itu, dan terkhusus kepada murid-murid.

Makna Perumpamaan

a. Karakter dan Pokok Ajaran
Perumpamaan tuan tanah dan penggarap memiliki empat (4) karakter, yaitu karakter tunggal si tuan tanah (oikodespotes), karakter jamak penggarap-penggarap (georgois). Karakter jamak hamba-hamba (doulous) dan karakter tunggal anak (uion). Namun, sebagaimana telah disinggung dalam desain liteter, yang memiliki peran dominan adalah karakter tuan tanah dan karakter penggarap. Karakter hamba dan anak hanya sebagai figuran. Dari karakter tuan dan penggarap inilah akan dilihat pesan yang dibawa dalam perumpamaan ini.

Dalam perumpamaan tuan tanah dan penggarap, diceritakan bahwa sang tuan tanah membuka kebun anggur, memasang pagar, membuat tempat pemerasan anggur dan mendirikan menara jaga. Untuk apa si tuan tanah melakukan hal ini? Dikatakan dalam ayat 33c, yaitu untuk disewakan kepada penggarap-penggarap, tentunya penyewaan ini dilakukan dengan perjanjian sebagaimana yang biasa berlaku di Timur Tengah pada waktu itu. Si tuan tanah mengetahui bahwa kebun anggur yang ia siapkan untuk disewakan kepada para petani tidak dapat menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu singkat, minimal ia harus menunggu selama empat tahun sebelum pohon anggur dapat menghasilkan buah. Si tuan tanah tentunya berharap di tahun ke-5, ia dapat memperoleh hasil dari kebun anggur yang disewakan tersebut. Untuk menunggu waktu yang lama itu, ia kemudian pergi ke negeri lain. 


Singkat cerita ketika musim panen hampir tiba, sang tuan mengutus (apesteilen) hamba-hambanya untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya (ayat 34). Namun, para penggarap malah memukuli hamba-hamba tersebut, melempari dengan batu dan kemudian membunuhnya. Sang tuan tidak memberi reaksi apa-apa ketika mendengar hamba-hambanya diperlakukan dengan semena-mena. Dengan sabar ia kembali mengutus hamba-hambanya yang lain (mungkin pada panen berikutnya) untuk kembali meminta hasil yang menjadi bagian tuannya. Tetapi Para penggarap memperlakukan hal yang sama sebagaimana yang mereka lakukan kepada hamba-hamba yang pernah diutus lebih dulu. Dan akhirnya, sang tuan mengutus anaknya sendiri untuk yang ketiga kalinya meminta hasil panen yang menjadi bagiannya. Dengan penuh kesabaran menghadapi penggarap-penggarap sang tuan berkata, “Anakku akan mereka segani” (ayat 37). Maka sang tuan mengutus anaknya. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata para penggarap memperlakukan hal yang sama kepada anak tersebut. Mereka bahkan merencanakan hal yang jahat, sebelum mereka membunuh anak tersebut. Yaitu, mereka berpikir bahwa merekalah nanti yang akan menjadi ahli waris dari sang tuan tanah, setelah mereka membunuh anak tersebut. Cerita diakhiri dengan sebuah pertanyaan Yesus kepada orang banyak, mengenai apa yang kemudian akan dilakaukan oleh si tuan tanah. Secara tersirat perumpamaan diakhiri dengan keadilan, bahwa para penggarap akan menerima ganjarannya, meskipun hal ini dinyatakan oleh orang banyak yang mendengarkan perumpamaan tersebut. Hal ini diperkuat oleh pararel dari perumpamaan ini, yaitu di dalam Injil Markus 12:1-12 dan Lukas 20:9-19, yang secara eksplisit menutup perumpamaan ini dengan sebuah keadilan dari si tuan tanah sendiri.


Karakter penggarap dalam perumpmaan tuan tanah dan penggarap jelas membawa pesan jahat atau sesuatu yang jahat, licik dan tidak adil. Sedangkan karakter tuan tanah membawa pesan sabar tetapi juga adil. Berdasarkan analisa karakter tersebut, dapat disimpulkan bahwa perumpamaan tuan tanah dan penggarap berbicara tentang hal sabar dan adil terhadap kejahatan. Kesabaran diperlukan untuk mengahadapi sejahatan, kelicikan, dan ketidakadilan dalam hidup. Namun, kejahatan, kelicikan dan ketidakadilan harus diredamkan dengan keadilan.


Pertanyaan Yesus kepada orang banyak, yang sekaligus mengakhiri perumpamaan, membawa pembaca kepada perubahan suasana. Yaitu, dari suasana perumpamaan di ladang kepada suasana dialog antara Yesus dengan orang banyak di Bait Allah. Dari suasana dialog, kemudian berubah lagi menjadi suasana eskatologis, dengan Yesus mengutif kitab suci Ibrani (PL). Hal ini dapat kita lihat dari penggunaan kata dotesetai (akan diberikan) sebagai kata kerja indikatif kala depan (future). Jawaban Yesus kepada orang banyak mau menyatakan bahwa diri-Nya sebagai batu penjuru adalah seperti sang anak yang dibunuh. Namun, beberapa ahli berpandangan bahwa perumpamaan ini tidak berbicara soal eskatologis (kutipan Yesus dari PL adalah berasal dari redaktor). Jika kutipan Yesus tentang batu penjuru adalah benar tambahan kemudian dari redaktor, maka tidak dapat dikatakan bahwa anak yang dibunuh mengacu kepada Yesus. Sekali lagi, pesan utama yang mau disampaikan dari perumpamaan ini adalah sabar dan adil terhadap kejahatan. Pesan yang dibawa karakter tuan tanah dapat dibandingkan dengan Allah yang sabar, namun juga adil kepada umat-Nya. Kemudian pada ayat-ayat selanjutnya narator memberi keterangan bahwa yang dimaksud dengan penggarap-penggarap dalam perumpamaan ini adalah ditujukan kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi (ayat 45-46). Dengan mengacu kepada ayat ini, dapat dikatakan bahwa, pesan yang dibawa karakter penggarap yang jahat dan licik dapat dibandingkan dengan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi.


b. Konsep Teologis
Tema perumpamaan tuan tanah dan penggarap adalah sabar dan terhadap kejahatan. Karakter si tuan tanah membawa tema mengenai sabar dan adil, sedangkan tema yang dibawa karakter dari penggarap-penggarap adalah kejahatan dan kelicikan. Karakter tuan tanah dan penggarap saling berinteraksi. Dari kontrak perjanjian yang dilakukan kedua belah pihak, maka terjadilah hubungan di antara mereka. Pesan yang dibawa masing-masing karakter nampak dari interaksi yang mereka lakukan. Apa yang dilakukan dan dikatakan karakter penggarap memperlihatkan hal yang jahat, licik dan tidak adil. Sedangkan apa yang dilakukan dan dikatakan karakter tuan tanah adalah hal yang baik, yaitu sabar dan adil.

Konsep teologis yang muncul berdasarkan kedua karakter di atas dapat dilihat dari interaksi mereka. Kesabaran yang ditunjukkan oleh karakter tuan tanah adalah sikap yang aktif terhadap penggarap. Dan kesabaran inilah yang dapat dibandingkan dengan Allah yang sabar terhadap umat. Kesabaran yang ditunjukkan si tuan tanah mengandung pengertian untuk tidak melakukan kekerasan terhadap musuh dan orang-orang yang berlaku jahat dan licik. Di sisi lain, jika perumpamaan tuan tanah dan penggarap dibandingkan dengan pararelnya sebagaimana telah disinggung di atas, khususnya dalam bagian penutup perumpamaan, maka ada sesuatu yang kurang ditekankan secara eksplisit oleh penulis Injil Matius. Namun, meskipun demikian ketiga Injil mau menekankan hal yang sama dalam bagian penutupnya, yaitu karakter tuan tanah membawa pesan keadilan di samping pesan kesabaran yang lebih dulu ditekankan di atas.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep teologis yang dibawa oleh dua karakter di atas adalah bahwa kejahatan, kelicikan dan ketidakadilan harus di disikapi dengan sabar dan adil. Sebagaimana Allah yang selalu sabar terhadap umat dan juga adil untuk menghukum dan memberkati akan apa yang dilakukan umat, demikian juga sangatlah perlu mengembangkan sikap sabar dan adil tersebut dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan kejahatan, kelicikan dan ketidakadilan. Perumpamaan tuan tanah dan penggarap merupakan seni hidup, yaitu seni untuk menghadapi hal yang jahat dengan sikap sabar dan adil.

Efek Perumpamaan

a. Pendengar Pertama
Sebagaimana disinggung di atas, perumpamaan tuan tanah dan penggarap yang disampaikan Yesus terjadi di Bait Allah. Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang banyak, imam-imam, orang farisi dan juga murid-murid. Efek perumpamaan pada pendengar pertama hanya dijelaskan pada ayat ke 41, 45 dan ayat 46. Pertanyaan Yesus pada ayat 40 mengundang pendengar (orang banyak) untuk memberi jawab atas pertanyaan Yesus. Hal ini menggambarkan bahwa pendengar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat antusias untuk mengetahui akhir dari cerita perumpamaan tersebut. Orang banyak mengecam akan apa yang dilakukan para penggarap dalam paerumpamaan yang diceritakan Yesus. Mereka menghendaki agar sang tuan tanah menghukum dan membinasakan penggarap-penggarap yang jahat itu. Dan dapat dikatakan bahwa orang banyak mendapat sesuatu dari perumpamaan tersebut, yaitu mereka menolak hal-hal yang jahat dan ingin melakukan hal yang baik, meskipun itu belum diwujudkan dalam perbuatan. Hal lain yang dapat kita ketahui mengenai efek pada pendengar pertama adalah pada ayat 45 dan 46. Narator memberi informasi bagaimana reaksi para imam kepala dan orang-orang Farisi setelah mendengar perumpamaan Yesus tersebut. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memahami akan perumpamaan yang disampaikan Yesus, dan mereka menyadari bahwa merekalah yang di maksud dalam perumpamaan tersebut. Efek lain yang ditimbulkan oleh perumpamaan tersebut adalah para imam dan orang-orang Farisi menjadi semakin benci kepada Yesus. Bahkan mereka berencana untuk menangkap Yesus.

b. Pembaca Pertama
Efek perumpamaan pada pembaca pertama ditujukan kepada komunitas Matius sendiri. Menurut Armand Barus, Matius menulis Injilnya bukan karena interes pribadi, tetapi karena dorongan kebutuhan komunitas-komunitas Matius atau komunitas lainnya. Ahli lain berpendapat bahwa Injil Matius ditulis setelah hancurnya kota Yerusalem dan Bait Suci pada tahun 70 M. Itu berarti bahwa konteks penulis Injil Matius ada dalam keadaan krisis. Orang-orang Yahudi mengalami krisis, mereka merasa diperlakukan tidak adil, orang-orang Yahudi merasa bahwa mereka menjadi korban dari kejahatan tentara Roma yang telah membumihanguskan Yerusalem dan Bait Suci. Keadaan komunitas Matius yang menderita karena kejahatan dan kekejaman tentara Roma, menimbulkan kebutuhan dari komunitas tersebut akan berita Injil, hal inilah yang mendasari Penulis Injil Matius menulis perumpamaan ini. Yaitu untuk menghibur dan menguatkan jemaat asuhan Matius untuk tetap sabar menghadapi keadaan tersebut.

c. Pembaca kontemporer
Kebanyakan orang yang hidup di zaman ini menganggap bahwa kesabaran adalah suatu kebodohan. Mereka mengatakan bahwa kesabaran akan membuat orang cepat mati. Namun, apakah memang demikian? Bisa ya, tetapi juga bisa tidak. Situasi yang dialami bangsa Indonesia, seperti misalnya keadaan ekonomi yang morat-marit; lapangan kerja yang sangat terbatas sementara tenaga kerja membengkak; krisis moralitas pemimpin bangsa yang bermental korup; ketidakadilan di dalam hukum, yang di dalamnya termasuk masalah mayoritas dan minoritas, dsb menuntut suatu sikap yang sabar untuk dapat bertahan. Tanpa kesabaran di tangah situasi seperti itu, maka orang pun akan cepat mati. Lalu apakah cukup hanya dengan kesabaran? Kesabaran harus ditopang dengan sikap aktif dan tegas terhadap kejahatan dan ketidakadilan. Jika kesabaran bersifat pasif, maka mungkin pernyataan pertama dari kebanyakan orang tadi adalah benar. Jadi sikap sabar harus disertai sikap adil yang tidak kompromistis dengan kejahatan. Di tengah situasi yang sebagaimana digambarkan di atas, umat Kristen perlu dikuatkan dan terus dibekali untuk memiliki sikap sabar dan adil dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Sikap sabar dan adil perlu diwujudkan dan menjadi seni di dalam gaya hidup orang-orang Kristen dewasa ini.


Refleksi
Perumpamaan tuan tanah dan penggarap yang dikaji dengan pendekatan literer membawa pesan yang relevan dalam konteks di Indonesia. Perlu disadari bahwa sikap sabar tidak banyak dimiliki orang yang hidup dizaman ini, meskipun dalam kenyataannya sikap tersebut sangat dibutuhkan. Dan kiranya melalui pengkajian di atas, umat Kristen dapat lebih memahami dan dapat mempraktikkan firman Tuhan di dalam kehidupan dan pergumulan sehari-hari mereka. Namun demikian, penulis menyadari bahwa kajian di atas mungkin masih memiliki kekurangan jika dibandingkan dengan banyak kajian yang telah disajikan oleh para ahli biblika.

[1] Armand Barus, “Sejarah Penafsiran Perumpamaan” Diktat (2009): 13.
[2] Cara pembacaan alegoris berusaha memberi makna rohani terhadap hampir setiap unsur yang terdapat di dalam perumpamaan. Pembacaan seperti ini mengabaikan aspek historisnya dari perumpmaan.
[3] Sinkronis secara harfiah artinya bersamaan waktu. Dalam metode sinkronis, teks dapat dipandang sebagai cermin atau sebagai permukaan air bening.
[4] Panitia Fest Schrift Susabda STTRII, The Integrated Life: Kehidupan Kristen Yang Seutuhnya; Armand Barus, Bila Pegampunan Tidak Ada: Matius 18:23-35. (Yogyakarta: ANDI, 2006), 52
[5] Simon Kistemaker, The Parables of Jesus, (Michigan: Baker Book House, 1980), 97.

Monday, May 18, 2009

TEOLOGI PENCIPTAAN: Sebuah Tinjauan dan Refleksi


Kebanyakan orang berpandangan bahwa topik mengenai Penciptaan sudah tidak relevan lagi untuk dibicarakan, khususnya di dalam diskusi teolog-teolog modern. Jika demikian halnya bagaimana seharusnya kita memahami teologi penciptaan yang termarjinalisasi dalam kitab Kejadian 1 dan 2 ini. Beberapa ahli berpendapat bahwa teologi Penciptaan sebenarnya hanyalah subordinasi dari teologi Penebusan. Di sisi lain orang juga mempersoalkan antara teologi Penciptaan dengan sains modern, dan menegaskan bahwa teologi Penciptaan tidak lagi relevan untuk dibicarakan. Apakah memang benar demikian? Lalu apa sebenarnya yang esensi dari teologi Penciptaan? Melalui pembahasan berikut akan ditinjau lebih jauh mengenai Teologi Penciptaan yang terkait dengan isu-isu tersebut.

Teologi Penciptaan Dalam Kitab Suci
Menurut Walter Lempp,[1] Cerita mengenai penciptaan terdapat di dalam kitab Kejadian, khususnya Kejadian 1:1-2:25. Riwayat yang pertama tentang penciptaan bukanlah sebuah tulisan seorang pengarang yang mau menulis sebuah cerita sejarah, melainkan adalah ajaran para imam Israel mengenai asal-usul hubungan dan tujuan dunia serta manusia. Mungkin cerita tentang penciptaan telah berpuluh-puluh tahun dipikirkan, diubah, diperbaiki, direnungkan, didoakan, dilisankan dalam liturgi dan ibadah para imam bangsa Israel, sebelum cerita itu mendapat bentuknya yang sekarang ini. Dan cerita yang dalam bentuk sekarang ini merupakan hasil dari pemikiran teologis dari beberapa generasi imam berikutnya.
Riwayat penciptaan membagi penciptaan dunia dan segala isinya dalam tujuh hari:

Hari ke-1 : (ayat 1-5)
Penciptaan pada umumnya; penciptaan terang; pemisahan antara yang terang dan yang gelap; pemberian nama-namanya.

Hari ke-2 : (ayat 6-8)
Penciptaan cakrawala; peisahan antara air yang di atas dan air yang di bawah; pemberian namanya.

Hari ke-3 (ayat 9-13)
Pengumpulan air yang di bawah cakrawala, sehingga kelihatan darat; pemberian nama; penciptaan tumbuh-tumbuhan dan pohon di darat.

Hari ke-4 (14-19)
Penciptaan matahari, bulan dan bintang.

Hari ke-5
Penciptaan iakan-ikan di laut dan burung-burung di udara.
Hari ke-6 (ayat 24-2:1)
- Penciptaan binatang di darat (ayat 24-25)
- Penciptaan manusia (ayat 26-2:1)

Hari ke-7
Penyelesaian pekerjaan Allah. Perhentian dan pengudusan hari ke-7.

Rencana penciptaan dalam tujuh hari tidak mengacu kepada soal waktu. Firman Allah menciptakan waktu dan jangka-jangkanya. Tiap-tiap bagian penciptaan diikuti oleh kalimat, “jadilah petang dan jadilah pagi itulah hari ke-...” (ayat 5, 8, 13, 19, 23, 31). Ini berarti penciptaan oleh Allah tidak terjadi dalam waktu, melainkan menyebabkan waktu. Allah, itulah pemberi waktu; Dialah Tuhannya waktu yang tidak terbelenggu oleh waktu dan urutannya.
Jadi asal mula dunia ini, dalam perspektif Kitab Suci tidak dapat dipahami sebagaimana sains memahami terjadinya dunia dan jagat raya berjuta-juta tahun lamanya. Hari-hari yang ditunjukkan dalam cerita penciptaan tidak dapat disamakan dengan waktu kronos yang kita pahami. Hal lain yang dapat kita pahami bahwa cerita penciptaan merupakan dasar dan awal dari seluruh bagian Kitab Suci Perjanjian Lama. Manusia dapat berkata-kata tentang Allah dan segala sesuatu yang telah diciptakan karena ada peristiwa penciptaan sebagai titik awal sejarah (dalam arti teologis).

Teologi Penciptaan Bagi Orang Israel[2]
Teologi Penciptaan dari sudut pandang bangsa Israel tidak seperti yang dipahami di atas. Teologi Penciptaan tidak menjadi prioritas dan dasar. Bangsa Israel lebih dahulu mengenal Allah sebagai Allah-Penyelamat (yang telah membebaskannya dari tanah perbudakan di Mesir) dan Allah-Perjanjian (yang membuatnya menjadi bangsa dan yang mengadakan perjanjian dengannya). Baru kemudian mereka mengenal-Nya sebagai Allah-Pencipta. Karena itu banyak para ahli lebih dulu berbicara tentang Allah-Perjanjian atau Allah-Penebus ketimbang Allah-Pencipta. Sebab menurut Abineno, jika kita lebih dulu berbicara tentang Allah-Pencipta, kita tidak tahu siapakah Dia. Dan apa yang kita baca tentang karya penciptaan-Nya dalam Kejadian 1 dan Kejadian 2 itu hanya merupakan suatu cerita atau pemberitahuan biasa saja, bahwa langit dan bumi dan segala isinya telah dijadikan oleh “suatu kuasa yang tinggi”, yang disebut Allah. Bagi orang Kristen, cerita penciptaan menjadi penting, ketika kita mengetahui bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya adalah juga Allah-Perjanjian dan Allah-Penebus. Namun apakah itu benar? Dan memang seharusnya dipahami demikian?

Pencipta dan Dunia Ciptaan
Berbicara mengenai teologi Penciptaan, berarti tidak dapat dilepaskan dari Sang Pencipta tersebut, yaitu Allah dan dunia ciptaan, yaitu alam semesta dan segala isinya. Apakah setelah Allah menciptakan segala sesuatu Allah berhenti sampai di situ? Allah ternyata terus berkarya dan membangun relasi dengan dunia ciptaan. Misalnya, Allah memilih suatu bangsa yang menjadi umat pilihan-Nya. Allah terus berkarya melalui perbuatan-perbuatan-Nya kepada umat pilihan-Nya. Perbuatan-Nya nyata misalnya melalui perjanjian yang dibuat-Nya, penebusan yang dilakukan-Nya kepada umat, dsb. Lalu, adakah keterkaitan antara perbuatan-perbuatan Allah kepada ciptaan dengan karya-Nya sebagai Allah Pencipta? Dan bagaimanakah sebenarnya relasi antara Sang Pencipta dengan dunia ciptaan?

Pandangan Para Ahli Mengenai Teologi PenciptaanAbineno setuju bahwa teologi Penciptaan harus di tempatkan setelah Perjanjian dan Penebusan. Hal ini juga diperkuat oleh pandangan von Rad,[3] ia membedakan secara tajam antara penciptaan dan penebusan yang terjadi dalam rangka sejarah keselamatan. menurut von Rad, tema Penciptaan dalam Perjanjian Lama tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan tema Penebusan yang jauh lebih penting. Ia juga menekankan bahwa umat Israel dalam Perjanjian Lama pertama-tama menghayati Tuhan sebagai Penebus, baru kemudian sebagai pencipta, dan kisah Penciptaan hanya sebagai tindakan awal yang melatari karya penebusan. Di sisi lain, Dyrness[4] mengusulkan prioritas Penciptaan terhadap Penebusan, namun ia pun kurang konsisten dengan mengatakan, “tidak menutup kemungkinan bahwa umat Israel mengalami Allah sebagai Penebus terlebih dulu.”

Kebanyakan ahli berpandangan bahwa teologi Penciptaan adalah subordinasi dari teologi Penebusan. Menurut Yonky Karman,[5] minimal ada tiga hal mengapa teologi Penciptaan termarjinalisasi dalam diskusi-diskusi teologi:

1) Sejarah teologi Kristen memperlihatkan bahwa posisi teologi penciptaan selalu dinilai rendah (inferior) terhadap doktrin tentang Kristus dan doktrin Penebusan.

2) Konsep tatanan dunia yang dulu erat terkait teologi penciptaan, sekarang hampir boleh dikatakan lenyap dari perbincangan teologi.

3) Dewasa ini yang populer dalam diskusi-diskusi teologi adalah tema-tema kontemporer seperti perdamaian, keadilan, sosiologi, yang pada dasarnya sedikit sekali berbicara mengenai tema penciptaan.

Relasi Sang Pencipta Dengan Dunia Ciptaan
Menurut Yonky Karman,[6] sekalipun Tuhan adalah pencipta, Alkitab tidak pernah mengidentikkan Sang Pencipta dengan dunia ciptaan. Dunia ciptaan tidak boleh diperilah. Namun demikian tidak ada dikotomi antara dunia dan Tuhan, seolah-olah memilih yang satu otomatis melepaskan yang lain. Jikalau demikian halnya, maka tidak ada relasi antara Sang Pencipta dan dunia ciptaan yang di dalamnya termasuk manusia.

Sebagaimana telah disinggung di atas, Allah sebagai Pencipta tetap menjalin relasi dengan ciptaan. Melalui dunia ciptaan, Allah menyingkapkan diri-Nya dan sekaligus dapat dikenal oleh ciptaan, khususnya manusia. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah Allah tetap dapat dikenal tanpa ciptaan? Ini adalah suatu pertanyaan yang pelik. Tentunya dapat dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan segala sesuatu sebagai ciptaan, maka Allah menjadi bagian di dalamnya. Jika tidak ada ciptaan, siapa yang dapat berbicara tentang Allah atau mengenal Allah, selain Allah sendiri. Itu berarti tidak ada konsep tentang Allah Pencipta, Allah Pejanjian, Allah Penebus dsb. Jadi dapat dikatakan bahwa, Allah tidak dapat dikenal tanpa ciptaan, meskipun Allah tidak bergantung kepada ciptaan. Relasi antara Allah dengan ciptaan begitu kuat, sehingga pengenalan akan Allah harus dimulai dari ciptaan. Karena kita diciptakan, maka kita dapat mengenal Pencipta kita.

Perkembangan Teologi Penciptaan[7]
Marjinalisasi terhadap ajaran penciptaan telah berlangsung sejak awal abad ke-20, dengan pemahaman bahwa cerita penciptaan bukan materi asli iman umat Israel, melainkan diambil alih dari mite penciptaan dalam agama-agama Asyur dan Babel sekitar abad ke-7 SM. Bernhard Stade mengatakan bahwa, umat Israel mengolah tema penciptaan yang berasal dari luar, kemudian menjadikannya sebagai bagian dari agamanya. Umat Israel mula-mula mengimani Allah sebagai Penebus, baru kemudian sebagai Pencipta. Sebagai contoh, misalnya adanya kemiripan antara cerita penciptaan dalam kitab Kejadian 1 dan 2 dengan cerita penciptaan dalam tradisi Babel, Enuma Elis. Namun di sisi lain, juga ada yang berpendapat bahwa, cerita penciptaan yang ada dalam kitab Kejadian lebih sederhana dibanding dengan legenda Babel tersebut. Dan berdasarkan kaidah yang berlaku dalam arkeologi Timur Dekat Kuno, cerita penciptaan yang ada dalam kitab Kejadian tidak mungkin menjiplak legenda Babel.
Hal lainnya yang menyangkut hal ini, ditemukan perbandingan yang menarik antara kisah penciptaan dalam kitab Kejadian dan dalam tradisi Babel, Enuma Elis. Tradisi Babel menonjolkan Marduk, dewa utama dari panteon Babel, dengan mengisahkan keunggulannya dan kotanya. Kisah ini memuliakan dunia dewata sedemikian sehingga porsi tindakan penciptaan hanya seperenamnya, selebihnya adalah bagaimana Marduk menjadi dewa nomor satu. Dan hal ini tentu berbeda dari kisah penciptaan dalam Kejadian 1, yang memakai cukup banyak ayat untuk mengisahkan penciptaan matahari, bulan , bintang serta manusia (ayat 14-19, 26-30). Menurut tradisi Babel, manusia diciptakan supaya para dewa bebas dari beban pekerjaan sehari-hari. Manusia diciptakan untuk menjadi pelayan dewa-dewa, termasuk menyediakan makanan bagi mereka. Namun, dalam kisah di Kejadian digambarkan manusia sebagai mahkota penciptaan. Bukan manusia menyediakan makanan bagi Tuhan, justru sebaliknya Tuhanlah yang menyediakan makanan bagi manusia, seperti tumbuh-tumbuhan misalnya (Kej. 1:29). Bahkan dalam Kejadian 2 Allah menyediakan taman bagi manusia untuk dihuni, binatang-binatang untuk menemani manusia, dan akhirnya seorang isteri untuk mendampingi dan menolongnya seumur hidup.

Refleksi: Sebuah Alternatif Memahami Teologi Penciptaan
Dari tinjauan di atas, kita dapat melihat bahwa masalah di dalam teologi Penciptan cukup pelik. Belum lagi jika diperhadapkan dengan sains. Adakah suatu alternatif lain untuk memahami teologi Penciptaaan, di samping hal-hal yang telah di bahas di atas? Jawabnya adalah “ada”. Jika para ahli memperdebatkan mengenai posisi teologi Penciptaan sebagai yang superior ataukah yang inferior, sebenarnya ini bukan hal yang esensi. Di pihak lain, orang juga memperdebatkan teologi Penciptaan dengan sains modern, yang kerap kali berakhir tanpa ujung.

Menurut hemat saya, yang hendak ditekankan dalam cerita penciptaan dalam Kejadian 1 dan 2 adalah bahwa Allah yang digambarkan sebagai Pencipta merupakan penyebab dari segala sesuatu yang ada. Inilah yang esensi ketimbang mempersoalkan Allah sebagai "Penebusan" atau "Pencipta" dan memperdebatkannya dengan sains modern. Di samping itu, teologi Penciptaan juga harus dipahami bukan sebagai cerita sejarah dalam pengertian modern, melainkan sebagai refleksi iman bangsa Israel dalam memahami Allah yang mereka sembah sebagai Allah yang juga menciptakan segala sesuatu.

[1] Dr. Walter Lempp, Kejadian 1:1-4:26, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), 9-
[2] Dr. J.L.Ch. Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 30-
[3] Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 21
[4] Ibid, Karman. 22
[5] Ibid
[6] Ibid. 19
[7] Ibid. 22-24

Thursday, April 30, 2009

EKSEGESE YEHEZKIEL 11:1-13


Kitab Yehezkiel merupakan salah satu kitab yang unik dalam Perjanjian Lama. Selain tata bahasa yang digunakannya sangat baik, dimana para ahli menyebutnya "indah", "tinggi", "ringkas & tepat", kitab ini juga banyak menggunakan gambaran dan bahasa yang bersifat eskatologis (bersifat nubuat untuk hal-hal yang akan datang). Kitab ini cukup banyak dikutip, baik langsung maupun tidak langsung, dalam Perjanjian Baru (65 kali), yang terbanyak adalah dalam Kitab Wahyu (48 kali)[2]. Mengenai periodenya, kitab Yehezkiel termasuk ke dalam periode nabi-nabi kemudian, dalam masa pembuangan dan setelah pembuangan.


Pada Yehezkiel pasal 11:1-13 yang akan menjadi pembahasan berikut, Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Pemimpin-pemimpin Israel Dihukum”. Namun, para ahli tidak sepakat mengenai judul yang diberikan pada Yehezkiel pasal 11:1-13. Peter C. Craigie misalnya, memberi judul “Kematian di Gerbang Bait Suci”, Daniel I. Block memberi judul “Sebuah Periuk dari yang Bersusah Hati” dan masih banyak lagi dari para ahli yang memberi judul yang berbeda. Namun, dalam pembahasan ini, penulis setuju dengan judul yang diberikan oleh LAI. Hal tersebut dikarenakan dalam perikop ini memang berbicara tentang hukuman Allah kepada para pemimpin Israel yang telah menyimpang dari ketetapan Tuhan.

Latar Belakang

Konteks Luas (dalam kanon)[3]
Jika dilihat dari konteks kanon, kitab Yehezkiel diterima dalam pengkanonan Ibrani sebagai kumpulan kitab-kitab suci. Pengkanonan ini yang kemudian disebut sebagai Kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam berbagai terjemahan, seperti Targum, Septuaginta, Vulgata dan terjemahan-terjemahan lainnya. Adapun kitab nabi Yehezkiel digolongkan ke dalam kitab nabi-nabi (Nebiim). Kitab nabi Yehezkiel termasuk ke dalam nabi-nabi yang kemudian, yaitu sebagai nabi-nabi besar. Kitab nabi-nabi ini mulai disusun dalam pembuangan sampai masa setelah pembuangan. Dan justru kitab-kitab nabi-nabi inilah yang memberitahukan runtuhnya Yerusalem serta yang nubuat-nubuatnya kesampaian. Ketiga nabi-nabi besar dan dua belas nabi-nabi kecil, diperkirakan telah dibukukan sebelum tahun 200 SM.

Konteks Terbatas (Penulis)[4]
Kitab Yehezkiel ditulis oleh Yehezkiel sendiri.[5] Latar belakang sejarah Kitab Yehezkiel ialah Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Nebukadnezar telah membawa tawanan orang Yahudi dari Yerusalem ke Babel dalam tiga tahap:

Ø Pada tahun 605 SM, pemuda-pemuda Yahudi pilihan dibawa ke Babel, antara lain Daniel dan ketiga sahabatnya.
Ø Pada tahun 597 SM, 10.000 tawanan dibawa ke Babel, di antaranya Yehezkiel.
Ø Pada tahun 586 SM, pasukan Nebukadnezar telah membinasakan kota dan Bait Sucinya, lalu membawa sebagian besar orang yang tidak terbunuh ke Babel.

Pelayanan Yehezkiel sebagai nabi terjadi pada masa sejarah PL yang paling gelap: tujuh tahun sebelum kebinasaan itu pada tahun 586 SM (593-586 SM) dan 15 tahun setelah kebinasaan itu (586-571 SM). Kitab ini mungkin selesai sekitar tahun 570 SM. Jadi masa penulisan kitab Yehezkiel dapat diperkirakan terjadi antara tahun 590-570 SM.
Pada masa pembuangan Babel itu, kenabian Israel mengalami perubahan besar. Nabi Yehezkiel dan Deutro-Yesaya merupakan tokoh besar yang mengubah kenabian Israel menjadi gejala kesusasteraan. Bukan hanya itu, nabi Yehezkiel menjadi nabi yang tersendiri, yang bercorak pro-kultus. Yehezkiel mengambil sikap yang positif terhadap kultus, ibadah dan ritus-ritus di tempat suci.[6]

Konteks Sosial-Politik[7]
Kitab Yehezkiel menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi yang diasingkan sejak tahun 597 SM hidup berkelompok-kelompok di daerah-daerah negeri Babel yang kosong atau yang jarang penduduknya. Orang-orang Yahudi dianggap sebagai “transmigran” yang dipakai pemerintah untuk membuka dan mengolah tanah baru. Merekapun dapat berdagang dan mencapai kesejahteraan lumayan. Mungkin sebagian kaum buangan kadang-kadang dikerahkan untuk kerja rodi pada bangunan-bangunan besar yang banyak ditangani raja Nebukadnezar. Kaum buangan Yahudi memiliki kebebasan terbatas. Mereka dipimpin oleh kaum tua-tua yang berulangkali tampil dalam kitab Yehezkiel 8:1, 14:1, dan 20:1.

Tafsiran Teks

Nabi Yehezkiel dibawa dalam penglihatan ke pintu gerbang Timur[8] dari Bait Allah oleh Roh (/rûªH/angin/nafas – tidak jelas apakah rûªH ini adalah Roh Tuhan, karena tidak ada keterangan) Di situ ia mengucapkan nubuatan melawan pemimpin-pemimpin yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Kata “periuk”[9] yang muncul di ayatnya yang ketiga, mungkin dimaksudkan kepada hati para pemimpin yang telah menyimpang dari ketetapan-ketetapan Tuhan. Mereka mengabaikan peringatan dari nabi-nabi; mereka merasa mampu mengatasi persoalan-persoalan mereka. Mungkin sikap mereka dipengaruhi oleh keberhasilan mereka mengatasi penyerbuan pada tahun 597 SM.[10]

Istilah mengenai “anak manusia” pada ayat 2, merupakan gelar yang digunakan untuk menekankan sifat nabi sebagai manusia, dan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan sumber berita itu sendiri, yaitu Allah. Istilah Ben-´Ã¤däm/ben-adam atau “anak manusia” mungkin juga menekankan sifatnya sebagai makhluk insani yang rendah.[11]

Pada ayat 3, frase mengenai rumah yang telah dibangun memiliki banyak arti dan salah satunya mau menyatakan bentuk penolakkan terhadap suatu visi bangunan di masa yang akan datang atau masa depan.[12] Maksud dari ungkapan “Kota inilah periuk dan kita dagingnya” mau menyatakan bahwa tembok-tembok kota akan melindungi mereka, seperti sebuah periuk melindungi daging dari api; karena itu peringatan dari nabi dapat diabaikan.[13]

Ayat 4, Allah menyatakan hukumannya melalui nubuat yang akan diberikan kepada hambanya. Nubuat ini akan menghukum orang-orang yang telah menyombongkan diri sebagaimana yang dikatakan pada ayat 3.

Ayat 5, rumah yang didirikan oleh umat sebenarnya untuk kepentingan diri mereka sendiri, yang menganggap diri mereka sebagai pengganti yang sah dan yang mewarisi hak-hak yang dikuasai oleh umat Allah.[14] Sebenarnya Allah mengetahui isi hati mereka.

Ayat 6, bangsa Israel telah menyatakan diri sebagai wakil Allah yang sah, misalnya dengan menyatakan bahwa rumah-rumah Israel telah dibangun kembali (ayat 3). Mereka mau menyatakan sebagai orang-orang pilihan yang memiliki arti penting di dunia. Namun, di sisi lain mereka mau mencari posisi yang aman bagi diri mereka, yaitu dengan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.[15]

Ayat 7, hanya orang-orang yang menjadi korban dari persekongkolan pembunuhan itu yang akan menikmati keamanan kota itu. Pembunuh-pembunuh itu akan digiring ke luar (ay. 9) dan akan dihukum (dibunuh) dekat perbatasan tanah Israel (ay. 10). Mengenai penggenapan ayat ini lihat II Raja-raja 25:18-21.[16]

Ayat 8, pedang menunjukkan hukuman Allah atas mereka yang berlaku kejam dan menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah.

Pada ayat 9 sampai ayat 11 menggambarkan bagaimana dahsyatnya hukuman Tuhan atas orang-orang yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Tuhan. Di ayat yang ke-11 dikatakan bahwa tempat penghukuman bagi mereka adalah di tanah Israel meskipun mereka saat ini berada di dalam pembuangan.

Ayat 12, menekankan kembali bahwa ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan Allah harus menjadi yang utama di dalam hidup umat.

Perikop ini diakhiri dengan teriakan nabi Yehezkiel pada ayat 13, yaitu “Aduh, Tuhan Allah, apakah Engkau menghabiskan sisa Israel?” Yehezkiel mengeluh akan kehancuran Bait Allah, sebagaimana ia mengeluhkan ketika Allah mencurahkan amarah-Nya untuk memusnahkan seluruh sisa Israel (Yeh. 9:8). Sukar untuk memahami bagian ini, terutama yang menyangkut kematian Pelaca bin Benaya. Kemungkinan orang buangan mendengar kelak kematian Pelaca dan dengan takut-takut menghubungkannya dengan penglihatan nabi Yehezkiel tentang penghakiman Allah.[17]

Kesimpulan Teologis
Hukuman Tuhan senantiasa berlaku bagi orang-orang yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan-Nya. Siapapun mereka, apakah orang terkemuka, pemimpin rohani atau sekuler, imam ataupun pemuka agama semua tidak lepas dari hukuman Allah, ketika mereka mulai menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Serta Orang-orang yang merugikan dan mencelakakan banyak orang, kehidupannya akan berakhir dengan mengenaskan (kematian/pedang).

Hermeneutik dalam Konteks Penulis Teks
Dalam bagian ini penulis mau mengingatkan umat yang berada di pembuangan Babel untuk tetap setia pada ketetapan-ketetapan Allah. Hukuman-hukuman yang digambarkan dalam perikop ini mau menunjukkan keseriusan Allah akan kesetiaan umat-Nya. Keberhasilan umat dalam mengatasi akibat dari serangan pada tahun 597 SM tidak perlu membuat umat menjadi sombong dan mengabaikan peringatan-peringatan para nabi.
Secara ringkas pesan kitab Yehezkiel dalam konteks penulis teks, minimal dapat dilihat dari dua hal berikut:[18]

a. Penulis Melawan Optimisme Orang-orang Buangan
Panggilan Yehezkiel 593 SM adalah setelah empat tahun peristiwa tahun 597, yakni pendudukan dan penjajahan Yerusalem oleh tentara Babel (bnd. II Raj. 24:8-17). Kerajaan Yehuda di bawah pemerintahan Zedekia nampaknya sudah mulai “normal” kembali, sedangkan kaum elit yang terbuang ke Babel itu semakin condong untuk percaya bahwa tidak lama lagi mereka akan pulang ke negeri asalnya (bnd. Yer. 29). Di sisi lain mereka memahami bahwa seakan-akan apa yang menimpa mereka itu bukan peringatan tegas supaya mereka memutar haluan dengan sungguh hati, melainkan hanya serangan oleh nasib malang semata-mata. Yehezkiel diutus untuk menentang optimisme itu. Pertama-tama di antara kaum buangan, di tempat perasingannya sendiri.

b. Menantang Israel, Kaum Pemberontak
Israel telah mendurhaka, yaitu pertama-tama mereka melanggar di bidang ibadah. Namun, pendurhakaan itu tidak terbatas pada bidang ibadah semata-mata. Yehezkiel menentang segala jenis ketidakadilan dan penindasan hukum yang merajarela yang dilakukan oleh umat. Semua lapisan masyarakat di bawah pimpinan raja, pemuka, imam dan nabi (Yeh. 22:23-31) turut memberontak dan kejahatan mereka (Yeh. 22:6-12) justru memperlihatkan bagaimana pelanggaran-pelanggaran terhadap Allah. Selain di bidang “agama”, “susila” dan “sosial” Israel bersalah juga di bidang “politik”, yakni di dalam tindak-tanduk mereka sebagai bangsa yang berhadapan dengan bangsa-bangsa di sekitarnya.
Kecaman Yehezkiel memuncak ketika Yerusalem diumpamakan sebagai “pohon anggur yang tak berguna” (Yeh. 15:1-8). Yehezkiel dalam kecamannya mau menyatakan bahwa, pohon anggur yang bernama Yerusalem itu tak berguna dalam keadaan utuh, maka tak ada gunanya lagi, selain untuk dibakar sampai hangus (ay. 4-6).

Hermeneutik Penafsir dalam Konteks Sekarang
Hukuman Allah tetap berlaku bagi mereka yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah atau firmannya. Pemimpin-pemimpin rohani khususnya dalam gereja, seperti Pendeta, Penatua, Majelis jemaat tidak bisa bermain-main dan mengelabui Tuhan dalam pelayanan mereka. Tuhan akan senantiasa konsisten menghukum siapa saja yang mulai menyimpang dari ketetapan-ketetapan-Nya.

Kesimpulan
Yehezkiel 11:1-13 secara khusus berbicara mengenai hukuman Allh kepada umat Israel, khususnya para pemimpin-pemimpin Israel yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Kebanyakan ahli mengatakan bahwa kitab Yehezkiel ditulis oleh Yehezkiel sendiri. Latar belakang sejarah kitab Yehezkiel ialah Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Pada masa pembuangan Babel, kenabian Israel mengalami perubahan besar. Nabi Yehezkiel dan Deutro-Yesaya merupakan tokoh besar yang mengubah kenabian Israel menjadi gejala kesusasteraan. Bukan hanya itu, nabi Yehezkiel menjadi nabi yang tersendiri, yang bercorak pro-kultus.



[1] Tulisan ini adalah paper saya dan telah dipresentasikan tanggal 30 April 2009 dalam mata kuliah Hermeneutik Perjanjian Lama IV, yang diampu oleh Dr. Barnabas Ludji.
[2] Paragraf ini dikutip dari: www.gky.or.id/gema2
[3] Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: 2005), hal. 10-12.
[4] Dikutif dari situs sabda: www.sabda.org/sejarah/full_life, Kitab Yehezkiel.
[5] Lihat www.gky.or.id/gema2, Pengantar Kitab Yehezkiel.
[6] Prof. Wismoady Wahono Ph.D, Di Sini Kutemukan, (Jakarat: 1994), hal. 251.
[7] Dr. C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, (Yogyakarta:1991), hal. 270
[8] Pintu gerbang merupakan tembok pertahanan suatu kota. Sebagaimana dujelaskan pada Yeh. 11:1 pintu gerbang Timur adalah pintu yang menghadap ke sebelah timur dari Bait Allah/rumah Tuhan.
[9] Kata sîr pada ayat 3, 7, dan ayat 11 yang dalam LAI diterjemahkan “periuk”, penggunaannya sudah cukup tepat. Kata sîr dapat juga diterjemahkan kail, kait, duri, atau onak. Kata ini dalam penggunaannya di ayat 3, 7 dan 11 selalu dihubungkan oleh partikel konjungsi le> (dan) dengan kata BäSär yang diterjemahkan oleh LAI “daging”.
[10] Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta:2006), 519.
[11] C. Bart, Theologia Perjanjian Lama 4, (Jakarta:1993), 85.
[12] Eichrodt, The Old Testament Library: Ezekiel, (Philadelphia: 1970), 136.
[13] Ibid, Tafsiran Alkitab Masa Kini.
[14] Eichrodt, Ibid, 137.
[15] Eichrodt, Ibid, 138.
[16] Ibid, Tamki, 520.
[17] Dianne Bergant & Robert J. Karis (ed), Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, (Yogyakarta:2002), 597.
[18] C. Bart, Ibid, 86-95.

Wednesday, April 1, 2009

RINGKASAN KATEKISMUS HEIDELBERG


Katekismus Heidelberg merupakan ajaran iman Kristen atau doktrin Kristen yang disusun oleh Zacharias Ursinus dan Caspar Olevianus pada tahun 1563 atas permintaan pangeran Frederik III. Pada tahun 1564 ajaran katekismus ini disahkan sebagai ajaran resmi di wilayah Palatinate. Katekismus ini disusun dalam bentuk tanya-jawab. Teologinya bercorak Calvinis, namun jiwanya merupakan perpaduan antara Lutheran, Melanchthon dan Calvin.[2] keseluruhan isinya berisi 129 ayat dan terbagi dalam tiga bagian besar. Dua ayat pertama berisi pengantar mengenai penghiburan bagi orang Kristen, yang kemudian disusul bagian pertama yang berisi tentang sengsara manusia. Bagian kedua berisi tentang kelepasan manusia. Sedangkan bagian ketiga berisi mengenai ucapan syukur yang wajib dipersembahkan kepada Allah karena kelepasan itu. Berikut adalah ringkasan dari pertanyaan dan jawaban dari katekismus Heidelberg:

1. Penghiburan saya pada waktu hidup maupun pada waktu mati.
Aku dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati: a) aku bukan milikku tetapi milik Kristus; b) darah Kristus melunasi dosaku; c) darah Kristus melepaskan aku dari murka, d) memulihkan aku, e) menjadikan aku rela dan siap mengabdi kepada-Nya.

2. Pokok-pokok yang perlu diketahui sebagai penghiburan supaya hidup bahagia.
a) dosa dan sengsaraku besar; b) aku harus terlepas dari dosa dan sengsara; c) bersyukur atas kelepasan.

Bagian Pertama: Sengsara Manusia
3. Sengsara diketahui melalui hukum Taurat (Roma 3:20).

4. Hukum Taurat menuntut, supaya kita mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37-40).

5. Kita tidak dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, karena kodrat kita cenderung membenci Allah dan sesama.


6. Allah tidak menjadikan manusia jahat atau buruk, karena: a) Allah menjadikan manusia baik menurut gambarnya; b) supaya manusia mengenal ciptaan-Nya, mengasihi-Nya, memuji dan memuliakan-Nya.

7. Asal watak buruk manusia adalah dari kejatuhannya ke dalam dosa dan ketidaktaatan nenek moyang.


8. Kita sama sekali tidak sanggup berbuat baik dan cenderung berbuat jahat, kecuali kita dilahirkan kembali oleh roh Allah.

9. Allah tidak menuntut dalam hukumnya sesuatu yang tidak sanggup dilaksanakan manusia, karena: a) Allah menjadikan manusia untuk sanggup malaksanakannya; b) tetapi oleh bisikan iblis nmanusia menjadi tidak taat.


10. Allah tidak membiarkan ketidaktaatan dan kemurtadan tanpa hukuman: Dia hendak menghukumnya dengan hukuman yang adil, baik di dunia maupun di akhirat.

11. Allah sungguh penyayang, tetapi Dia juga adil dan keadilan-Nya menuntut agar dosa dihukum dengan hukuman yang kekal atas tubuh dan jiwa.

Bagian Kedua: Kelepasan Manusia12. Untuk luput dari hukuman Allah yang adil, kita memenuhi tuntutan keadilan-Nya. Sebab itu, kita wajib melaksanakan pelunasan sepenuhnya, apakah dengan upaya sendiri atau pihak lain.

13. Kita tidak dapat melaksanakan pelunasan dengan usaha sendiri, bahkan tiap-tiap hari kita menambah hutang kita.


14. Kita tidak mungkin menemukan makhluk lain, untuk melaksanakan pelunasan ini: a) Allah tidak mau menjatuhkan hukuman terhadap makhluk lain; b) tidak ada makhluk semata yang dapat menanggung murka Allah.

15. Seorang Pengantara dan Penebus yang perlu kita cari adalah: a) manusia sejati dan benar; b) kekuatannya melebihi segala makhluk; c) Allah yang sejati.


16. Dia harus manusia sejati dan benar, karena: a) seorang manusia tidak sanggup melakukan pembayaran untuk dosa orang lain; b) manusia seorang berdosa.

17. Dia harus juga Allah sejati, karena: a) dengan kuasa keallahan-Nya Dia dapat menanggung murka Allah; b) memperoleh kebenaran dan kehidupan.

18. Pengantara itu adalah Tuhan kita Yesus kristus, yang dikaruniakan Allah kepada kita.

19. Kita mengetahui hal itu, dari Injil yang kudus.

20. Tidak semua orang diselamatkan oleh Kristus, tetapi hanya mereka yang oleh iman yang sejati dijadikan anggota tubuh-Nya dan menerima seluruh karunia-Nya.


21. Iman yang sejati itu adalah keyakinan atau pengetahuan yang pasti, yang membuat kita mengakui sebagai kebenaran yang dinyatakan Allah kepada kita di dalam firman-Nya: a) dikerjakan dalam hatiku; b) melalui Injil; c) isinya pengampunan dosa, kebenaran dan keselamatan; d) dikaruniakan kepada semua orang.

22. Orang Kristen perlu mengimani segala sesuatu yang dijanjikan di dalam Injil yang diajarakan melalui pasal-pasal pengakuan iman Kristen yang am dan pasti.

23. Pasal-pasal pengakuan iman: 1) Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi. 2) Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, 3) yang dikandung dari roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, 4) yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, 5) pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, 6) naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa Yang Mahakuasa, 7) dan akan datang dari sana untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. 8) Aku percaya kepada Roh Kudus. 9) Aku percaya adanya gereja (Kristen) yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, 10) pengampuan dosa, 11) kebangkitan daging 12) dan hidup yang kekal.

24. Pengakuan iman dibagi atas tiga bagian: a) mengenai Allah Bapa dan penciptaan; b) mengenai Allah Anak dan penebusan; c) mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.

25. Meskipun hanya ada satu zat saja, kita menyebut Bapa, Anak dan Roh Kudus, karena: a) demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya; b) Ketiga Pribadi yang berbeda-beda itu merupakan Allah yang esa, yang sejati dan kekal.

Allah Bapa dan Penciptaan Kita26. Ketika kita berkata, aku percaya kepada Allah Bapa, yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, berarti kita percaya bahwa: a) Bapa telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya; b) memelihara dan memerintah menurut rencana-Nya yang kekal.

27. Pemeliharaan Allah adalah kekuatan Allah, Yang Mahakuasa dan yang hadir di segala tempat.

28. Manfaat kita tahu bahwa Allah talah menciptakan segala sesuatu dan memeliharanya, kita dapat bersabar di dalam kesusahan dan bersyukur dalam kelimpahan.

Allah Anak dan Penebusan Kita29. Anak Allah dinamakan Yesus, yang artinya “Juruselamat”, karena Dia menyelamatkan kitadari semua dosa kita.
30. Orang-orang yang mencari keselamatan pada orang-orang kudus atau pada dirinya sendiri, tidak percaya kepada yesus, Juruselamat satu-satunya, mereka nyata-nyata menyangkal Yesus, meskipun dengan mulut mereka bermegah di dalam Dia.

31. Dia dinamakan Kristus, yang artinya “Yang Diurapi”, karena Dia telah ditetapkan Allah Bapa dan diurapi Roh Kudus, menjadi nabi dan guru, Imam Besar dan raja kita. Sebagai nabi dan guru kita yag tertinggi.

32. Kita disebut orang Kristen, karena melalui iman kita adalah anggota tubuh Kristus dan dengan demikian kita mendapat bagian dalam pengurapan-Nya.

33. Kristus dinamakan Anak Allah yang tunggal, padahal kitapun anak-anak Allah: a) sebab hanya Kristus saja yang adalah Anak Allah yang sehakikat dan yang sama-sama kekal; b) kita diangkat menjadi anak-anak Allah karena Kristus, berdasarkan kasih karunia.

34. Kita menyebut Yesus sebagai tuhan kita, sebab Dia telah menebus kita, tubuh dan jiwa, bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya.

35. Arti dari “yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria” adalah bahwa di dalam Anak Allah yang kekal itu tinggal Allah yang sejati dan kekal, yang telah mengenakan tabiat manusia sejati dari daging dan darah anak dara Maria oleh karya Roh Kudus.

36. Manfaat yang kita peroleh dari kenyataan bahwa Kristus telah dikandung secara suci dan lahir adalah, bahwa Dia Pengantara kita yang sempurna dan di hadapan Allah, Dia menutupi dosa kita, yang telah kita sandang sejak kita dikandung dan dilahirkan.

37. Arti kata menderita adalah, bahwa Dia telah mennggung murka Allah atas seluruh dosa umat manusia pada tubuh dan jiwa-Nya.

38. Kristus menderita di bawah hakim Pontius Pilatus, supaya Dia walaupun tidak bersalah, dihukum di hadapan pengadilan dunia, dan dengan demikian meluputkan kita dari hukuman Allah yang keras.

39. Kematian Krisyus mempunyai arti lebih besar, sebab Dia telah menanggung kutuk yang ada atas diri kita.

40. Kristus merendahkan diri sampai mati, sebab menurut keadilan dan kebenaran Allah, hutang dosa-dosa kita tidak dapat dilunasi dengan cara lain kecuali dengan kematian Anak Allah.

41. Dia dikuburkan, supaya dengan demikian ditegaskan bahwa Dia telah benar-benar mati.

42. Kristus telah mati untuk kita, maka kita juga harus mati tetapi bukan karena pelunasan hutang dosa-dosa kita, melainkan kematian bagi dosa dan pintu masuk ke dalam hidup yang kekal.

43. Hal lain yang kita peroleh dari pengorbanan dan kematian Kristus adalah manusia lama kita ikut disalibkan, dimatikan dan dibukurkan bersama dengan Dia, supaya hawa nafsu daging tidak berkuasa lagi di dalam kita.

44. Dalam pengakuan iman ditambahkan „turun ke dalam kerajaan maut“, supaya dalam godaan-godaan yang paling sengit sekalipun, kita mendapat keyakinan dan hiburan yang sungguh-sungguh bahwa Yesus telah melepaskan kita dari ketakutan dan kesakitan neraka.

45. Manfaat kebangkitan Kristus bagi kita: a) memberikan kepada kita kebenaran yang telah diperolehnya melalui kematian-Nya; b) dengan kuasa kebangkitan-Nya kita dibangkitkan untuk menempuh hidup baru; c) menjadi jaminan kebangkitan kita yang membahagiakan.

46. Arti naik ke sorga adalah, bahwa Dia berada di sana untuk kebaikan kita, sampai Dia datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

47. Kristus menyertai kita sampai kepada akhir zaman meskipun menurut kemanusiaan-Nya Dia tidak bersama-sama dengan kita, tetapi menurut keallahan, kemuliaan, anugerah dan Roh-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita.

48. Keallahan Kristus tidak terpisah, meskipun kemanusiaan-Nya tidak hadir bersama kita, karena keallahan itu memang berada di luar kemanusiaan yang telah dikenakan-Nya, namun berdiam juga di dalamnya dan tetap bersatu dengan-Nya menjadi satu Pribadi.

49. Manfaat kenaikan Kristus ke sorga adalah: a) menjadi Jurusyafaat; b) menjadi Kepala dan akan menyambut kita; c) kita mencari perkara yang di atas bukan yang di bumi.

50. Kata-kata “duduk di sebelah kanan Allah“ di tambahkan, karena Kristus telah naik ke sorga, supaya di sana Dia menyatakan diri-Nya sebagai Kepala Gereja Kristen yang menjadi milik-Nya.

51. Manfaat kemuliaan Kristus bagi kita adalah Dia mencurahkan karunia-karunia sorgawi ke dalam diri kita dan dengan kuasa-Nya Dia melindungi dan memelihara kita terhadap semua musuh.

52. Penghiburan yang kita peroleh dari kedatangan Kristus kembali adalah Dia membuang semua musuh-Nya, yang adalah juga musuh kita, ke tempat kutuk yang kekal, tetapi akan menyambut kita bersama dengan semua orang pilihan-Nya dalam kesukaan dan kebahagiaan yang sorga.

Allah Roh Kudus dan Pengudusan Kita53. Yang saya percayai tentang Roh Kudus: a) Dia bersama Bapa dan Anak adalah Allah yang sejati dan kekal; b) membuat kita mendapat bagian dalam Kristus; c) menghibur kita; d) menyertai kita selama-lamanya.

54. Yang saya percayai tentang Gereja yang kudus dan am adalah, bahwa Anak Allah oleh Roh dan Firman-Nya, sejak awal dunia ini sampai akhir zaman, mengumpulkan, melindungi dan memelihara bagi-Nya dari segenap manusia dalam kesatuan iman yang benar untuk beroleh hidup yang kekal.

55. Persekutuan orang kudus berarti, bahwa semua orang beriman dan tiap-tiap orang beriman secara perseorangan, sebagai anggota Kristus, mendapat bagian dalam Dia serta semua karunia-Nya dan mempergunakan karunia yang didapatnya demi kebaikan dan keselamatan anggota lain.

56. Dalam pengampunan dosa Allah sama sekali tidak mengingat lagi dosa-dosa kita, sebaliknya Dia menganugerahkan kebenaran Kristus kepada kita.

57. Kita memperoleh penghiburan dari kebangkitan daging, bahwa sesudah hidup ini bukan hanya jiwa kita yang akan diangkat kepada Kristus, melainkan juga daging kita akan dibangkitkan oleh kuasa Kristus.

58. Kita dapat merasakan penghiburan dari hidup yang kekal, karena sekarang ini juga kita telah merasakan dalam hati kesukaan yang kekal.

Pembenaran Oleh Iman59. Jika kita percaya kepada semua hal ini, maka di dalam Kristus kita benar di hadapan Allah dan dijadikan ahli waris hidup yang kekal.

60. Kita benar dihadapan Allah hanya oleh iman yang sejati kepada Yesus Kristus.

61. Kita benar oleh iman, bukan karena layaknya iman kita sehingga membuat Allah berkenan kepada kita, melainkan hanya oleh pelaksanaan pelunasan oleh Kristus.

62. Perbuatan baik kita tidak dapat menjadi tidak dapat menajdi kebenaran di hadapan Allah, karena kebenaran yang dapat bertahan dihadapan pengadilan Allah harus sungguh-sungguh sempurna dan dalam segala hal sesuai dengan hukum Allah.

63. Perbuatan baik kita tidak menghasilkan ganjaran, tetapi ganjaran itu terjadi bukan berdasarkan amal melainkan berdasarkan rahmat saja.

64. Ajaran ini tidak membaut manusia tidak peduli dan fasik, karena barang siapa yang telah menjadi anggota tubuh Kristus, tidak dapat tidak menghasilkan perbuatan baik.

Sakramen-Sakramen65. Datangnya iman yang membuat kita mendapat bagian, datang dari Roh Kudus, yang bekerja menciptakan iman itu dalam hati kita melalui pemberitaan Injil.

66. Sakramen adalah tanda dan meterai yang kudus serta kasatmata, yang telah ditetapkan Allah.

67. Firman dan Sakramen ditetapkan sebagai dasar keselamatan satu-satunya melalui kurban Yesus Kristus pada kayu salib. Sedangkan Roh Kudus mengajarkan kepada kita dalam Injil dan meneguhkan melalui sakramen.

68. Sakramen yang ditetapkan Kristus dua, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.

BaptisanKudus69. Kita diingatkan dan diyakinkan dalam Baptisan Kudus dengan Kristus telah menetapkan permandian lahiriah ini, disertai janji.

70. Dengan dibasuh dengan darah dan Roh Kristus, kita mendapat pengampunan dosa dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita dengan pengurbanan-Nya pada kayu salib.

71. Kristus berjanji mau membasuh kita dengan darah dan Roh-Nya dalam penetapan Baptisan, yang berbunyi sebagai berikut, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus“ (Mat. 28:19).

72. Permandian lahiriah bukan pembasuhan dari dosa-dosa, karena hanya darah Kristus dan Roh Kudus yang membasuh kita dari segala dosa.

73. Alasan Roh Kudus menamakan Baptisan itu “permandian kelahiran kembali“ karena Allah berfirman demikian hendak mengajar kita bahwa, sama seperti kotoran tubuh dihilangkan dengan air, demikian juga segala dosa kita dihilangkan oleh darah dan Roh Yesus Kristus.

74. Anak-anak kecil harus dibaptis, karena mereka termasuk dalam perjanjian Allah dan dalam jemaat-Nya, sama seperti orang-orang dewasa. Melalui darah Kristus, mereka tidak kurang daripada orang dewasa.

Perjamuan Kudus
75. Kita diingatkan dan diyakinkan dalam Perjamuan Kudus, bahwa kita mendapat bagian dalam kurban Kristus dengan Kristus telah memerintahkan kita dan semua orang percaya, supaya makan dari roti yang dipecah-pechkan dan dari cawan agar perbuatan itu menjadi peringatan bagi Dia.

76. Arti “makan tubuh Kristus yang disalibkan“ dan “minum darah-Nya yang tertumpah“ adalah, bahwa kita menerima seluruh penderitaan dan kematian Kristus dengan hati yang percaya, dan dengan demikian memperoleh pengampunan dosa-dosa dan hidup yang kekal.

77. Kristus berjanji, sebagaimana orang percaya makan dari roti yang dipecah-pecahkan dan minum dari cawan, sepasti itu juga Dia akan mengenyangkan kita dengan tubuh-Nya dan menyegarkan kita dengan darah-Nya, dalam perjamuan malam.
78. Roti dan anggur tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya. Sebagaimana air dalam baptisan tidak diubah menjadai darah Kristus, dan tidak menjadi pembasuh dari dosa-dosa itu, tetapi hany merupakan tanda dan jaminan dari Allah.

79. Kristus menyebut roti itu “tubuh-Nya“ dan anggur itu “darah-Nya“, karena dengan demikian Dia mengajar kita bahwa, sama seperti roti dan anggur memelihara hidup kita di dunia ini, demikian pula tubuh-Nya yang telah disalibkan dan darah-Nya yang ditumpahkan itu merupakan makanan dan minuman yang sesungguhnya bagi jiwa kita untuk hidup yang kekal.


80. Perbedaan Perjamuan Malam Tuhan dengan “Misa“ Gereja Katolik Roma: a) Perjamuan malam Tuhan menegaskan kepada kita, bahwa kita telah beroleh pengampunan sempurna atas segala dosa kita oleh kurban Yesus Kristus satu-satunya, yang telah dipersembahkan-Nya sendiri satu kali saja di akyu salib; b) Misa mengajarkan bahwa orang yang hidup dan yang mati tidak memperoleh pengampunan dosa karena penderitaan Kristus, kecuali kalau Kristus tiap-tiap hari dikurbankan lagi bagi mereka oleh imam-imam Misa, dan bahwa Kristus dengan tubuh-Nya hadir dalam rupa roti dan anggur, dan karena itulah harus disembah dalam roti dan anggur itu.

81. Perjamuan Malam Tuhan ditetapkan untuk mereka yang menyesali dirinya karena dosa-dosanya, namun tetap percaya bahwa dosanya itu telah diampuni karena Kristus dan bahwa juga segala kelemahan yang masih tertinggal ditutup oleh penderitaan serta kematian-Nya.

82. Mereka yang bertindak sebagai orang tidak percaya dan fasik tidak diizinkan turut serta dalam Perjamuan Kudus, karena dengan demikian perjanjian Allah dinajiskan dan murka–Nya dibangkitkan atas seluruh jemaat.

83. Kunci-kunci kerajaan sorga adalah pemberitaan Injil yang kudus dan pengucilan resmi atau pemutusan hubungan dengan jemaat Kristen.

84. Menurut perintah Kristus, kerajaan sorga dibuka dan ditutup melalui pemberitaan Injil yang kudus, kepad semua orang percaya, dan kepada tiap-tiap orang percaya secara perseorangan, diberitakan dan ditegaskan dengan nyata.

85. Melalui pengucilan resmi dari jemaat Kristen, kerajaan sorga ditutup dan dibukakan, menurut perintah Kristus.

Bagian Ketiga: Syukur yang Wajib Dipersembahkan Kepada Allah Karena Kelepasan Itu
86. Kita masih perlu melakukan perbuatan baik, karena Kristus setelah menebus kita dengan darah-Nya, juga membarui kita melalui Roh-Nya yang kudus menjadi serupa dengan gambar-Nya, supaya kita dengan seluruh kehidupan kita memberi syukur kepada Allah karena anugerah-Nya.

87. Mereka yang berkanjang dalam hidup yang fasik dan tidak mengenal syukur, dan tidak bertobat sama sekali tidak beroleh selamat.
88. Pertobatan manusia yang sungguh-sungguh terdiri atas dua bagian, yaitu kematian manusia lama dan kebangkitan manusia baru.

89. Kematian manusia lama adalah sungguh-sungguh menyesali bahwa kita telah menimbulkan murka Allah karena dosa kita, dan semakin membenci dan menjauhi dosa itu.

90. Kebangkitan manusia baru adalah sungguh-sungguh bersukacita dalam Allah karena Kristus, dan kita rela serta suka akan hidup sesuai dengan kehendak Allah sambil melakukan segala perbuatan baik.

91. Perbuatan baik hanyalah perbauatan yang timbul dari iman yang sungguh-sungguh, dan yang seturut dengan hukum Taurat Allah untuk memuliakan Dia, bukan perbauatan yang berdasarkan kemauan kita atau aturan manusia.

Hukum Taurat Allah92. Bunyi hukum Taurat Allah, terdapat dalam kitab Keluaran 20:1-17.

93. Kesepuluh hukum itu dibagi atas dua loh batu, yang pertama mengajarkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Allah; yang kedua, apa kewajiban kita terhadap sesama kita manusia.

94. Yang Allah perintahkan dalam perintah yang pertama, agar kita demi keselamatan jiwa, harus menghindari dan menjauhkan diri dari segala penyembahan berhala.

95. Penyembahan berhala ialah mereka-reka atau mempunyai sesuatu yang oleh manusia dijadikan tempat kepercayaan sebagai ganti Allah yang esa dan benar.

96. Yang Allah tuntut dari perintah yang kedua, agar kita jangan sekali-kali membuat gambar Allah dengan cara apapun dan jangan berbakti kepadanya dengan cara lain dari yang telah Dia perintahkan dalam firman-Nya.

97. Allah tidak dapat dan tidak boleh digambarkan dengan cara apapun. Adapun makhluk, meskipun mereka boleh digambarkan atau dibuat patungnya, Allah melarang menyembahnya atau memakainya untuk beribadah kepada-Nya.

98. Kita tidak boleh membiarkan gambar atau patung di gereja dipakai menjadi alat-alat peraga bagi orang-orang Kristen awam, karena kita tidak boleh menganggap diri kitalebih bijaksana daripada Allah, yang menghendaki umatnya diajar bukan dengan gambar atau patung yang bisu.

99. Maksud perintah yang ketiga, agar kita tidak menghujat nama Allah atau menyebutnya dengan sembarangan, bukan hanya dengan mengumpat atau bersumpah dusta, melainkan juga dengan mengucapkan sumpah secara gegabah.

100. Orang yang menghujat nama Allah dengan bersumpah dan mengumpat akan begitu besar dosanya, karena tidak ada dosa yang lebih besar dan yang lebi menimbulkan murka Allah daripada dosa menghujat nama-Nya.

101. Orang boleh bersumpah demi nama Allah dengan maksud saleh, jika pemerintah menuntut hal itu dari rakyat, atau karena keadaan darurat, untuk dengan demikian meneguhkan kesetiaan dan kebenaran, demi kemuliaan nama Allah dan kebaikan sesama kkta manusia.

102. Orang tidak boleh bersumpah demi orang-orang kudus tertentu, karena bersumpah dengan benar adalah berseru kepada Allah supaya Dia, satu-satunya yang mengetahui isi hati manusia, sudi memberikan kesaksian tentang kebenaran dan menghukum kita jika kita bersumpah dusta.

103. Dalam perintah keempat, Allah memerintahkan agar pelayanan gereja, yaitu pemberitaan Firman, dan sekolah-sekolah tetap diselenggarakan, dan agar kita, teristimewa pada hari perhentian dengan setia bergabung dengan jemaat Allah: mendengar Firman, menerima sakramen, bersr=eru kepada Tuhan, dan berderma kepada orang-orang miskin.

104. Yang Allah kehendaki dalam perintah yang kelima, agar kita menghormai, mengasihi, dan setia kepada ibu-bapa kita dan kepada semua orang yang diberi kuasa atas kita, dan tunduk pada pengajaran dan hukuman mereka dengan ketaatan yang patut.

105. Dalam perintah yang keenam, Allah menuntut agar kita, baik sendiri maupun dengan bantuan orang lain, tidak menghina, membenci, menganiaya atau membunuh sesama kita dengan pikiran, perkataan atau sesuatau isyarat, apalagi dengan perbuatan.

106. Dengan melarang pembunuhan, Allah mengajar kita bahwa Dia membenci akar pembunuhan itu, seperti dengki, benci, amarah, dan dendam kesumat yang semua itu sama dengan pembunuhan.

107. Selain melarang dengki, benci, dan amarah, Allah memerintahkan pula, supaya kita mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri, dan bersikap sabar, suka damai, lembut, murah hati, dan ramah terhadap sesama.

108. Ajaran yang terkandung dalam perintah yang ketujuh, bahwa Allah mengutuk segala perbauatan kemesuman, dan karena itu kita harus membencinya dengan sungguh-sungguh, dan menahan hawa nafsu serta hidup sopan.

109. Karena tubuh dan jiwa kita merupakan bait Roh Kudus, Dia menghendaki supaya kita memeliahara kedua-duanya sehingga tetap suci dan murni.

110. Dalam perintah kedelapan Allah tidak hanya melarang pencurian dan perampasan yang dihukum oleh pemerintah; tetapi segala tipu daya yang dirancang untuk memperoleh milik sesama kita manusia juga Dia namakan pencurian.

111. Yang diperintahkan oleh Allah kepada kita dalam perintah dalam perintah kedelapan, agar kita sedapat-dapatnya dan di mana mungkin berupaya demi kemanfaatan sesama kita manusia, dan bertindak terhadapnya sebagaimana kita ingin orang lain bertindak terhadap kita.

112. Yang dikehendaki perintah yang kesembilan, agar kita tidak memberi kesaksian dusta terhadap siapa pun, tidak memutarbalikkan perkataan orang, tidak memfitnah dan menodai nama baik orang, tidak mempersalahkan atau turut mempersalahkan orang secara gegabah dengan tidak mendengarkannya lebih dulu.

113. Yang dituntut perintah yang kesepuluh, agar jangan timbul dalam hati kita keinginan dan pikiran sedikit pun yang melawan perintah Allah. Sebaliknya, agar kita selalu dengan segenap hati menentang segala dosa, dan gemar melakukan segala perbuatan yang benar.

114. Orang yang sudah bertobat, tidak dapat melaksanakan perintah ini dengan sempurna. Namun, begitu rupa, sehingga mereka dengan niat yang sungguh-sungguh, mulai hidup sesuai dengan perintah Allah.

115. Allah menyuruh mengajarkan sepuluh perintah, meskipun tidak ada seorang pun yang sanggup melaksanakannya, agar kita selama hidup makin lama makin mengenal watak kita yang berdosa, dan makin berusaha mendapat pengampunan dosa dan kebenaran di dalam Kristus.

Doa
116. Doa perlu bagi orang Kristen, karena doa adalah bagian utama pemberian syukur yang Allah tuntut dari kita. Dan Allah hendak melimpahkan rahmat-Nya serta Roh Kudus hanya kepada mereka yang dengan berkeluh kesah dan dengan tiada henti-hentinya memohon rahmat serta Roh itu dari-Nya dan mengucap syukur atasnya.

117. Doa yang berkenan kepada Allah dan yang dikabulkan-Nya adalah doa dengan segenap hati, yang berseru hanya kepada Allah yang esa dan sejati, yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita dalam firman-Nya, dan memohon kepada-Nya menurut perintah-Nya.

118. Yang Allah perintahkan agar kita memohon kepada-Nya adalah segala kebutuhan rohani dan jasmani, yang disimpulkan oleh Tuhan Yesus dalam doa yang diajarkan-Nya sendiri kepada kita.

119. Doa bapa kami, berbunyi demikian:
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

120. Kristus memerintahkan kita menyapa Allah Bapa Kami, supaya pada saat mulai kita berdoa, di dalam hati kita segera Dia bangkitkan rasa takut dan percaya kepada Allah, sebagaimana seorang anak kecil terhadap bapaknya. Rasa takut dan percaya itu menjadi dasar doa kita.

121. kata “yang di sorga“ ditambahkan, supaya kemuliaan Allah tidak kita bayangkan secara duniawi, dan supaya segala kebutuhan tubuh dan jiwa hanya kita harapkan dari kemahakuasaan-Nya saja.

122. Dikuduskalah nama-Mu. Artinya, berilah pertama-tama agar kami mengenal Engkau dan menguduskan, memuliakan, serta memuji Engkau karena segala perbuatan-Mu yang menyatakan kemahakuasaan, hikmat, kebaikan, keadilan, kemurahan, dan kebenaran-Mu.

123. Datanglah Kerajaan-Mu. Artinya, perintahkanlah kami melalui Firman dan Roh-Mu sedemikian, sehingga kami makin lama makin tunduk kepada-Mu; pelihara dan kembangkanlah gereja-Mu; binasakanlah segaloa perbauatan iblis; sampai kerajaan-Mu datang dengan sempurna.

124. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Artinya, berilah supaya kami dan sekalian manusia menyangkal kehendak sendiri, dan dengan tidak membantah, mematuhi kehendak-Mu, supaya dengan demikian tiap-tiap orang memenuhi dan melaksanakan tugas panggilannya dengan kerelaaan dan kesetiaan yang sama seperti malaikat-malaikat di sorga.

125. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Artinya, kiranya Engaklau memelihara kami dengan segala yang diperlukan tubuh kami, supaya olehnya kami mengakui bahwa Engkaulah satu-satunya sumber segala kebaikan.

126. Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Artinya, segala keslahan dan sejahatan yang senantiasa melekat pada kami, orang berdosa yang malang ini, janganlah jiranya Kautanggungkan kepada kami, karena darah Kristus, seperti juga kami dapati tanda anugerah-Mu dalam hati kami, yaitu bahwa kami berniat sungguh-sungguh akan mengampuni sesama kami manusia dengan tulus.

127. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Artinya, kami sendiri begitu lemah, sehingga kami tidak sanggup bertahan sesaat pun, tambahan pula musuh kami turun temurun, yaitu iblis, dunia, dan daging kami sendiri, dengan tiada henti-hentinya menyerang kami.

128. Kita mengakhiri doa ini dengan, karena Engkau yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Artinya, semua ini kami mohon kepada-Mu, karena Engkau, sebagai Raja kami dan Yang Mahakuasa, beritikad dan berkuasa mengaruniakan kepada kami segala hal yang baik, dan kami memohon semua ini bukan kami, melainkan Nama-Mu yang kudus dipuji, untuk selama-lamanya.


129. Amin berati, hal ini benar dan pasti. Karena Allah pasti telah mengabulkan doa kita, jauh lebih pasti daripada perasaan hati kita bahwa hal itu kita inginkan dari-Nya.


(Diambil dari buku Katekismus Heidelberg yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indoneia. Diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia).