Labels

Hendi Rusli's Blog Founded on October, 2008

Thursday, April 30, 2009

EKSEGESE YEHEZKIEL 11:1-13


Kitab Yehezkiel merupakan salah satu kitab yang unik dalam Perjanjian Lama. Selain tata bahasa yang digunakannya sangat baik, dimana para ahli menyebutnya "indah", "tinggi", "ringkas & tepat", kitab ini juga banyak menggunakan gambaran dan bahasa yang bersifat eskatologis (bersifat nubuat untuk hal-hal yang akan datang). Kitab ini cukup banyak dikutip, baik langsung maupun tidak langsung, dalam Perjanjian Baru (65 kali), yang terbanyak adalah dalam Kitab Wahyu (48 kali)[2]. Mengenai periodenya, kitab Yehezkiel termasuk ke dalam periode nabi-nabi kemudian, dalam masa pembuangan dan setelah pembuangan.


Pada Yehezkiel pasal 11:1-13 yang akan menjadi pembahasan berikut, Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Pemimpin-pemimpin Israel Dihukum”. Namun, para ahli tidak sepakat mengenai judul yang diberikan pada Yehezkiel pasal 11:1-13. Peter C. Craigie misalnya, memberi judul “Kematian di Gerbang Bait Suci”, Daniel I. Block memberi judul “Sebuah Periuk dari yang Bersusah Hati” dan masih banyak lagi dari para ahli yang memberi judul yang berbeda. Namun, dalam pembahasan ini, penulis setuju dengan judul yang diberikan oleh LAI. Hal tersebut dikarenakan dalam perikop ini memang berbicara tentang hukuman Allah kepada para pemimpin Israel yang telah menyimpang dari ketetapan Tuhan.

Latar Belakang

Konteks Luas (dalam kanon)[3]
Jika dilihat dari konteks kanon, kitab Yehezkiel diterima dalam pengkanonan Ibrani sebagai kumpulan kitab-kitab suci. Pengkanonan ini yang kemudian disebut sebagai Kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam berbagai terjemahan, seperti Targum, Septuaginta, Vulgata dan terjemahan-terjemahan lainnya. Adapun kitab nabi Yehezkiel digolongkan ke dalam kitab nabi-nabi (Nebiim). Kitab nabi Yehezkiel termasuk ke dalam nabi-nabi yang kemudian, yaitu sebagai nabi-nabi besar. Kitab nabi-nabi ini mulai disusun dalam pembuangan sampai masa setelah pembuangan. Dan justru kitab-kitab nabi-nabi inilah yang memberitahukan runtuhnya Yerusalem serta yang nubuat-nubuatnya kesampaian. Ketiga nabi-nabi besar dan dua belas nabi-nabi kecil, diperkirakan telah dibukukan sebelum tahun 200 SM.

Konteks Terbatas (Penulis)[4]
Kitab Yehezkiel ditulis oleh Yehezkiel sendiri.[5] Latar belakang sejarah Kitab Yehezkiel ialah Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Nebukadnezar telah membawa tawanan orang Yahudi dari Yerusalem ke Babel dalam tiga tahap:

Ø Pada tahun 605 SM, pemuda-pemuda Yahudi pilihan dibawa ke Babel, antara lain Daniel dan ketiga sahabatnya.
Ø Pada tahun 597 SM, 10.000 tawanan dibawa ke Babel, di antaranya Yehezkiel.
Ø Pada tahun 586 SM, pasukan Nebukadnezar telah membinasakan kota dan Bait Sucinya, lalu membawa sebagian besar orang yang tidak terbunuh ke Babel.

Pelayanan Yehezkiel sebagai nabi terjadi pada masa sejarah PL yang paling gelap: tujuh tahun sebelum kebinasaan itu pada tahun 586 SM (593-586 SM) dan 15 tahun setelah kebinasaan itu (586-571 SM). Kitab ini mungkin selesai sekitar tahun 570 SM. Jadi masa penulisan kitab Yehezkiel dapat diperkirakan terjadi antara tahun 590-570 SM.
Pada masa pembuangan Babel itu, kenabian Israel mengalami perubahan besar. Nabi Yehezkiel dan Deutro-Yesaya merupakan tokoh besar yang mengubah kenabian Israel menjadi gejala kesusasteraan. Bukan hanya itu, nabi Yehezkiel menjadi nabi yang tersendiri, yang bercorak pro-kultus. Yehezkiel mengambil sikap yang positif terhadap kultus, ibadah dan ritus-ritus di tempat suci.[6]

Konteks Sosial-Politik[7]
Kitab Yehezkiel menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi yang diasingkan sejak tahun 597 SM hidup berkelompok-kelompok di daerah-daerah negeri Babel yang kosong atau yang jarang penduduknya. Orang-orang Yahudi dianggap sebagai “transmigran” yang dipakai pemerintah untuk membuka dan mengolah tanah baru. Merekapun dapat berdagang dan mencapai kesejahteraan lumayan. Mungkin sebagian kaum buangan kadang-kadang dikerahkan untuk kerja rodi pada bangunan-bangunan besar yang banyak ditangani raja Nebukadnezar. Kaum buangan Yahudi memiliki kebebasan terbatas. Mereka dipimpin oleh kaum tua-tua yang berulangkali tampil dalam kitab Yehezkiel 8:1, 14:1, dan 20:1.

Tafsiran Teks

Nabi Yehezkiel dibawa dalam penglihatan ke pintu gerbang Timur[8] dari Bait Allah oleh Roh (/rûªH/angin/nafas – tidak jelas apakah rûªH ini adalah Roh Tuhan, karena tidak ada keterangan) Di situ ia mengucapkan nubuatan melawan pemimpin-pemimpin yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Kata “periuk”[9] yang muncul di ayatnya yang ketiga, mungkin dimaksudkan kepada hati para pemimpin yang telah menyimpang dari ketetapan-ketetapan Tuhan. Mereka mengabaikan peringatan dari nabi-nabi; mereka merasa mampu mengatasi persoalan-persoalan mereka. Mungkin sikap mereka dipengaruhi oleh keberhasilan mereka mengatasi penyerbuan pada tahun 597 SM.[10]

Istilah mengenai “anak manusia” pada ayat 2, merupakan gelar yang digunakan untuk menekankan sifat nabi sebagai manusia, dan ini dimaksudkan untuk membedakan dengan sumber berita itu sendiri, yaitu Allah. Istilah Ben-´ädäm/ben-adam atau “anak manusia” mungkin juga menekankan sifatnya sebagai makhluk insani yang rendah.[11]

Pada ayat 3, frase mengenai rumah yang telah dibangun memiliki banyak arti dan salah satunya mau menyatakan bentuk penolakkan terhadap suatu visi bangunan di masa yang akan datang atau masa depan.[12] Maksud dari ungkapan “Kota inilah periuk dan kita dagingnya” mau menyatakan bahwa tembok-tembok kota akan melindungi mereka, seperti sebuah periuk melindungi daging dari api; karena itu peringatan dari nabi dapat diabaikan.[13]

Ayat 4, Allah menyatakan hukumannya melalui nubuat yang akan diberikan kepada hambanya. Nubuat ini akan menghukum orang-orang yang telah menyombongkan diri sebagaimana yang dikatakan pada ayat 3.

Ayat 5, rumah yang didirikan oleh umat sebenarnya untuk kepentingan diri mereka sendiri, yang menganggap diri mereka sebagai pengganti yang sah dan yang mewarisi hak-hak yang dikuasai oleh umat Allah.[14] Sebenarnya Allah mengetahui isi hati mereka.

Ayat 6, bangsa Israel telah menyatakan diri sebagai wakil Allah yang sah, misalnya dengan menyatakan bahwa rumah-rumah Israel telah dibangun kembali (ayat 3). Mereka mau menyatakan sebagai orang-orang pilihan yang memiliki arti penting di dunia. Namun, di sisi lain mereka mau mencari posisi yang aman bagi diri mereka, yaitu dengan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.[15]

Ayat 7, hanya orang-orang yang menjadi korban dari persekongkolan pembunuhan itu yang akan menikmati keamanan kota itu. Pembunuh-pembunuh itu akan digiring ke luar (ay. 9) dan akan dihukum (dibunuh) dekat perbatasan tanah Israel (ay. 10). Mengenai penggenapan ayat ini lihat II Raja-raja 25:18-21.[16]

Ayat 8, pedang menunjukkan hukuman Allah atas mereka yang berlaku kejam dan menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah.

Pada ayat 9 sampai ayat 11 menggambarkan bagaimana dahsyatnya hukuman Tuhan atas orang-orang yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Tuhan. Di ayat yang ke-11 dikatakan bahwa tempat penghukuman bagi mereka adalah di tanah Israel meskipun mereka saat ini berada di dalam pembuangan.

Ayat 12, menekankan kembali bahwa ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan Allah harus menjadi yang utama di dalam hidup umat.

Perikop ini diakhiri dengan teriakan nabi Yehezkiel pada ayat 13, yaitu “Aduh, Tuhan Allah, apakah Engkau menghabiskan sisa Israel?” Yehezkiel mengeluh akan kehancuran Bait Allah, sebagaimana ia mengeluhkan ketika Allah mencurahkan amarah-Nya untuk memusnahkan seluruh sisa Israel (Yeh. 9:8). Sukar untuk memahami bagian ini, terutama yang menyangkut kematian Pelaca bin Benaya. Kemungkinan orang buangan mendengar kelak kematian Pelaca dan dengan takut-takut menghubungkannya dengan penglihatan nabi Yehezkiel tentang penghakiman Allah.[17]

Kesimpulan Teologis
Hukuman Tuhan senantiasa berlaku bagi orang-orang yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan-Nya. Siapapun mereka, apakah orang terkemuka, pemimpin rohani atau sekuler, imam ataupun pemuka agama semua tidak lepas dari hukuman Allah, ketika mereka mulai menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Serta Orang-orang yang merugikan dan mencelakakan banyak orang, kehidupannya akan berakhir dengan mengenaskan (kematian/pedang).

Hermeneutik dalam Konteks Penulis Teks
Dalam bagian ini penulis mau mengingatkan umat yang berada di pembuangan Babel untuk tetap setia pada ketetapan-ketetapan Allah. Hukuman-hukuman yang digambarkan dalam perikop ini mau menunjukkan keseriusan Allah akan kesetiaan umat-Nya. Keberhasilan umat dalam mengatasi akibat dari serangan pada tahun 597 SM tidak perlu membuat umat menjadi sombong dan mengabaikan peringatan-peringatan para nabi.
Secara ringkas pesan kitab Yehezkiel dalam konteks penulis teks, minimal dapat dilihat dari dua hal berikut:[18]

a. Penulis Melawan Optimisme Orang-orang Buangan
Panggilan Yehezkiel 593 SM adalah setelah empat tahun peristiwa tahun 597, yakni pendudukan dan penjajahan Yerusalem oleh tentara Babel (bnd. II Raj. 24:8-17). Kerajaan Yehuda di bawah pemerintahan Zedekia nampaknya sudah mulai “normal” kembali, sedangkan kaum elit yang terbuang ke Babel itu semakin condong untuk percaya bahwa tidak lama lagi mereka akan pulang ke negeri asalnya (bnd. Yer. 29). Di sisi lain mereka memahami bahwa seakan-akan apa yang menimpa mereka itu bukan peringatan tegas supaya mereka memutar haluan dengan sungguh hati, melainkan hanya serangan oleh nasib malang semata-mata. Yehezkiel diutus untuk menentang optimisme itu. Pertama-tama di antara kaum buangan, di tempat perasingannya sendiri.

b. Menantang Israel, Kaum Pemberontak
Israel telah mendurhaka, yaitu pertama-tama mereka melanggar di bidang ibadah. Namun, pendurhakaan itu tidak terbatas pada bidang ibadah semata-mata. Yehezkiel menentang segala jenis ketidakadilan dan penindasan hukum yang merajarela yang dilakukan oleh umat. Semua lapisan masyarakat di bawah pimpinan raja, pemuka, imam dan nabi (Yeh. 22:23-31) turut memberontak dan kejahatan mereka (Yeh. 22:6-12) justru memperlihatkan bagaimana pelanggaran-pelanggaran terhadap Allah. Selain di bidang “agama”, “susila” dan “sosial” Israel bersalah juga di bidang “politik”, yakni di dalam tindak-tanduk mereka sebagai bangsa yang berhadapan dengan bangsa-bangsa di sekitarnya.
Kecaman Yehezkiel memuncak ketika Yerusalem diumpamakan sebagai “pohon anggur yang tak berguna” (Yeh. 15:1-8). Yehezkiel dalam kecamannya mau menyatakan bahwa, pohon anggur yang bernama Yerusalem itu tak berguna dalam keadaan utuh, maka tak ada gunanya lagi, selain untuk dibakar sampai hangus (ay. 4-6).

Hermeneutik Penafsir dalam Konteks Sekarang
Hukuman Allah tetap berlaku bagi mereka yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah atau firmannya. Pemimpin-pemimpin rohani khususnya dalam gereja, seperti Pendeta, Penatua, Majelis jemaat tidak bisa bermain-main dan mengelabui Tuhan dalam pelayanan mereka. Tuhan akan senantiasa konsisten menghukum siapa saja yang mulai menyimpang dari ketetapan-ketetapan-Nya.

Kesimpulan
Yehezkiel 11:1-13 secara khusus berbicara mengenai hukuman Allh kepada umat Israel, khususnya para pemimpin-pemimpin Israel yang menyimpang dari ketetapan-ketetapan Allah. Kebanyakan ahli mengatakan bahwa kitab Yehezkiel ditulis oleh Yehezkiel sendiri. Latar belakang sejarah kitab Yehezkiel ialah Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Pada masa pembuangan Babel, kenabian Israel mengalami perubahan besar. Nabi Yehezkiel dan Deutro-Yesaya merupakan tokoh besar yang mengubah kenabian Israel menjadi gejala kesusasteraan. Bukan hanya itu, nabi Yehezkiel menjadi nabi yang tersendiri, yang bercorak pro-kultus.



[1] Tulisan ini adalah paper saya dan telah dipresentasikan tanggal 30 April 2009 dalam mata kuliah Hermeneutik Perjanjian Lama IV, yang diampu oleh Dr. Barnabas Ludji.
[2] Paragraf ini dikutip dari: www.gky.or.id/gema2
[3] Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: 2005), hal. 10-12.
[4] Dikutif dari situs sabda: www.sabda.org/sejarah/full_life, Kitab Yehezkiel.
[5] Lihat www.gky.or.id/gema2, Pengantar Kitab Yehezkiel.
[6] Prof. Wismoady Wahono Ph.D, Di Sini Kutemukan, (Jakarat: 1994), hal. 251.
[7] Dr. C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, (Yogyakarta:1991), hal. 270
[8] Pintu gerbang merupakan tembok pertahanan suatu kota. Sebagaimana dujelaskan pada Yeh. 11:1 pintu gerbang Timur adalah pintu yang menghadap ke sebelah timur dari Bait Allah/rumah Tuhan.
[9] Kata sîr pada ayat 3, 7, dan ayat 11 yang dalam LAI diterjemahkan “periuk”, penggunaannya sudah cukup tepat. Kata sîr dapat juga diterjemahkan kail, kait, duri, atau onak. Kata ini dalam penggunaannya di ayat 3, 7 dan 11 selalu dihubungkan oleh partikel konjungsi le> (dan) dengan kata BäSär yang diterjemahkan oleh LAI “daging”.
[10] Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta:2006), 519.
[11] C. Bart, Theologia Perjanjian Lama 4, (Jakarta:1993), 85.
[12] Eichrodt, The Old Testament Library: Ezekiel, (Philadelphia: 1970), 136.
[13] Ibid, Tafsiran Alkitab Masa Kini.
[14] Eichrodt, Ibid, 137.
[15] Eichrodt, Ibid, 138.
[16] Ibid, Tamki, 520.
[17] Dianne Bergant & Robert J. Karis (ed), Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, (Yogyakarta:2002), 597.
[18] C. Bart, Ibid, 86-95.

Wednesday, April 1, 2009

RINGKASAN KATEKISMUS HEIDELBERG


Katekismus Heidelberg merupakan ajaran iman Kristen atau doktrin Kristen yang disusun oleh Zacharias Ursinus dan Caspar Olevianus pada tahun 1563 atas permintaan pangeran Frederik III. Pada tahun 1564 ajaran katekismus ini disahkan sebagai ajaran resmi di wilayah Palatinate. Katekismus ini disusun dalam bentuk tanya-jawab. Teologinya bercorak Calvinis, namun jiwanya merupakan perpaduan antara Lutheran, Melanchthon dan Calvin.[2] keseluruhan isinya berisi 129 ayat dan terbagi dalam tiga bagian besar. Dua ayat pertama berisi pengantar mengenai penghiburan bagi orang Kristen, yang kemudian disusul bagian pertama yang berisi tentang sengsara manusia. Bagian kedua berisi tentang kelepasan manusia. Sedangkan bagian ketiga berisi mengenai ucapan syukur yang wajib dipersembahkan kepada Allah karena kelepasan itu. Berikut adalah ringkasan dari pertanyaan dan jawaban dari katekismus Heidelberg:

1. Penghiburan saya pada waktu hidup maupun pada waktu mati.
Aku dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati: a) aku bukan milikku tetapi milik Kristus; b) darah Kristus melunasi dosaku; c) darah Kristus melepaskan aku dari murka, d) memulihkan aku, e) menjadikan aku rela dan siap mengabdi kepada-Nya.

2. Pokok-pokok yang perlu diketahui sebagai penghiburan supaya hidup bahagia.
a) dosa dan sengsaraku besar; b) aku harus terlepas dari dosa dan sengsara; c) bersyukur atas kelepasan.

Bagian Pertama: Sengsara Manusia
3. Sengsara diketahui melalui hukum Taurat (Roma 3:20).

4. Hukum Taurat menuntut, supaya kita mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37-40).

5. Kita tidak dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, karena kodrat kita cenderung membenci Allah dan sesama.


6. Allah tidak menjadikan manusia jahat atau buruk, karena: a) Allah menjadikan manusia baik menurut gambarnya; b) supaya manusia mengenal ciptaan-Nya, mengasihi-Nya, memuji dan memuliakan-Nya.

7. Asal watak buruk manusia adalah dari kejatuhannya ke dalam dosa dan ketidaktaatan nenek moyang.


8. Kita sama sekali tidak sanggup berbuat baik dan cenderung berbuat jahat, kecuali kita dilahirkan kembali oleh roh Allah.

9. Allah tidak menuntut dalam hukumnya sesuatu yang tidak sanggup dilaksanakan manusia, karena: a) Allah menjadikan manusia untuk sanggup malaksanakannya; b) tetapi oleh bisikan iblis nmanusia menjadi tidak taat.


10. Allah tidak membiarkan ketidaktaatan dan kemurtadan tanpa hukuman: Dia hendak menghukumnya dengan hukuman yang adil, baik di dunia maupun di akhirat.

11. Allah sungguh penyayang, tetapi Dia juga adil dan keadilan-Nya menuntut agar dosa dihukum dengan hukuman yang kekal atas tubuh dan jiwa.

Bagian Kedua: Kelepasan Manusia12. Untuk luput dari hukuman Allah yang adil, kita memenuhi tuntutan keadilan-Nya. Sebab itu, kita wajib melaksanakan pelunasan sepenuhnya, apakah dengan upaya sendiri atau pihak lain.

13. Kita tidak dapat melaksanakan pelunasan dengan usaha sendiri, bahkan tiap-tiap hari kita menambah hutang kita.


14. Kita tidak mungkin menemukan makhluk lain, untuk melaksanakan pelunasan ini: a) Allah tidak mau menjatuhkan hukuman terhadap makhluk lain; b) tidak ada makhluk semata yang dapat menanggung murka Allah.

15. Seorang Pengantara dan Penebus yang perlu kita cari adalah: a) manusia sejati dan benar; b) kekuatannya melebihi segala makhluk; c) Allah yang sejati.


16. Dia harus manusia sejati dan benar, karena: a) seorang manusia tidak sanggup melakukan pembayaran untuk dosa orang lain; b) manusia seorang berdosa.

17. Dia harus juga Allah sejati, karena: a) dengan kuasa keallahan-Nya Dia dapat menanggung murka Allah; b) memperoleh kebenaran dan kehidupan.

18. Pengantara itu adalah Tuhan kita Yesus kristus, yang dikaruniakan Allah kepada kita.

19. Kita mengetahui hal itu, dari Injil yang kudus.

20. Tidak semua orang diselamatkan oleh Kristus, tetapi hanya mereka yang oleh iman yang sejati dijadikan anggota tubuh-Nya dan menerima seluruh karunia-Nya.


21. Iman yang sejati itu adalah keyakinan atau pengetahuan yang pasti, yang membuat kita mengakui sebagai kebenaran yang dinyatakan Allah kepada kita di dalam firman-Nya: a) dikerjakan dalam hatiku; b) melalui Injil; c) isinya pengampunan dosa, kebenaran dan keselamatan; d) dikaruniakan kepada semua orang.

22. Orang Kristen perlu mengimani segala sesuatu yang dijanjikan di dalam Injil yang diajarakan melalui pasal-pasal pengakuan iman Kristen yang am dan pasti.

23. Pasal-pasal pengakuan iman: 1) Aku percaya kepada Allah Bapa, Yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi. 2) Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, 3) yang dikandung dari roh Kudus, lahir dari anak dara Maria, 4) yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, 5) pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati, 6) naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa Yang Mahakuasa, 7) dan akan datang dari sana untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. 8) Aku percaya kepada Roh Kudus. 9) Aku percaya adanya gereja (Kristen) yang kudus dan am, persekutuan orang kudus, 10) pengampuan dosa, 11) kebangkitan daging 12) dan hidup yang kekal.

24. Pengakuan iman dibagi atas tiga bagian: a) mengenai Allah Bapa dan penciptaan; b) mengenai Allah Anak dan penebusan; c) mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.

25. Meskipun hanya ada satu zat saja, kita menyebut Bapa, Anak dan Roh Kudus, karena: a) demikianlah Allah menyatakan diri-Nya dalam Firman-Nya; b) Ketiga Pribadi yang berbeda-beda itu merupakan Allah yang esa, yang sejati dan kekal.

Allah Bapa dan Penciptaan Kita26. Ketika kita berkata, aku percaya kepada Allah Bapa, yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, berarti kita percaya bahwa: a) Bapa telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya; b) memelihara dan memerintah menurut rencana-Nya yang kekal.

27. Pemeliharaan Allah adalah kekuatan Allah, Yang Mahakuasa dan yang hadir di segala tempat.

28. Manfaat kita tahu bahwa Allah talah menciptakan segala sesuatu dan memeliharanya, kita dapat bersabar di dalam kesusahan dan bersyukur dalam kelimpahan.

Allah Anak dan Penebusan Kita29. Anak Allah dinamakan Yesus, yang artinya “Juruselamat”, karena Dia menyelamatkan kitadari semua dosa kita.
30. Orang-orang yang mencari keselamatan pada orang-orang kudus atau pada dirinya sendiri, tidak percaya kepada yesus, Juruselamat satu-satunya, mereka nyata-nyata menyangkal Yesus, meskipun dengan mulut mereka bermegah di dalam Dia.

31. Dia dinamakan Kristus, yang artinya “Yang Diurapi”, karena Dia telah ditetapkan Allah Bapa dan diurapi Roh Kudus, menjadi nabi dan guru, Imam Besar dan raja kita. Sebagai nabi dan guru kita yag tertinggi.

32. Kita disebut orang Kristen, karena melalui iman kita adalah anggota tubuh Kristus dan dengan demikian kita mendapat bagian dalam pengurapan-Nya.

33. Kristus dinamakan Anak Allah yang tunggal, padahal kitapun anak-anak Allah: a) sebab hanya Kristus saja yang adalah Anak Allah yang sehakikat dan yang sama-sama kekal; b) kita diangkat menjadi anak-anak Allah karena Kristus, berdasarkan kasih karunia.

34. Kita menyebut Yesus sebagai tuhan kita, sebab Dia telah menebus kita, tubuh dan jiwa, bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya.

35. Arti dari “yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria” adalah bahwa di dalam Anak Allah yang kekal itu tinggal Allah yang sejati dan kekal, yang telah mengenakan tabiat manusia sejati dari daging dan darah anak dara Maria oleh karya Roh Kudus.

36. Manfaat yang kita peroleh dari kenyataan bahwa Kristus telah dikandung secara suci dan lahir adalah, bahwa Dia Pengantara kita yang sempurna dan di hadapan Allah, Dia menutupi dosa kita, yang telah kita sandang sejak kita dikandung dan dilahirkan.

37. Arti kata menderita adalah, bahwa Dia telah mennggung murka Allah atas seluruh dosa umat manusia pada tubuh dan jiwa-Nya.

38. Kristus menderita di bawah hakim Pontius Pilatus, supaya Dia walaupun tidak bersalah, dihukum di hadapan pengadilan dunia, dan dengan demikian meluputkan kita dari hukuman Allah yang keras.

39. Kematian Krisyus mempunyai arti lebih besar, sebab Dia telah menanggung kutuk yang ada atas diri kita.

40. Kristus merendahkan diri sampai mati, sebab menurut keadilan dan kebenaran Allah, hutang dosa-dosa kita tidak dapat dilunasi dengan cara lain kecuali dengan kematian Anak Allah.

41. Dia dikuburkan, supaya dengan demikian ditegaskan bahwa Dia telah benar-benar mati.

42. Kristus telah mati untuk kita, maka kita juga harus mati tetapi bukan karena pelunasan hutang dosa-dosa kita, melainkan kematian bagi dosa dan pintu masuk ke dalam hidup yang kekal.

43. Hal lain yang kita peroleh dari pengorbanan dan kematian Kristus adalah manusia lama kita ikut disalibkan, dimatikan dan dibukurkan bersama dengan Dia, supaya hawa nafsu daging tidak berkuasa lagi di dalam kita.

44. Dalam pengakuan iman ditambahkan „turun ke dalam kerajaan maut“, supaya dalam godaan-godaan yang paling sengit sekalipun, kita mendapat keyakinan dan hiburan yang sungguh-sungguh bahwa Yesus telah melepaskan kita dari ketakutan dan kesakitan neraka.

45. Manfaat kebangkitan Kristus bagi kita: a) memberikan kepada kita kebenaran yang telah diperolehnya melalui kematian-Nya; b) dengan kuasa kebangkitan-Nya kita dibangkitkan untuk menempuh hidup baru; c) menjadi jaminan kebangkitan kita yang membahagiakan.

46. Arti naik ke sorga adalah, bahwa Dia berada di sana untuk kebaikan kita, sampai Dia datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

47. Kristus menyertai kita sampai kepada akhir zaman meskipun menurut kemanusiaan-Nya Dia tidak bersama-sama dengan kita, tetapi menurut keallahan, kemuliaan, anugerah dan Roh-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan kita.

48. Keallahan Kristus tidak terpisah, meskipun kemanusiaan-Nya tidak hadir bersama kita, karena keallahan itu memang berada di luar kemanusiaan yang telah dikenakan-Nya, namun berdiam juga di dalamnya dan tetap bersatu dengan-Nya menjadi satu Pribadi.

49. Manfaat kenaikan Kristus ke sorga adalah: a) menjadi Jurusyafaat; b) menjadi Kepala dan akan menyambut kita; c) kita mencari perkara yang di atas bukan yang di bumi.

50. Kata-kata “duduk di sebelah kanan Allah“ di tambahkan, karena Kristus telah naik ke sorga, supaya di sana Dia menyatakan diri-Nya sebagai Kepala Gereja Kristen yang menjadi milik-Nya.

51. Manfaat kemuliaan Kristus bagi kita adalah Dia mencurahkan karunia-karunia sorgawi ke dalam diri kita dan dengan kuasa-Nya Dia melindungi dan memelihara kita terhadap semua musuh.

52. Penghiburan yang kita peroleh dari kedatangan Kristus kembali adalah Dia membuang semua musuh-Nya, yang adalah juga musuh kita, ke tempat kutuk yang kekal, tetapi akan menyambut kita bersama dengan semua orang pilihan-Nya dalam kesukaan dan kebahagiaan yang sorga.

Allah Roh Kudus dan Pengudusan Kita53. Yang saya percayai tentang Roh Kudus: a) Dia bersama Bapa dan Anak adalah Allah yang sejati dan kekal; b) membuat kita mendapat bagian dalam Kristus; c) menghibur kita; d) menyertai kita selama-lamanya.

54. Yang saya percayai tentang Gereja yang kudus dan am adalah, bahwa Anak Allah oleh Roh dan Firman-Nya, sejak awal dunia ini sampai akhir zaman, mengumpulkan, melindungi dan memelihara bagi-Nya dari segenap manusia dalam kesatuan iman yang benar untuk beroleh hidup yang kekal.

55. Persekutuan orang kudus berarti, bahwa semua orang beriman dan tiap-tiap orang beriman secara perseorangan, sebagai anggota Kristus, mendapat bagian dalam Dia serta semua karunia-Nya dan mempergunakan karunia yang didapatnya demi kebaikan dan keselamatan anggota lain.

56. Dalam pengampunan dosa Allah sama sekali tidak mengingat lagi dosa-dosa kita, sebaliknya Dia menganugerahkan kebenaran Kristus kepada kita.

57. Kita memperoleh penghiburan dari kebangkitan daging, bahwa sesudah hidup ini bukan hanya jiwa kita yang akan diangkat kepada Kristus, melainkan juga daging kita akan dibangkitkan oleh kuasa Kristus.

58. Kita dapat merasakan penghiburan dari hidup yang kekal, karena sekarang ini juga kita telah merasakan dalam hati kesukaan yang kekal.

Pembenaran Oleh Iman59. Jika kita percaya kepada semua hal ini, maka di dalam Kristus kita benar di hadapan Allah dan dijadikan ahli waris hidup yang kekal.

60. Kita benar dihadapan Allah hanya oleh iman yang sejati kepada Yesus Kristus.

61. Kita benar oleh iman, bukan karena layaknya iman kita sehingga membuat Allah berkenan kepada kita, melainkan hanya oleh pelaksanaan pelunasan oleh Kristus.

62. Perbuatan baik kita tidak dapat menjadi tidak dapat menajdi kebenaran di hadapan Allah, karena kebenaran yang dapat bertahan dihadapan pengadilan Allah harus sungguh-sungguh sempurna dan dalam segala hal sesuai dengan hukum Allah.

63. Perbuatan baik kita tidak menghasilkan ganjaran, tetapi ganjaran itu terjadi bukan berdasarkan amal melainkan berdasarkan rahmat saja.

64. Ajaran ini tidak membaut manusia tidak peduli dan fasik, karena barang siapa yang telah menjadi anggota tubuh Kristus, tidak dapat tidak menghasilkan perbuatan baik.

Sakramen-Sakramen65. Datangnya iman yang membuat kita mendapat bagian, datang dari Roh Kudus, yang bekerja menciptakan iman itu dalam hati kita melalui pemberitaan Injil.

66. Sakramen adalah tanda dan meterai yang kudus serta kasatmata, yang telah ditetapkan Allah.

67. Firman dan Sakramen ditetapkan sebagai dasar keselamatan satu-satunya melalui kurban Yesus Kristus pada kayu salib. Sedangkan Roh Kudus mengajarkan kepada kita dalam Injil dan meneguhkan melalui sakramen.

68. Sakramen yang ditetapkan Kristus dua, yaitu Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus.

BaptisanKudus69. Kita diingatkan dan diyakinkan dalam Baptisan Kudus dengan Kristus telah menetapkan permandian lahiriah ini, disertai janji.

70. Dengan dibasuh dengan darah dan Roh Kristus, kita mendapat pengampunan dosa dari Allah, berdasarkan rahmat, karena darah Kristus yang telah ditumpahkan-Nya bagi kita dengan pengurbanan-Nya pada kayu salib.

71. Kristus berjanji mau membasuh kita dengan darah dan Roh-Nya dalam penetapan Baptisan, yang berbunyi sebagai berikut, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus“ (Mat. 28:19).

72. Permandian lahiriah bukan pembasuhan dari dosa-dosa, karena hanya darah Kristus dan Roh Kudus yang membasuh kita dari segala dosa.

73. Alasan Roh Kudus menamakan Baptisan itu “permandian kelahiran kembali“ karena Allah berfirman demikian hendak mengajar kita bahwa, sama seperti kotoran tubuh dihilangkan dengan air, demikian juga segala dosa kita dihilangkan oleh darah dan Roh Yesus Kristus.

74. Anak-anak kecil harus dibaptis, karena mereka termasuk dalam perjanjian Allah dan dalam jemaat-Nya, sama seperti orang-orang dewasa. Melalui darah Kristus, mereka tidak kurang daripada orang dewasa.

Perjamuan Kudus
75. Kita diingatkan dan diyakinkan dalam Perjamuan Kudus, bahwa kita mendapat bagian dalam kurban Kristus dengan Kristus telah memerintahkan kita dan semua orang percaya, supaya makan dari roti yang dipecah-pechkan dan dari cawan agar perbuatan itu menjadi peringatan bagi Dia.

76. Arti “makan tubuh Kristus yang disalibkan“ dan “minum darah-Nya yang tertumpah“ adalah, bahwa kita menerima seluruh penderitaan dan kematian Kristus dengan hati yang percaya, dan dengan demikian memperoleh pengampunan dosa-dosa dan hidup yang kekal.

77. Kristus berjanji, sebagaimana orang percaya makan dari roti yang dipecah-pecahkan dan minum dari cawan, sepasti itu juga Dia akan mengenyangkan kita dengan tubuh-Nya dan menyegarkan kita dengan darah-Nya, dalam perjamuan malam.
78. Roti dan anggur tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya. Sebagaimana air dalam baptisan tidak diubah menjadai darah Kristus, dan tidak menjadi pembasuh dari dosa-dosa itu, tetapi hany merupakan tanda dan jaminan dari Allah.

79. Kristus menyebut roti itu “tubuh-Nya“ dan anggur itu “darah-Nya“, karena dengan demikian Dia mengajar kita bahwa, sama seperti roti dan anggur memelihara hidup kita di dunia ini, demikian pula tubuh-Nya yang telah disalibkan dan darah-Nya yang ditumpahkan itu merupakan makanan dan minuman yang sesungguhnya bagi jiwa kita untuk hidup yang kekal.


80. Perbedaan Perjamuan Malam Tuhan dengan “Misa“ Gereja Katolik Roma: a) Perjamuan malam Tuhan menegaskan kepada kita, bahwa kita telah beroleh pengampunan sempurna atas segala dosa kita oleh kurban Yesus Kristus satu-satunya, yang telah dipersembahkan-Nya sendiri satu kali saja di akyu salib; b) Misa mengajarkan bahwa orang yang hidup dan yang mati tidak memperoleh pengampunan dosa karena penderitaan Kristus, kecuali kalau Kristus tiap-tiap hari dikurbankan lagi bagi mereka oleh imam-imam Misa, dan bahwa Kristus dengan tubuh-Nya hadir dalam rupa roti dan anggur, dan karena itulah harus disembah dalam roti dan anggur itu.

81. Perjamuan Malam Tuhan ditetapkan untuk mereka yang menyesali dirinya karena dosa-dosanya, namun tetap percaya bahwa dosanya itu telah diampuni karena Kristus dan bahwa juga segala kelemahan yang masih tertinggal ditutup oleh penderitaan serta kematian-Nya.

82. Mereka yang bertindak sebagai orang tidak percaya dan fasik tidak diizinkan turut serta dalam Perjamuan Kudus, karena dengan demikian perjanjian Allah dinajiskan dan murka–Nya dibangkitkan atas seluruh jemaat.

83. Kunci-kunci kerajaan sorga adalah pemberitaan Injil yang kudus dan pengucilan resmi atau pemutusan hubungan dengan jemaat Kristen.

84. Menurut perintah Kristus, kerajaan sorga dibuka dan ditutup melalui pemberitaan Injil yang kudus, kepad semua orang percaya, dan kepada tiap-tiap orang percaya secara perseorangan, diberitakan dan ditegaskan dengan nyata.

85. Melalui pengucilan resmi dari jemaat Kristen, kerajaan sorga ditutup dan dibukakan, menurut perintah Kristus.

Bagian Ketiga: Syukur yang Wajib Dipersembahkan Kepada Allah Karena Kelepasan Itu
86. Kita masih perlu melakukan perbuatan baik, karena Kristus setelah menebus kita dengan darah-Nya, juga membarui kita melalui Roh-Nya yang kudus menjadi serupa dengan gambar-Nya, supaya kita dengan seluruh kehidupan kita memberi syukur kepada Allah karena anugerah-Nya.

87. Mereka yang berkanjang dalam hidup yang fasik dan tidak mengenal syukur, dan tidak bertobat sama sekali tidak beroleh selamat.
88. Pertobatan manusia yang sungguh-sungguh terdiri atas dua bagian, yaitu kematian manusia lama dan kebangkitan manusia baru.

89. Kematian manusia lama adalah sungguh-sungguh menyesali bahwa kita telah menimbulkan murka Allah karena dosa kita, dan semakin membenci dan menjauhi dosa itu.

90. Kebangkitan manusia baru adalah sungguh-sungguh bersukacita dalam Allah karena Kristus, dan kita rela serta suka akan hidup sesuai dengan kehendak Allah sambil melakukan segala perbuatan baik.

91. Perbuatan baik hanyalah perbauatan yang timbul dari iman yang sungguh-sungguh, dan yang seturut dengan hukum Taurat Allah untuk memuliakan Dia, bukan perbauatan yang berdasarkan kemauan kita atau aturan manusia.

Hukum Taurat Allah92. Bunyi hukum Taurat Allah, terdapat dalam kitab Keluaran 20:1-17.

93. Kesepuluh hukum itu dibagi atas dua loh batu, yang pertama mengajarkan bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Allah; yang kedua, apa kewajiban kita terhadap sesama kita manusia.

94. Yang Allah perintahkan dalam perintah yang pertama, agar kita demi keselamatan jiwa, harus menghindari dan menjauhkan diri dari segala penyembahan berhala.

95. Penyembahan berhala ialah mereka-reka atau mempunyai sesuatu yang oleh manusia dijadikan tempat kepercayaan sebagai ganti Allah yang esa dan benar.

96. Yang Allah tuntut dari perintah yang kedua, agar kita jangan sekali-kali membuat gambar Allah dengan cara apapun dan jangan berbakti kepadanya dengan cara lain dari yang telah Dia perintahkan dalam firman-Nya.

97. Allah tidak dapat dan tidak boleh digambarkan dengan cara apapun. Adapun makhluk, meskipun mereka boleh digambarkan atau dibuat patungnya, Allah melarang menyembahnya atau memakainya untuk beribadah kepada-Nya.

98. Kita tidak boleh membiarkan gambar atau patung di gereja dipakai menjadi alat-alat peraga bagi orang-orang Kristen awam, karena kita tidak boleh menganggap diri kitalebih bijaksana daripada Allah, yang menghendaki umatnya diajar bukan dengan gambar atau patung yang bisu.

99. Maksud perintah yang ketiga, agar kita tidak menghujat nama Allah atau menyebutnya dengan sembarangan, bukan hanya dengan mengumpat atau bersumpah dusta, melainkan juga dengan mengucapkan sumpah secara gegabah.

100. Orang yang menghujat nama Allah dengan bersumpah dan mengumpat akan begitu besar dosanya, karena tidak ada dosa yang lebih besar dan yang lebi menimbulkan murka Allah daripada dosa menghujat nama-Nya.

101. Orang boleh bersumpah demi nama Allah dengan maksud saleh, jika pemerintah menuntut hal itu dari rakyat, atau karena keadaan darurat, untuk dengan demikian meneguhkan kesetiaan dan kebenaran, demi kemuliaan nama Allah dan kebaikan sesama kkta manusia.

102. Orang tidak boleh bersumpah demi orang-orang kudus tertentu, karena bersumpah dengan benar adalah berseru kepada Allah supaya Dia, satu-satunya yang mengetahui isi hati manusia, sudi memberikan kesaksian tentang kebenaran dan menghukum kita jika kita bersumpah dusta.

103. Dalam perintah keempat, Allah memerintahkan agar pelayanan gereja, yaitu pemberitaan Firman, dan sekolah-sekolah tetap diselenggarakan, dan agar kita, teristimewa pada hari perhentian dengan setia bergabung dengan jemaat Allah: mendengar Firman, menerima sakramen, bersr=eru kepada Tuhan, dan berderma kepada orang-orang miskin.

104. Yang Allah kehendaki dalam perintah yang kelima, agar kita menghormai, mengasihi, dan setia kepada ibu-bapa kita dan kepada semua orang yang diberi kuasa atas kita, dan tunduk pada pengajaran dan hukuman mereka dengan ketaatan yang patut.

105. Dalam perintah yang keenam, Allah menuntut agar kita, baik sendiri maupun dengan bantuan orang lain, tidak menghina, membenci, menganiaya atau membunuh sesama kita dengan pikiran, perkataan atau sesuatau isyarat, apalagi dengan perbuatan.

106. Dengan melarang pembunuhan, Allah mengajar kita bahwa Dia membenci akar pembunuhan itu, seperti dengki, benci, amarah, dan dendam kesumat yang semua itu sama dengan pembunuhan.

107. Selain melarang dengki, benci, dan amarah, Allah memerintahkan pula, supaya kita mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri, dan bersikap sabar, suka damai, lembut, murah hati, dan ramah terhadap sesama.

108. Ajaran yang terkandung dalam perintah yang ketujuh, bahwa Allah mengutuk segala perbauatan kemesuman, dan karena itu kita harus membencinya dengan sungguh-sungguh, dan menahan hawa nafsu serta hidup sopan.

109. Karena tubuh dan jiwa kita merupakan bait Roh Kudus, Dia menghendaki supaya kita memeliahara kedua-duanya sehingga tetap suci dan murni.

110. Dalam perintah kedelapan Allah tidak hanya melarang pencurian dan perampasan yang dihukum oleh pemerintah; tetapi segala tipu daya yang dirancang untuk memperoleh milik sesama kita manusia juga Dia namakan pencurian.

111. Yang diperintahkan oleh Allah kepada kita dalam perintah dalam perintah kedelapan, agar kita sedapat-dapatnya dan di mana mungkin berupaya demi kemanfaatan sesama kita manusia, dan bertindak terhadapnya sebagaimana kita ingin orang lain bertindak terhadap kita.

112. Yang dikehendaki perintah yang kesembilan, agar kita tidak memberi kesaksian dusta terhadap siapa pun, tidak memutarbalikkan perkataan orang, tidak memfitnah dan menodai nama baik orang, tidak mempersalahkan atau turut mempersalahkan orang secara gegabah dengan tidak mendengarkannya lebih dulu.

113. Yang dituntut perintah yang kesepuluh, agar jangan timbul dalam hati kita keinginan dan pikiran sedikit pun yang melawan perintah Allah. Sebaliknya, agar kita selalu dengan segenap hati menentang segala dosa, dan gemar melakukan segala perbuatan yang benar.

114. Orang yang sudah bertobat, tidak dapat melaksanakan perintah ini dengan sempurna. Namun, begitu rupa, sehingga mereka dengan niat yang sungguh-sungguh, mulai hidup sesuai dengan perintah Allah.

115. Allah menyuruh mengajarkan sepuluh perintah, meskipun tidak ada seorang pun yang sanggup melaksanakannya, agar kita selama hidup makin lama makin mengenal watak kita yang berdosa, dan makin berusaha mendapat pengampunan dosa dan kebenaran di dalam Kristus.

Doa
116. Doa perlu bagi orang Kristen, karena doa adalah bagian utama pemberian syukur yang Allah tuntut dari kita. Dan Allah hendak melimpahkan rahmat-Nya serta Roh Kudus hanya kepada mereka yang dengan berkeluh kesah dan dengan tiada henti-hentinya memohon rahmat serta Roh itu dari-Nya dan mengucap syukur atasnya.

117. Doa yang berkenan kepada Allah dan yang dikabulkan-Nya adalah doa dengan segenap hati, yang berseru hanya kepada Allah yang esa dan sejati, yang telah menyatakan diri-Nya kepada kita dalam firman-Nya, dan memohon kepada-Nya menurut perintah-Nya.

118. Yang Allah perintahkan agar kita memohon kepada-Nya adalah segala kebutuhan rohani dan jasmani, yang disimpulkan oleh Tuhan Yesus dalam doa yang diajarkan-Nya sendiri kepada kita.

119. Doa bapa kami, berbunyi demikian:
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

120. Kristus memerintahkan kita menyapa Allah Bapa Kami, supaya pada saat mulai kita berdoa, di dalam hati kita segera Dia bangkitkan rasa takut dan percaya kepada Allah, sebagaimana seorang anak kecil terhadap bapaknya. Rasa takut dan percaya itu menjadi dasar doa kita.

121. kata “yang di sorga“ ditambahkan, supaya kemuliaan Allah tidak kita bayangkan secara duniawi, dan supaya segala kebutuhan tubuh dan jiwa hanya kita harapkan dari kemahakuasaan-Nya saja.

122. Dikuduskalah nama-Mu. Artinya, berilah pertama-tama agar kami mengenal Engkau dan menguduskan, memuliakan, serta memuji Engkau karena segala perbuatan-Mu yang menyatakan kemahakuasaan, hikmat, kebaikan, keadilan, kemurahan, dan kebenaran-Mu.

123. Datanglah Kerajaan-Mu. Artinya, perintahkanlah kami melalui Firman dan Roh-Mu sedemikian, sehingga kami makin lama makin tunduk kepada-Mu; pelihara dan kembangkanlah gereja-Mu; binasakanlah segaloa perbauatan iblis; sampai kerajaan-Mu datang dengan sempurna.

124. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Artinya, berilah supaya kami dan sekalian manusia menyangkal kehendak sendiri, dan dengan tidak membantah, mematuhi kehendak-Mu, supaya dengan demikian tiap-tiap orang memenuhi dan melaksanakan tugas panggilannya dengan kerelaaan dan kesetiaan yang sama seperti malaikat-malaikat di sorga.

125. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Artinya, kiranya Engaklau memelihara kami dengan segala yang diperlukan tubuh kami, supaya olehnya kami mengakui bahwa Engkaulah satu-satunya sumber segala kebaikan.

126. Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Artinya, segala keslahan dan sejahatan yang senantiasa melekat pada kami, orang berdosa yang malang ini, janganlah jiranya Kautanggungkan kepada kami, karena darah Kristus, seperti juga kami dapati tanda anugerah-Mu dalam hati kami, yaitu bahwa kami berniat sungguh-sungguh akan mengampuni sesama kami manusia dengan tulus.

127. Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Artinya, kami sendiri begitu lemah, sehingga kami tidak sanggup bertahan sesaat pun, tambahan pula musuh kami turun temurun, yaitu iblis, dunia, dan daging kami sendiri, dengan tiada henti-hentinya menyerang kami.

128. Kita mengakhiri doa ini dengan, karena Engkau yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Artinya, semua ini kami mohon kepada-Mu, karena Engkau, sebagai Raja kami dan Yang Mahakuasa, beritikad dan berkuasa mengaruniakan kepada kami segala hal yang baik, dan kami memohon semua ini bukan kami, melainkan Nama-Mu yang kudus dipuji, untuk selama-lamanya.


129. Amin berati, hal ini benar dan pasti. Karena Allah pasti telah mengabulkan doa kita, jauh lebih pasti daripada perasaan hati kita bahwa hal itu kita inginkan dari-Nya.


(Diambil dari buku Katekismus Heidelberg yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indoneia. Diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia).

Thursday, March 12, 2009

AGAMA DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI DAN SOSIOLOGI


Agama dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang melihat agama sebagai sesuatu yang kudus, sakral, dan rohani yang mendatangkan kebaikan bagi umat manusia. Namun di sisi lain, orang melihatnya secara berbeda. Agama adalah suatu kebodohan, tidak masuk akal. Karena mereka memandang agama sebagai ciptaan manusia yang di dalamnya penuh dengan mitos-mitos. Apakah memang demikian? Adakah disiplin ilmu lain di samping teologi, yang melihat agama secara berbeda? sehingga pandangan-pandangan tersebut muncul.

Agama dalam Perspektif Teologi

Dalam perspektif teologi agama dipandang sebagai sesuatu yang dimulai dari atas (dari Tuhan sendiri melalui wahyu-Nya). Manusia beragama karena Tuhan yang menanamkan kesadaran ini. Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia melalui berbagai penyataan, baik yang dikenal sebagai penyataan umum, seperti penciptaan alam semesta, pemeliharaan alam, penciptaan semua makhluk dsb. maupun penyataan khusus, seperti yang kita kenal melalui firman-Nya dalam kitab suci, penampakan diri kepada nabi-nabi, bahkan melalui inkarnasi menjadi manusia dalam dogma Kristen.

Penyataan-penyataan Tuhan ini menjadi dasar untuk kehidupan beriman dan beragama umat manusia. Melalui wahyu yang diberikan Tuhan, manusia dapat mengenal Tuhan; manusia tahu cara beribadah; memuji dan mengagungkan Tuhan. Misalnya, bangsa Israel sebagai bangsa beragama dan menyembah hanya satu Tuhan (monoteisme) adalah suatu bangsa yang mengimani bahwa Tuhan menyatakan diri terlebih dulu dalam kehidupan mereka. Dalam Perjanjian Lama Tuhan memanggil nabi Nuh kemudian Abraham dan keturunan-keturunannya. Sehingga mereka dapat membentuk suatu bangsa yang beriman dan beribadah kepada-Nya. Tuhan juga memberi petunjuk mengenai bagaimana harus menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Kita dapat melihat dalam kitab Imamat misalnya. Semua hal ini dapat terjadi karena Tuhan yang memulainya. Dan tanpa inisiatif dari atas (dari Tuhan) manusia tidak dapat beriman, beribadah dan beragama.

Contoh lain, terjadi juga dalam agama Islam. Tuhan menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad. Melalui wahyu yang diterimanya, Muhammad mengajarkan dan menekankan monoteisme di tengah politeisme yang terjadi di Arab. Umat dituntun menyembah hanya kepada Dia, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Melalui wahyu yang diterimanya, Muhammad memiliki keyakinan untuk menobatkan orang-orang Arab yang menyembah banyak tuhan/dewa. Dan melalui wahyu yang diturunkan Tuhan juga, Muhammad mampu membentuk suatu umat yang beragama, beribadah dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dapat disimpulkan bahwa agama dalam perspektif teologi tidak terjadi atas prakarsa manusia, tetapi atas dasar wahyu dari atas. Tanpa inisiatif Tuhan melalui wahyu-Nya, manusia tidak mampu menjadi makhluk religius yang beriman dan beribadah kepada Tuhan. Jadi berbicara soal agama dalam perspektif teologi harus dimulai dengan wahyu Allah atau penyataan yang Allah berikan kepada manusia.


Agama dalam Perspektif Sosiologi

Sosiologi mempelajari masyarakat umum secara sosiologis, namun dalam ilmu sosiologi terdapat cabang ilmu yang mempelajari secara khusus masyarakat beragama, yang di kenal sebagai ilmu Sosiologi Agama. Objek dari penelitian sosiologi agama adalah masyarakat beragama yang memiliki kelompok-kelompok keagamaan. Seperti misalnya, kelompok Kristen, Islam, Budha dll. Sosiologi agama memang tidak mempelajari ajaran-ajaran moral, doktrin, wahyu dari agama-agama itu, tetapi hanya mempelajari fenomena-fenomena yang muncul dari masyarakat yang beragama tersebut. Namun demikian, ajaran-ajaran moral, doktrin, wahyu dapat dipandang sebagai variabel-variabel yang mempengaruhi fenomena-fenomena yang muncul tersebut.

Atas dasar itu kita juga dapat berbicara tentang wahyu sebagai variabel dari masyarakat yang beragama, meskipun bukan itu yang menjadi titik tolaknya. Lain halnya dengan perspektif teologi, jika dipandang dari sosiologi, agama tidak dilihat berdasarkan wahyu yang datang dari atas, tetapi dilihat atas dasar pengalaman konkrit pada masa kini maupun pada masa lampau. Jadi apa itu agama didasarkan pada pengalaman manusia.
Manusia dalam hidupnya senantiasa bergumul dengan ketidakpastian akan hari esok, keberuntungan, kesehatan dsb. Manusia juga bergumul dengan ketidakmampuannya yaitu untuk mencapai apa yang diharapkan, baik yang bersifat sehari-hari maupun yang ideal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan manusia. ketidakmampuan ini terus dialami baik oleh manusia primitif maupun modern. Misalnya, mengapa manusia harus mati, bagaimana menghindari kematian, bagaimana menghindari bencana alam dsb. Dalam ketidakmampuan ini manusia mencari pertolongan, juga kepada kekuatan-kekuatan yang ada di luar dunia, yang tidak kelihatan/supranatural.

Dalam pencarian tersebut manusia terus mengalami tahap perkembangan, yaitu mulai dari tahap anismisme, politeisme dan kemudian monoteisme. Pada tahap animisme manusia percaya bahwa semua benda memiliki jiwa atau roh yang dapat memberi pertolongan kepadanya. Sedangkan pada tahap politeisme yang dikenal sebagai tahap yang lebih tinggi dari tahap animisme, di mana manusia telah mengenal konsep-konsep tentang tuhan/dewa yang berada di luar sana. Namun tuhan/dewa tersebut banyak jumlahnya. Dan mereka mulai menyembah tuhan-tuhan mereka sesuai dengan apa yang mereka yakini mampu memberi pertolongan kepada mereka. Tahap terakhir adalah monoteisme sebagai tahap yang tertinggi. Pada tahap ini manusia memiliki konsep tentang tuhan/dewa yang esa, yang tidak terbagi-bagi dan merupakan sumber segala sesuatu yang mampu menolong dan menjawab segala keterbatasan-keterbatasannya.

Dalam mencapai hal tersebut di atas (kebahagiaan) manusia melakukan usaha non-religius selama manusia masih mampu meraih kebahagiaan. Namun, jika usaha ini gagal, maka manusia melakukan metode lain (animisme-politeisme-monoteisme), yaitu dengan kekuatan yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra, namun yang diyakini ada dan dapat membantunya. Bahkan keyakinan itu diwujudkan bukan saja pada saat dia mengalami ketidakmampuan tadi, tetapi juga terus berperan dalam seluruh hidupnya. Yaitu melalui tahap-tahap tadi. Dan inilah yang disebut agama dalam arti luas.

Jadi dalam perspektif sosiologi, sebenarnya agama adalah ciptaan manusia. Lebih jauh lagi sebetulnya manusia menciptakan Tuhan bagi kepentingannya sendiri, yaitu untuk mengatasi ketidakpastiannya, ketidakmampuannya dan keterbatasannya.

Refleksi

Dapat terbuka terhadap berbagai sudut pandang mengenai agama, merupakan modal awal menjadi makhluk religius yang budiman. Memiliki sikap seperti ini akan membawa kita terus bergerak progresif ke arah pemahaman yang lebih dalam mengenai agama, bahkan makna Tuhan itu sendiri. Sehingga kehidupan beragama kita senantiasa mencerahkan, serta mampu membawa kebaikan bagi sesama kita, baik yang beragama maupun yang tidak beragama sekalipun.

Tuesday, December 23, 2008

MENGAPA ADA PERSOALAN?

Mengapa ada persoalan? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, karena setiap manusia memiliki masalah yang berbeda-beda soal dan sebabnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan lagi, dari mana soal dan sebab yang berbeda-beda itu? Bagi orang tertentu, adanya persoalan mungkin karena uang, jabatan, atau pun harta, atau dengan kata lain karena adanya keinginan terhadap sesuatu (materi), tetapi bagi yang lain mungkin hal itu bukan persoalan. Apakah persoalan itu memang bersifat relatif atau subyektif?

Pembahasan berikut ini akan meninjau bagaimana persoalan itu ada. Ada tiga hal yang akan dibahas, yang sekiranya mendekati jawaban “mengapa ada persoalan?” : 1) materi; 2) manusia; 3) hukum alam (tentunya masih banyak faktor lainnya di samping ketiga faktor ini).


1. Materi
Salah satu sebab persoalan manusia adalah materi. Dalam kajian-kajian ilmu filsafat, materi bukan hanya dipandang sebagai harta benda atau yang berhubungan dengan kekayaan, tetapi juga segala sesuatu yang tidak bersifat rohani/roh, bukan hal yang abstrak. Semua hal yang nampak, yang kelihatan, yang berbentuk atau yang disebut sebagai bendawi bisa dikatakan sebagai materi.

Dalam ajaran filsafat Yunani manusia adalah makhluk dualisme yang terdiri dari roh/jiwa (dalam ilmu teologi ada teori yang mengatakan bahwa jiwa dan roh berbeda/terpisah) dan daging/materi. Materi dipandang rendah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan materi dapat membawa penderitan atau persoalan bagi manusia. Manusia dituntut untuk hidup asketis, hal ini kita kenal juga dalam surat-surat Paulus dalam menjawab pergumulan jemaat karena pengaruh dari filsafat Yunani tersebut (asketis). Tubuh manusia juga adalah materi (bagian terkecil dari tubuh kita adalah sel yang disusun oleh materi-materi yang lebih kecil kemudian membentuk jaringan – organ – system organ – organisme/individu), oleh karena itu segala keinginan-keinginan dari tubuh harus dimatikan dengan cara asketis yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan rohani.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa sebenarnya hidup manusia tidak bisa lepas dari materi, karena tubuh manusia sendiri disusun oleh materi. Setiap kegiatan yang manusia lakukan akan terjadi interaksi antar materi, dan interaksi yang menyimpang itulah yang disebut persoalan bagi manusia. Misalnya, seorang ibu sedang mengiris bawang di dapur (memasak). Ibu tersebut melakukan interaksi dengan materi, ia menggunakan pisau, talenan, mungkin juga meja, ia menginjak lantai didapur, semua yang ada di dapur mempengaruhi si ibu. Semua hal-hal yang ada di dapur (materi: pisau, telenan dsb.) dapat menimbulkan persoalan bagi si ibu, misalnya jari tangan si ibu terpotong ketika ia mengiris bawang. Demikian juga dengan tubuh kita, tubuh kita pun melakukan interaksi antar materi, misalnya dalam sistem organ : jantung; pembuluh darah; sel darah; paru-paru; O2 / udara; kulit; pori-pori kulit; ginjal; air dan semua yang menyusun tubuh kita rentan dengan interaksi dan berpotensi untuk menimbulkan persoalan, sebagai contoh jika interaksi jantung sebagai pemacu darah menjadi lemah/lambat (menyimpang) maka akan menimbulkan persoalan bagi bagian-bagian yang lainnya atau dengan kata lain dapat menimbulkan penyakit bagi kita.

2. Manusia

Jawaban yang kedua adalah manusia. Ulah manusia kerap kali mendatangkan persoalan baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri, hal ini tercermin dari bencana alam yang menimpa manusia itu sendiri, contoh sederhananya adalah bencana banjir atau longsor misalnya. Manusia memiliki potensi untuk tanpa perhitungan menebangi hutan sampai gundul, padahal hutan berfungsi untuk menyerap air hujan dan dapat menahan tanah agar tidak longsor. Kalau dilihat sepintas persoalan itu seolah-olah ditimbulkan oleh alam, tetapi sebenarnya hal itu juga adalah hasil ulah manusia itu sendiri.

Manusia pun bergumul dengan dirinya sendiri, karena manusia adalah makhluk yang berakal budi, berpikir dan berperasaan sehingga ia selalu mempertanyakan apa yang ia lihat, rasakan dan juga apa yang terjadi pada dirinya. Semakin ia mempertanyakan banyak hal, sebenarnya semakin banyak persoalan yang harus ia pecahkan, contohnya adalah seorang filosof. Bagi kebanyakan orang melihat seekor semut bukanlah persoalan, tetapi bagi seorang filosof hal itu bisa menjadi persoalan. Kalau begitu apakah hidup manusia itu adalah persoalan?
Dalam refleksi imannya, penulis suci Alkitab Kristen dalam Kejadian 3:6 mengatakan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa, manusia berada di dalam persoalan. Dosa adalah persoalan/masalah dan bukanlah hal yang keterlaluan jika kita katakan bahwa segala persoalan yang menimpa manusia berasal dari dirinya sendiri.

Jadi jelaslah jika persoalan itu datang dari manusia itu sendiri, jawaban untuk persoalan manusia adalah manusia itu sendiri. Kebahagiaan manusia berasal dari dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan Tuhannya dan yang terutama berdamai dengan orang lain.

3. Hukum Alam

Jawaban yang ketiga atas persoalan manusia adalah hukum alam. Jika manusia berlaku baik kepada alam maka alam pun akan berlaku ramah, sebaliknya jika manusia berlaku tidak baik terhadap alam maka alam pun tidak bersahabat lagi dengan manusia. Hukum alam akan mempengaruhi kehidupan manusia, dan sebaliknya setiap tindakan manusia terhadapnya akan mempengaruhi dirinya. Sehingga interaksi tersebut memungkinkan terjadinya persoalan. Mungkin akan lebih jelas jika kita melihat contoh-contoh berikut ini: a.) tanah longsor atau banjir bisa disebabkan oleh karena manusia memperlakukan alam dengan seenak hatinya, misalnya membuang sampah pada selokan-selokan atau di sungai; manusia menebang pohon/hutan dengan membabi buta, yang selain menyebabkan banjir dapat juga menyebabkan longsor; b.) Bencana yang terjadi seperti tsunami adalah hukum alam yang diluar kuasa manusia, dsb. Jadi hukum alam dapat menjadi persoalan karena ulah manusia dan tanpa ulah manusia.

RefleksiSikap yang bijak untuk menyikapi persoalan adalah dengan hidup bersamanya dan menghadapinya. Kita tidak bisa lepas dari persoalan, karena kita adalah makhluk yang mengada. Kita akan selalu bersentuhan dengan apa yang ada di sekitar kita, dan interaksi tersebut tidak dapat dihindari. Kemanapun kita melarikan diri dari persoalan, persoalan itu akan selalu ada bersama kita. Jadi hadapilah persoalan dengan segala yang kita miliki...selamat berjuang!!

Thursday, November 27, 2008

PEMIMPIN YANG MELAYANI

EKSEGESE BILANGAN 17:1-13

Dalam dunia tafsir, untuk mengambil kerugma/pesan dari teks kitab suci dapat dilakukan dengan dua pendekatan metode tafsir, yaitu pendekatan sinkronik (“bersamaan waktu”) dan pendekatan diakronik (“melintasi waktu”). Dalam pendekatan sinkronik, teks kitab suci dapat diumpamakan sebagai “cermin” di mana si penafsir melihat dirinya ada bersamaan dengan teks, sebagai mana ia bercermin. Sedangkan dalam pendekatan diakronik, si penafsir melalui teks melihat jauh ke belakang, kepada sejarah teks dan sejarah si penulisnya atau komunitasnya.[1]

Dalam pembahasan hermeneutika di bawah ini, penulis mencoba membahas kitab Bilangan 17:1-13 dengan pendekatan kritik sumber,[2] yang termasuk ke dalam pendekatan diakronik. Adapun kitab Bilangan adalah bagian dalam Pentateukh (Perjanjian Lama). Istilah “Bilangan” dalam terjemahan bahasa Indonesia sebenarnya diambil dari Vulgata. Dan Vulgata mengambil istilah ini dari Septuaginta, di mana para penerjemah Septuaginta memberi nama “Bilangan” karena daftar angka yang dicatat dalam kitab ini.[3]

Terjemahan Yang Dipakai[4]

17:1 TUHAN berfirman kepada Musa:
17:2 "Katakanlah kepada orang Israel dan suruhlah mereka memberikan kepadamu satu tongkat untuk setiap suku. Semua kepala suku mereka harus memberikannya, suku demi suku, seluruhnya dua belas tongkat. Lalu tuliskanlah nama setiap kepala suku pada tongkatnya.
17:3 Pada tongkat Lewi harus kautuliskan nama Harun. Bagi setiap kepala suku harus ada satu tongkat.
17:4 Kemudian haruslah kauletakkan semuanya itu di dalam Kemah Pertemuan[5] di hadapan tabut hukum,[6] tempat Aku biasa bertemu dengan kamu.
17:5 Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi."
17:6 Setelah Musa berbicara kepada orang Israel, maka semua pemimpin mereka memberikan kepadanya satu tongkat dari setiap pemimpin, menurut suku-suku mereka, dua belas tongkat, dan tongkat Harun ada di antara tongkat-tongkat itu.
17:7 Musa meletakkan tongkat-tongkat itu di hadapan TUHAN dalam kemah hukum Allah.
17:8 Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.
17:9 Kemudian Musa membawa semua tongkat itu keluar dari hadapan TUHAN kepada seluruh orang Israel; mereka melihatnya lalu mengambil tongkatnya masing-masing.
17:10 TUHAN berfirman kepada Musa: "Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati."
17:11 Dan Musa berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah diperbuatnya.
17:12 Tetapi orang Israel berkata kepada Musa: "Sesungguhnya kami akan mati, kami akan binasa, kami semuanya akan binasa.
17:13 Siapa pun juga yang mendekat ke Kemah Suci TUHAN, niscayalah ia akan mati. Haruskah kami habis binasa?"

Sumber Yang Digunakan
Jika diteliti melalui teori sumber, Bilangan 17:1-13 lebih cenderung kepada sumber Priester (P).[7] Dengan alasan sebagai berikut:
Ø Cara bercerita yang sistematis dengan urutan yang baik dalam hal ini ayat 1-13.
Ø Menekankan akan sesuatu yang terjadi hanya karena Firman Allah saja, dimana Musa hanya menuruti saja yang diperintahkan oleh Tuhan bahwa Firman Tuhan yang berkuasa memilih dan menjadikan semuanya.
Ø Menonjolkan peraturan-peraturan dalam hidup keagamaan bangsa Israel yaitu dengan pemilihan jabatan imam dalam kehidupan keagamaan Israel.
Meskipun ciri-ciri sumber P cukup dominan dalam perikop ini, namun ada ciri sumber lain di dalamnya, yaitu sumber Yahwist (Y). Dengan alasan sebagai berikut:
Ø Menggunakan nama TUHAN, misalnya dalam ayat 1, 7, 9, 10, 11, dan ayat 13.
Ø Tuhan digambarkan dekat dengan Musa: Tuhan berbicara langsung kepada Musa tanpa perantaraan seperti mimpi atau kilat misalnya.

Berdasarkan analisa di atas dapat disimpulkan bahwa Bilangan 17:1-13 dalam penulisannya memakai dua sumber, yaitu sumber P dan Sumber Y. Namun sungguh pun demikian, dalam bahasan berikut ini saya hanya akan menaruh perhatian pada konteks penulisan sumber P. Hal ini dikarenakan penulis sumber P adalah redaktur yang kemudian (atau yang terakhir).

Masa Penulisan, Konteks Keagamaan dan Keadaan Israel Pada Waktu Itu (sumber P).
Penulis Priester ini berasal dari Yehuda dan berkarya pada zaman pembuangan di Babel sekitar abad 5 SM[8]. Bilangan 17:1-13 sebagaimana disinggung di atas berasal dari sumber P. Ini berarti bahwa bangsa Israel berada dalam pembuangan di Babilonia dan pada masa itu juga Bait Allah yang di Yerusalem telah hancur sehingga situasi bangsa Israel pada saat itu mengalami keterpisahan dari kegiatan kultus di Bait Allah di Yerusalem. Keadaan tanpa bait Allah di Babilonia, kehidupan sinkretisme dalam agama dan bahaya akan pengaruh bangsa-bangsa kafir mengancam keberadaan umat Israel. Keadaan-keadaan seperti inilah yang mendorong kelompok Priester untuk menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya jangan hilang. Tujuan dari penulisan dari kelompok P ini adalah untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa merekalah bangsa kudus Allah, sehingga sangat menekankan akan kehidupan kultus dan semua yang berhubungan dengan imamat,[9] seperti pada Bilangan 17:1-13 ini. Karena melalui kehidupan kultus hubungan antara Allah dan umat-Nya akan tetap terpelihara dan terus diperbaiki.

Tafsiran
Ayat 1-5
Bagian ini merupakan penegasan kembali akan jabatan imam. Dalam pemilihan ini Tuhan menggunakan tongkat sebagai simbol dari suku-suku Israel.
Pada ayat ke-3 terlihat pengaruh sumber P, yang menekankan keimaman Harun. Ayat 4 juga memperkuat sumber ini, di mana Tuhan memerintahkan Musa untuk menaruh tongkat-tongkat yang telah terkumpul di Kemah Pertemuan. Ini berkaitan erat dengan masa penulisan P (pembuangan), yang pada saat itu Bait Suci telah hancur dan kehidupan keagamaan bangsa Israel kacau. Namun pada ayat ini ditekankan oleh penulis P pentingnya Kemah Pertemuan, sebagai sarana pertemuan yang kudus antara Allah dan Umat di mana Allah menyatakan kehendak-Nya dan kehadiran-Nya.

Ayat 6-9
Musa menyampaikan perintah Tuhan kepada umat sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan dan meletakkan tongkat-tongkat itu di kemah hukum Allah.
Allah menyatakan kehendak-Nya melalui tongkat Harun yang bertunas (ayat 8). Dengan cara demikian Allah memilih imam bagi Israel.

Ayat 10
Tuhan kembali berfirman kepada Musa, untuk mengembalikan tongkat Harun yang bertunas ke dalam tabut Hukum sebagai tanda bagi mereka yang meragukan Musa dan Harun sebagai orang pilihan Tuhan.

Ayat 11
Memperlihatkan kembali ketaatan Musa akan perintah Tuhan.

Ayat 12-13
Respon bangsa yang bersungut-sungut kepada Musa dan mereka menyadari akan kesalahannya.

Kesimpulan Tafsiran
Jika dilihat dari konteks masa penulisannya, Bilangan 17:1-13 mengindikasikan pergumulan si penulis (sumber P) dalam masa di pembuangan, di mana pusat ibadah (Bait Suci) telah hancur dan terjadi krisis kepemimpinan rohani bahkan terjadi sinkretisme agama. Melalui Bilangan 17:1-13 penulis P ingin menjawab pergumulan umat pada waktu itu yang membutuhkan pemimpin dan Bait Suci sebagai pusat ibadah umat Israel. Melalui tulisan ini kehidupan kultus, hubungan antara Allah dan umat-Nya diharapkan tetap terpelihara dan terus diperbaiki.

RefleksiPada masa sekarang, sulit mencari seorang pemimpin yang berintegritas, seperti Musa dan Harun misalnya. Di gereja yang dapat kita sebut sebagai wadah pembentukkan spiritualitas, banyak pemimpin/hamba Tuhan yang katanya dipilih oleh Tuhan kerap kali sikut-menyikut dan saling menjatuhkan. Hal ini terjadi hanya untuk memperebutkan jabatan kepemimpinan gerejawi yang bersifat organisasi. Apakah kehadiran seorang pemimpin hanya untuk itu? Tentu saja tidak! karena panggilan Tuhan tidak sebatas pada sebuah jabatan pendeta misalnya, penatua, ketua majelis atau ketua sinode.

Dalam Bilangan 17:1-13, meskipun Harun dipilih untuk jabatan keimaman dalam meredamkan perselisihan dan sungut-sungut umat, namun yang esensi dari panggilan Tuhan atas Harun atau orang-orang pilihan-Nya adalah untuk melayani dan bukan untuk jabatan. Sehingga sekalipun kita tidak memiliki status jabatan apapun di gereja, kita bisa tetap melayani dan memiliki integritas kepemimpinan.


[1] Untuk lebih jelasnya lihat blog Dr. Ioanes Rakhmat: ioanesrakhmat.blogspot.com, Pendekatan-Pendekatan Kritis Hermeneutik Kitab Suci, 19 Oktober 2008.
[2] Menurut para ahli, dalam Pentateukh ada 4 sumber yang menulis kitab-kitab tersebut. Yaitu, penulis sumber Y (Yahwe), penulis sumber E (Elohim), penulis sumber D (Deuteronomium) dan penulis sumber P (Imam). Prinsip kerja kritik sumber selalu bertolak dari pertanyaan-pertanyaan, seperti: a) apakah pada teks yang diteliti menunjuk adanya sumber? b) apa yang dikatakan sumber tersebut?
[3] Lasor, dkk., Pengantar Perjanjian Lama 1, (Jakarta: 1995 ), 232.
[4] Saya mengambil terjemahan dari Lembaga Alkitab Indonesia, namun terjemahan untuk kata lubet ab saya mengusulkan menjadi “kepala suku” bukan “pemimpin” hal ini dimaksudkan agar dapat membedakan antara Musa yang memimpin seluruh suku-suku Israel dengan kepala-kepala suku yang memimpin setiap suku.
[5] Sebagai sarana pertemuan yang kudus antara Allah dan umat, di mana Allah menyatakan kehendaknya atau yang melambangkan kehadiran Tuhan.
[6] Tempat menyimpan loh hukum (Taurat).
[7] Dr. J. Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: 2007), 58.
[8] Barnabas Ludji D.Th, Bahan Kuliah Kitab Taurat, (Cipanas: 2008), 5.
[9] Blommendaal, Ibid, 20.

Thursday, November 20, 2008

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN TEOLOGI REFORMATORIS PROTESTAN


Luther, Zwingli dan Calvin adalah tokoh-tokoh dalam reformasi gereja. Dikatakan sebagai tokoh reformasi, karena mereka mengkritik dan mereformasi ajaran Gereja Katolik Roma pada masa itu. Dikemudian hari, mereka juga menyebut gereja mereka “yang direformasikan”.[1] Antara aliran yang berkaitan erat dengan Martin Luther (1483-1546) di Wittenberg dengan aliran yang berkaitan erat dengan Ulrich Zwingli (1484-1531) di kota Zurich, Swis yang di dalamnya juga termasuk Johannes Calvin (1509-1564) terdapat banyak persamaan, namun ada juga perbedaan-perbedaanya. Berikut kita akan membahas persamaan-persamaan maupun perbedaan-perbedaan dari ketiga tokoh reformasi di atas.

Persamaan Teologi Luther, Zwingli dan Calvin
Martin Luther, Ulrich Zwingli dan Johannes Calvin merupakan tokoh-tokoh reformasi yang mengkritik gereja Kalolik Roma pada masa itu, di mana terjadi krisis kepausan pada akhir abad pertengahan, yang juga berkaitan dengan krisis rohani yang dialami oleh anggota-anggota gereja. Luther, Zwingli dan Calvin dalam teologinya berpandangan bahwa kebenaran ilahi harus dicari dalam Alkitab, bukan dalam ajaran gereja sebagaimana yang banyak dirumuskan oleh gereja Katolik Roma, dan bahwa keselamatan semata-mata hanya oleh anugerah Allah melalui Yesus Kristus yang mati di kayu salib, dibangkitkan, dan naik ke surga untuk menebus dosa-dosa manusia.

Baik Luther, Zwingli dan Calvin memahami bahwa pelayanan sakramen gereja tidak dapat menyelamatkan. Karena dalam teologi Luther, Zwingli dan Calvin hanya Alkitab yang merupakan sumber kebenaran ilahi. Maka pemberitaan firman (khotbah) menjadi titik sentral dalam ibadah, dibandingkan dengan sakramen yang dianggap sangat penting dalam Gereja Katolik Roma.

Perbedaan Teologi Luther, Zwingli dan Calvin
Perbedaan antara Teologi Luther, Zwingli dan Calvin lebih banyak dibandingkan dengan persamaannya, meskipun mereka sama-sama menolak ajaran dari gereja Katolik Roma. Salah satu dari perbedaan yang ada adalah pandangan mereka mengenai Perjamuan Kudus.

a. Martin Luther (1483-1546)
Teologi Luther dipengaruhi oleh Augustinus dan teologinya berkembang di sebuah universitas. Hal ini dapat kita lihat dari 97 dalil yang ia keluarkan untuk menentang gereja Katolik Roma mengenai “Surat Penghapusan Siksa” yang ia diskusikan di universitas. Dalam tulisannya ini, Luther memperlihatkan pengaruh Augustinus. Teologi Luther, umumnya teologi Reformasi, biasanya diringkaskan dengan tiga ungkapan dalam bahasa Latin: sola gratia, sola fide dan sola Scriptura.
Mengenai Kristologi:[2] pandangan Luther mengenai ajaran tentang Yesus bertolak dari kesatuan antara kemanusiaan dan keilahian Kristus, yang berarti bahwa bagi Luther kemanusiaan Kristus ditentukan oleh keilahian-Nya.

Baptisan:[3] Luther menekankan kembali hubungan yang erat antara Sakramen dan Firman Allah. Menenai baptisan, Luther berpandangan bahwa Baptisan Kudus merupakan tanda yang ditetapkan Allah untuk memeteraikan janji-Nya sebagai pengampunan dosa manusia. Namun, Luther tetap mempertahankan bahwa percaya akan janji Allah perlu, karena hanya dalam iman orang dapat menikmati pengampunan yang dijanjikan dalam baptisan. Luther menyetujui Baptisan Anak, dan ia berpandangan bahwa tidak perlu orang mempunyai iman yang matang untuk menerima baptisan, sebab bukan imanlah yang menjadikan baptisan efektif, melainkan janji Allah.

Perjamuan Kudus:[4] Luther menolak doktrin Katolik Roma mengenai transsubstansiasi[5], tetapi tetap percaya akan kehadiran yang nyata dari tubuh dan darah Kristus “di bawah” roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus. Luther lebih menonjolkan iman dalam Perjamuan Kudus. Bagi Luther Perjamuan Kudus adalah tanda nyata bahwa keselamatan yang dijanjikan dalam Firman mengenai penebusan dosa oleh Kristus pada kayu salib, benar-benar diberikan kepada orang yang menyerahkan diri dalam iman kepada Allah yang rahmani. Tanpa iman, Perjamuan Kudus menjadi tanda keselamatan yang tidak efektif.

Gereja dan negara:[6] Luther melihat hubungan antara gereja dan negara sangat mempengaruhi pemerintah dalam kehidupan gereja. Menurutnya sebaiknya raja diikutsertakan sebagai orang partikelir dalam pimpinan gereja demi mencegah bahaya timbulnya kasta iman tersendiri yang hierarkis. Jadi, baginya yang terpenting adalah sekali-kali bukanlah pengaturan hubungan antara gereja dan Negara.

b. Ulrich Zwingli (1484-1531)[7]
Zwingli pernah menjadi pastor Gereja Katolik Roma di Glarus. Ia adalah murid dari Erasmus, namun dalam pekerjaannya itu, ia lebih banyak dipengaruhi oleh Augustinus. Zwingli berpendapat bahwa suatu doktrin tidak boleh berlawanan dengan akal. Hal ini dapat kita bandingkan dengan teologi Luther yang kurang menekankan peranan akal dalam teologinya.

Baptisan: dalam salah satu karyanya, Zwingli menulis buku berjudul Baptisan, Baptisan Ulang dan Baptisan Anak. Di dalamnya ia membela dilakukannya baptisan anak, baginya baptisan anak merupakan tanda perjanjian, dan perjanjian meliputi seluruh keluarga bukan hanya oknum-oknum tertentu. Namun, meskipun ia mempertahankan baptisan anak, Zwingli (berlainan dengan Luther) menolak kepercayan Katolik Roma, bahwa baptisan, juga baptisan anak memberikan kelahiran baru dan pengampunan dosa. Ia berpendapat bahwa baptisan merupakan tanda luar dari iman kita. Lebih lanjut Zwingli berpandangan bahwa sakramen (baptisan) adalah tindakan simbolis, yang menunjuk kepada keselamatan yang diberikan Kristus dan yang dipakai oleh orang-orang percaya untuk memperingati dan untuk menyatakan iman mereka.

Mengenai Perjamuan Kudus: Zwingli menolak kehadiran yang nyata dari tubuh dan darah Kristus, ia menegaskan bahwa roti dan anggur hanya lambang dari tubuh dan darah Kristus. Bagi Zwingli Perjamuan Kudus merupakan peringatan pengucapan syukur, pada waktu mana kita memperingati karya Kristus di kayu salib. Ia juga berpendapat, bahwa “tubuh” dan “darah” adalah lambang untuk keselamatan yang diperoleh Kristus dengan tubuh dan darah-Nya di kayu salib.[8]
Gereja dan negara: Zwingli tidak begitu menaruh perhatian yang khusus pada peranan negara dalam gereja sebagaimana pandangan Luther. Ketika ia diangkat menjadi imam di wilayah Glarus tahun 1516, ia menentang praktek perdagangan tentara bayaran yang dilakukan pemerintah Swis. Menurutnya praktek-praktek ini tidak bermoral dan Zwingli mengkritik hal ini dengan khotbah-khotbah yang ia utarakan.

c. Johannes Calvin (1509-1564)[9]
sebelum mengikuti studi teologi, Calvin sempat belajar di universitas di Paris, fakultas hukum. Calvin mengagumi Erasmus dengan Humanismenya, bahkan Calvin pernah menghasilkan karya ilmiah Humanisme pada tahun 1532.[10]

Mengenai Kristologi: pandangan Calvin mengenai ajaran tentang Kristus bertolak dari perbedaan antara tabiat ilahi dan tabiat manusiawi dalam diri Kristus dan menekankan bahwa walaupun dalam Kristus ke-allah-an berdiam secara penuh, itu tidak berarti bahwa keilahian-Nya terbatas pada Yesus sebagai manusia.

Baptisan: Calvin melihat baptisan sebagai tanda pengampunan dosa dan kelahiran baru. Pengampunan ini diberikan Allah kepada manusia sebelum ia lahir, sehingga tidak dapat diikat pada pelayanan baptisan. Lebih lanjut baptisan menurut Calvin menandai bahwa orang percaya ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan bahwa orang percaya menjadi satu dengan Kristus. Konsekuensi dari ikatan baptisan dengan keanggotaan gereja bagi Calvin adalah bahwa pelayanan baptisan harus terjadi di dalam kebaktian jemaat, oleh pejabat yang ditentukan oleh gereja, yaitu Pendeta.

Perjamuan Kudus: Calvin berpandangan, bahwa Perjamuan Kudus adalah tanda, tetapi bukan tanda kosong, sebab tanda ini diberikan Allah melalui Anak-Nya, supaya orang percaya melalui roti dan anggur betul-betul dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Dalam Perjamuan Kudus, Kristus betul-betul hadir untuk menjadi satu dengan orang-orang percaya, dan menguatkan iman mereka. Kristus membuat makanan jasmani menjadi rohani, sehingga orang-orang yang ikut dalam Perjamuan Kudus menerima apa yang telah diterima Kristus pada kayu salib, yakni pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

Gereja dan negara: Calvin berpendapat bahwa negara perlu selama gereja masih berada di dunia ini, itu tidak berarti bahwa ia menyerahkan segala-galanya kepada pemerintah. Dengan tegas ia menetapkan batas antara gereja dan negara, atau dengan istilah lain, antara pemerintahan rohani dan duniawi/politik. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah berasal dari Allah, tetapi pemerintahan rohani yang diselenggarakan oleh gereja, membina manusia supaya memperoleh keselamatan abadi, sedangkan pemerintahan sipil, yang ditangani oleh negara, membina kehidupan bersama di dunia ini.

Refleksi
Pengaruh yang diberikan oleh Martin Luther, Ulrich Zwingli dan Johannes Calvin sampai saat ini begitu terasa, khususnya dalam kehidupan gereja-gereja di Indonesia. Meskipun ketiga tokoh tersebut memiliki banyak perbedaan dalam mereformasi gereja, namun mereka memiliki dasar yang sama, yaitu bahwa kebenaran ilahi harus di cari dalam Alkitab.

Mengingat saat ini gereja telah melebur ke dalam pengaruh tradisi atau pandangan Lutheran dan Calvin (tanpa mengkritisi ulang konteks atau latar belakang atau situasi pada saat itu, yang membentuk pandangan para reformator: kebenaran hanya diperoleh dari Alkitab), kita juga perlu bersikap kritis. Apakah kebenaran ilahi hanya dapat di cari lewat Alkitab saja? Atau ada kebenaran-kebenaran ilahi yang lain di luar Alkitab?

Dengan menggumuli pertanyaan-pertanyaan tersebut, diharapkan kita tidak terjebak dalam sikap merasa diri paling unggul (triumfalistik), yang cenderung menghakimi.


[1] Dr. Christiaan de Jonge, Gereja Mencari Jawab, (Jakarta:1994), hal. 22.
[2] Christiaan de Jonge, Apa Itu CALVINISME? (Jakarta:1998), 52.
[3] Ibid, 191.
[4] Ibid, 217.
[5] Dalam transubstansiasi, roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus benar-benar berubah menjadi darah dan daging Kristus.
[6] Dr. W.J. Kooiman, Martin Luther, (Jakarta:2001), 160-161.
[7] Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta:1990), 142-144.
[8] de Jonge, op.cit., Calvinisme, 218.
[9] de Jonge, op.cit., Calvinisme, 53-235.
[10] Lane, op.cit., 147.

sumber gambar: http://www.calvin500.com/wp-content/uploads/2009/04/john-calvin-79.jpg

Wednesday, November 19, 2008

PERANG SALIB


Perang Salib merupakan salah satu pokok bahasan yang cukup penting dalam sejarah gereja. Namun para pakar sejarah gereja khususnya di Indonesia kurang menaruh perhatian yang khusus dalam bahasan yang tersendiri. Dalam tulisan ini saya mencoba mengkaji akan pokok bahasan tersebut.

Bagian pertama tulisan ini akan diawali dengan latar belakang Perang Salib, yang kemudian disusul dengan pembahasan mengenai Perang Salib pertama sampai Perang Salib keempat, kemudian sejarah ringkas Perang Salib kelima sampai kesembilan. Mengenai dampak dari Perang Salib bagi daerah kekuasaan Islam maupun Eropa Barat menyusul dibagian berikutnya. Dan bagian yang terakhir ditutup dengan analisa dan refleksi.

Latar Belakang[1]
Pertemuan pertama bangsa Eropa dengan Islam terjadi akibat kebijakan-kebijakan negara muslim baru, yang terbentuk setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. pada tahun 632 M. Satu abad kemudian, orang-orang Islam telah berhasil menyeberangi barisan pegunungan di antara Prancis dan Spanyol dan menaklukan wilayah dari India utara hingga Prancis Selatan. Dua ratus tahun kemudian, perimbangan kekuasaan antara Eropa dengan dunia Islam berada di tangan kaum muslim. Namun pada abad ke-10 dan 11, perpecahan yang hebat terjadi di kalangan kaum muslim dengan pusatnya di Baghdad. Kondisi tersebut mengakibatkan munculnya kembali bangsa-bangsa Eropa di Mediterania timur dan menjadi awal kebangkitan kekuasaan Kristen di Spanyol.

Pada abad ini juga suku-suku Jerman telah mendirikan negara-negara yang kuat di Eropa untuk melawan kekuasaan Islam. Pembunuhan raja Aragon (Spanyol Utara) oleh seorang muslim pada tahun 1063 merupakan titik tolak peperangan mengusir orang Islam dari semenanjung Spanyol.[2] Dan hal ini menjadi awal terjadinya Perang Salib[3].

Pada dasarnya Perang Salib bukan merupakan perang agama atau dapat dikatakan agama bukan faktor utama di dalamnya. Perang Salib lebih dapat dipahami sebagai perang antara bangsa “perangi“ (Jerman) dengan bangsa Turki yang keduanya suka berperang. Namun di dalamnya bercampur faktor agama dan faktor lainnya. Di antaranya, Perang Salib diakibatkan oleh gangguan dari bangsa Turki kepada orang Kristen Eropa yang berziarah ke Yerusalem; faktor agama yang ada di dalamnya juga dapat kita lihat, misalnya dari pihak orang-orang Eropa Barat yang berpaling ke usaha yang pada hemat mereka jauh lebih mulia yaitu, pembebasan Tanah Suci, Palestina, dari kekuasaan orang-orang Islam.[4] Adapun periode Perang Salib dimulai pada tahun 1095 dan berakhir pada tahun 1270 dengan beberapa kali terjadi peperangan.[5]

Perang-Perang Salib

A. Perang Salib Pertama (1095-1146)[6]
Perang Salib pertama dimulai sekitar tahun 1095 dan dilancarkan oleh sejumlah pemimpin seperti, Raymond dari Toulouse, Bohemond dari Sisilia dan Godfrey dari Bouillon. Mereka berhasil dalam menaklukan ibu kota Saljuk di Iznik pada bulan Juni 1097, dan membuat pasukan Saljuk di bawah pimpinan Sultan Qilij Arslan mengalami kekalahan besar-besaran dalam pertempuran Dorylaeum pada Juli di tahun yang sama. Kemudian pada bulan Oktober, setibanya di Antiokhia Tentara Salib mengepung kota itu. Antiokhia jatuh ke tangan Tentara Salib pada bulan Juni 1098. Dan di tahun berikutnya diresmikan menjadi Kerajaan Antiokhia di bawah pimpinan penguasa Norman, Behemond dari Sisilia.

Sasaraan utama, yaitu Yerusalem direbut pada tanggal 15 Juli 1099 dan Godfrey dari Bouillon menjadi penguasa pertama di tempat itu. Negara Tentara Salib terakhir, wilayah Tripoli, didirikan setelah kota itu direbut pasukan kaum Frank pada tahun 1099. Dengan demikian empat kerajaan Tentara Salib telah didirikan di wilayah Timur Dekat, yaitu Yerusalem, Edessa, Antiokhia dan Tripoli. Meskipun dalam Perang Salib Pertama, Tentara Salib mengalami kemenangan, namun Tentara Salib tidak berhasil menaklukan salah satu dari kota utama, yaitu Aleppo dan Damaskus.

B. Perang Salib Kedua (1147-1187)[7]
Dalam fase kebangkitan kaum muslim berikutnya, Nuruddin seorang tokoh muslim menggabungkan politik senjata yang kuat dengan propaganda agama yang sangat lihai. Dalam konteks ambisi pribadi dan agamanya, Nuruddin perlahan-lahan menyatukan Mesir dan Suriah dan mengepung negara-negara kaum Frank yang dimulai dari Antiokhia.

Takluknya Edessa dan rentannya Antiokhia terhadap serangan tentara muslim telah memicu seruan dan pengiriman Tentara Perang Salib Kedua pada tahun 1147-1148 di bawah komando Conrad III, kaisar Jerman, dan Louis VII, raja Prancis. Perang Salib Kedua diarahkan ke Damaskus yang pada waktu itu berada di bawah pimpinan gubernur kota Unur. Tentara Salib dalam penyerangannya tersebut telah bergabung dengan Tentara Salib di Yerusalem, namun penyerangan ini mengalami kegagalan. Kota Edessa tidak berhasil direbut kembali.

Kota Damaskus pada akhirnya jatuh ke tangan Nuruddin dan ia mengangkat dirinya sebagai penguasa kaum muslim tertinggi di Suriah. Nuruddin telah meletakkan fondasi penyatuan kaum muslim dan menegaskan legitimasi yang bermazhab Sunni. Setelah Nuruddin wafat, Saladin menggantikan peran Nuruddin. Pada tahun 1187, Saladin memerangi Tentara Salib yang dipimpin oleh raja Guy dari Lesignan. Pertempuran ini dikenal sebagai pertempuran besar Hattin. Dalam Pertempuran ini Saladin meraih kemenangan besar atas mereka. Kemenangan Saladin mencapai puncaknya ketika dia berhasil merebut kembali Yerusalem pada tanggal 2 Oktober 1187. Dan pada akhir tahun 1187, hanya sebagian kecil kerajaan Latin Yerusalem yang belum dikuasainya.

C. Perang Salib Ketiga (1191-1192)[8]
Kekalahan Tentara Salib pada pertempuran Hattin dan penaklukan Yerusalem oleh Saladin, menyulut kembali Perang Salib berikutnya. Tiga raja paling kuat dari kaum Eropa Barat, Frederick Barbarosa dari kekaisaran Romawi Suci, Philip dari Prancis dan Richard si Hati Singa dari Inggris, melancarkan Perang Salib Ketiga. Perang ini dimulai dengan serangan Tentara Salib ke Acre yang akhirnya berhasil dikuasai Tentara Salib pada tahun 1191. Meskipun Tentara Salib meraih kemenangan dan beberapa kemenangan lainnya atas Saladin, namun Perang Salib Ketiga berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1192, dengan kesepakatan bahwa kaum Frank akan menguasai sebagian besar wilayah laut, sementara Yerusalem tetap berada dalam kekuasaan kaum muslim.

D. Perang Salib Keempat (1202-1204)[9]
Mulai tahun 1193 dan seterusnya, para Tentara Salib lebih banyak mencurahkan perhatian mereka untuk menyerang Mesir, dengan keyakinan bahwa negeri itu merupakan kunci untuk merebut kembali Yerusalem. Dalam Perang Salib Keempat yang dimulai tahun 1202, Mesir menjadi target utama peperangan untuk direbut. Adapun dalam Perang Salib Keempat, pasukan Tentara Salib dipimpin oleh Boniface de Montferrat dan Baldwin IX dari Flanders. Namun, dalam perang ini Tentara Salib tidak memerangi umat Islam, dan berakhir dengan penaklukan Konstantinopel pada bulan April 1204 yang kemudian didirikan kerajaan latin Konstantinopel (1204-1261).

E. Sejarah Singkat Perang Salib Kelima Sampai Kesembilan (1212-1270)[10]
Perang Salib yang kelima dilancarkan pada tahun 1212, yang disebut dengan nama Perang Salib Anak-anak. Ribuan anak dari Jerman dan Prancis dikerahkan menjadi Tentara Salib. Banyak anak mati dalam perjalanan, diculik dan dijual. Dalam Perang Salib yang kelima ini Tentara Salib mengalami kegagalan.

Perang Salib Keenam dilancarkan untuk kembali menyerang Mesir sebagai pusat kekuasaan Islam pada tahun 1219. Dalam perang ini Yerusalem hampir direbut, namun karena datangnya bantuan dari kaisar Jerman, Frederick II, tertunda maka ekspedisi ini pun gagal.
Kaisar Frederick II kembali melancarkan Perang Salib yang ketujuh. Ia tiba di Yerusalem pada tahun 1228 dan mengadakan perjanjian dengan Al-Kamil, untuk mengembalikan milik orang Kristen. Frederick tinggal di Palestina selama 15 tahun dan mengangkat dirinya sebagai raja di Yerusalem sambil bersahabat dengan pihak Islam. Namun pada tahun 1244, Yerusalem jatuh lagi ke tangan Islam.

Paus Innocentius IV kembali melancarkan Perang Salib, yang merupakan Perang Salib Kedelapan. Perang ini dipimpin oleh Louis IX, raja Prancis. Pada tahun 1249 Damietta direbut. Akre dijadikan sebagai pusat pertahanan selama empat tahun. Oleh karena terjadi kekacauan di Prancis, Louis IX kembali ke Prancis pada tahun 1254.

Pada tahun 1268 Antiokhia jatuh dan Louis mencoba untuk menyerang Tunisia pada tahun 1270, namun ia jatuh sakit sehingga kembali ke Prancis. Ini merupakan Perang Salib yang kesembilan. Dan dengan demikian berakhirlah Perang Salib pada tahun 1270.

Dampak Perang Salib

A. Dampak Perang Salib Bagi Islam
[11]
Akibat Perang Salib terhadap hubungan Kristen-Islam pada umumnya sangat negatif. Pandangan orang Islam terhadap orang Kristen Barat sangat berbeda dengan pandangannya kepada orang Kristen Timur. Orang Kristen Timur dihormati sebagai orang-orang yang berkebudayaan tinggi, tetapi orang-orang Barat dianggap biadab. Di mata orang-orang Islam di Palestina orang-orang Kristen dari Barat adalah orang-orang yang kejam, yang hanya tahu membunuh dan merampok. Sejak zaman itulah agama Kristen dihubungkan dengan kekerasan. Sejak zaman itu juga kata “salib“ bagi orang yang berbahasa Arab menimbulkan emosi peperangan, karena pada masa Perang Salib kata itu dipakai sebagai sebutan seorang prajurit yang menyandang salib dan tidak lagi dikaitkan dengan salib Golgota.

Kesan yang ditimbulkan orang-orang Kristen pada zaman Perang Salib tidak pernah dilupakan. Akan tetapi bagi orang-orang Islam, khususnya yang di Timur Tengah yang mempunyai pandangan ala Timur (sejarah adalah warisan masa lampau yang tetap aktual, sehingga tidak terlalu penting kapan sesuatu terjadi pada zaman dahulu), zaman itu bukan zaman yang telah lewat, melainkan masa ngeri yang selalu dapat muncul kembali. Sekaligus rasa ngeri ini menjadi dorongan untuk melancarkan serangan balasan, yakni perang sabil (suci) yang dilakukan oleh orang-orang Turki Otoman untuk menyerbu daerah dar al-harb, daerah perang, untuk menjadikan dar al-Islam.

B. Dampak Perang Salib Bagi Eropa Barat (Kristen)[12]

Politik dan Militer
- Ksatria-ksatria belajar dari musuh mereka bagaimana berperang dan banyak hal yang berhubungan dengan ilmu perang dibawa ke Eropa Barat.
- Usaha Perang Salib meningkatkan prestise raja-raja di Eropa. Dahulu mereka tidak lebih dari bangsawan biasa yang selalu berperang sama seperti yang lainnya, namun Perang Salib menjadikan mereka pemimpin yang lebih berarti.

Ekonomi
- Pengaruh feodal di kota-kota berkurang sebab tuan-tuan feodal, kaum bangsawan sibuk berperang, sehingga tidak sempat menjalankan pemerintahannya di kota-kota itu.
- Perdagangan meningkat, kota-kota perdagangan seperti Venezia, di Prancis dan di tepi sungai Threin, berkembang dan kaum saudagar menjadi kelas masyarakat yang menentukan.

Kebudayaan
- Orang-orang Barat banyak menerima sesuatu yang baru dari orang-orang Timur. Orang-orang Arab menjadi guru filsafat bagi mereka.
- Pada umumnya cakrawala orang-orang Eropa menjadi luas, demikian juga pandangan mereka. Sastra propan berkembang dengan pesat, sebab ada begitu banyak pokok yang menarik untuk diceritakan tentang perbuatan-perbuatan para ksatria yang gagah berani, tetapi juga tentang dunia Timur yang ajaib.

Gereja
- Sebagai akibat Perang Salib, didirikan beberapa ordo rohani baru. Misalnya, ordo-ordo keksatrian rohani yang didirikan di Tanah Suci untuk melayani orang-orang yang menderita luka atau penyakit, dan untuk melindungi orang-orang yang berziarah dan mereka yang terlibat dalam Perang Salib; ordo Fransiskan dan khususnya ordo Dominikan, yang antara lain didirikan untuk melawan musuh Kristus dengan Firman.
- Akibat negatif bagi gereja adalah, senjata diterima sebagai alat untuk mempropagandakan iman dan memberantas orang-orang yang mempunyai ajaran yang berbeda dengan ajaran Katolik Roma, baik di luar Eropa (Islam) maupun di dalam Eropa (orang-orang Albigens, Waldens).

AnalisaBerdasarkan data-data sejarah di atas, terlihat bahwa Perang Salib terjadi beberapa kali dengan motif politik, mengarah pada perebutan daerah kekuasaan antara kedua belah pihak yang berperang (Eropa Barat dan kaum muslim). Meskipun ada motif yang berkaitan dengan agama di dalamnya mengenai Tanah Suci, namun dalam kenyataannya, dalam Perang Salib bukan hanya Yerusalem yang diperebutkan. Dalam Perang Salib Pertama misalnya, daerah Antiokhia, Edessa, Tripoli, Damaskus menjadi sasaran dalam peperangan. Atau kita juga dapat melihat adanya kesepakatan politik mengenai daerah kekuasaan antara kaum Frank dengan kaum muslim pada Perang Salib Ketiga.
Perang-perang Salib yang kurang lebih terjadi sebanyak sembilan kali peperangan hanya berkisar sekitar perebutan daerah kekuasaan, yang silih berganti antara orang-orang Eropa Barat dengan Tentara Salibnya dan kaum muslim. Meskipun tampak jelas bahwa Perang Salib bernuansa politik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa kedua belah pihak yang berperang mewakili dua wilayah di mana dua agama besar berkembang, yaitu Kristen (Barat) dan Islam (Timur). Apalagi tentara dari Barat menggunakan simbol salib pada lencana dan bendera yang mereka bawa dalam peperangan sehingga sangat berkesan bahwa peperangan tersebut terjadi atas nama agama.

Refleksi
Pada dasarnya, Perang Salib bukan merupakan perang agama, meskipun ada faktor agama di dalamnya. Hal ini dapat kita lihat melalui dampaknya, yang mencakup bidang politik-militer, ekonomi dan kebudayaan. Namun kelihatannya, peristiwa ini membawa luka-luka yang dalam, khususnya bagi kaum muslim di Timur Tengah yang mempunyai pandangan tentang sejarah ala Timur (bahwa sejarah adalah warisan masa lampau yang tetap aktual, sehingga tidak terlalu penting kapan sesuatu terjadi pada zaman dulu) zaman itu bukan zaman yang telah lewat, peristiwa itu bisa muncul kembali, dan sekaligus dapat menjadi dorongan untuk melancarkan serangan balasan. Karena itulah sampai saat ini, ketegangan-ketegangan antara Islam dan Kristen masih tetap ada. Yang perlu dilakukan adalah, keterbukaan di antara kedua belah pihak untuk melihat peristiwa Perang Salib dengan kacamata yang baru, bahwa agama bukanlah faktor utama di dalamnya.

[1] Carole Hillenbrand, Perang Salib, (Jakarta:2005), 20-21.
[2] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, (Jakarta:2006), 71.
[3] Istilah “Perang Salib” diambil dari tanda salib pada lencana dan bendera tentara Kristen
[4] Van Den End, Harta Dalam Bejana, (Jakarta:2005), 111.
[5] Dr. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta:2006), 350.
[6] Hillenbrand, Ibid, 27.
[7] Hillenbrand, Ibid, 30-32.
[8] Hillenbrand, Ibid, 32.
[9] Hillenbrand, Ibid, 33.
[10] Wellem, Ibid, 352-353.
[11] Dr. Th. van den End, Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam, (Jakarta: 2003), 80-82.
[12] End, Ibid, 83-86.